Jakarta -
Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS, Johan Rosihan, mengomentari matinya orang utan Kalimantan bernama Sempurna yang terdampak paparan asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Dia menyebut kasus itu menjadi peringatan keras dampak Karhutla.
"Kematian Sempurna merupakan peringatan keras bahwa dampak karhutla tidak hanya diukur dari luas lahan yang terbakar atau jumlah titik panas. Ada satwa dilindungi yang kehilangan habitat, sumber makanan, ruang hidup, bahkan nyawanya akibat asap dan kebakaran," kata Johan saat dihubungi, Sabtu (5/9/2026).
Johan mengapresiasi upaya BKSDA Kalimantan Barat bersama yayasan terkait yang sempat mengevakuasi dan memberikan pertolongan kepada Sempurna. Namun, dia mendorong agar pemerintah melakukan operasi darurat penyelamatan Satwa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kasus ini harus menjadi dasar bagi pemerintah untuk segera meningkatkan penanganan menjadi operasi darurat penyelamatan satwa. Kementerian Kehutanan perlu memetakan kantong-kantong habitat yang terdampak, mengerahkan tim medis dan penyelamat satwa, serta menyiapkan lokasi evakuasi dan rehabilitasi yang memadai," jelasnya.
Dia meminta pemadaman diprioritaskan pada kawasan yang berdekatan dengan habitat satwa dilindungi. Johan mendesak dilakukannya investigasi menyeluruh untuk mengetahui sumber dan penyebab kebakaran hingga berdampak luas.
"Satwa yang berhasil keluar dari lokasi kebakaran juga belum tentu selamat. Mereka dapat mengalami gangguan pernapasan, luka bakar, kekurangan pakan dan air, serta terdorong masuk ke kebun dan permukiman. Karena itu, pemerintah harus mencegah munculnya konflik baru antara manusia dan satwa," kata dia.
"Penegakan hukum tidak boleh berhenti pada siapa yang menyalakan api. Harus diperiksa pula ada atau tidaknya kelalaian dalam menjaga kawasan, menyediakan sarana pemadaman, dan melindungi habitat satwa. Jika ditemukan pelanggaran, pihak yang bertanggung jawab harus menanggung biaya penyelamatan satwa dan pemulihan ekosistem," imbuhnya.
Lebih lanjut, Johan meminta pemerintah melakukan pendataan terbuka mengenai jumlah satwa yang mati, sakit, dievakuasi, ataupun kehilangan habitat akibat karhutla. Dia menekankan kematian Sempurna menjadi alarm bahaya karhutla.
"Sempurna bukan sekadar satu ekor orang utan yang mati. Peristiwa ini menggambarkan betapa mahalnya harga ekologis yang harus dibayar ketika pencegahan karhutla terlambat. Saya mendesak pemerintah mempercepat pemadaman, penyelamatan satwa, investigasi penyebab kebakaran, serta pemulihan habitat secara terpadu. Jangan menunggu lebih banyak satwa menjadi korban," pungkasnya.
(wnv/idn)

















































