NU Dorong 1 Syawal 1447 H Ditetapkan 21 Maret Jika Hilal Tak Terlihat

10 hours ago 4
Jakarta -

Wakil Sekretaris Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Muh Ma'rufin Sudibyo berharap Pemerintah tetap mengikuti kriteria Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) untuk penetapan 1 Syawal 1447 H. Ma'rufin mengatakan kriteria MABIMS merupakan kesepakatan bersama di tingkat Asia Tenggara.

"Nahdlatul Ulama mengharapkan pemerintah, Menteri Agama Republik Indonesia untuk tetap konsisten dengan kriteria MABIMS. Karena ini merupakan produk kesepakatan bersama di tingkat Asia Tenggara yang telah diperjuangkan demikian lama, kalau dalam sejarah itu sampai dari mulai tahun 2012 sampai sekarang," kata Muh Ma'rufin Sudibyo dalam seminar yang merupakan acara untuk mengawali sidang isbat di Kemenag, Jakarta Pusat, Kamis (19/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ma'rufin mengatakan pihaknya tetap menunggu keputusan sidang Isbat. Namun, jika hilal tak terlihat, Ma'rufin mendorong Pemerintah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu (21/3).

"Ini tetap kami secara etis menunggu keputusan isbat yang diselenggarakan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Kemudian apabila terdapat laporan terlihatnya hilal, kami akan menunggu argumen Pemerintah Republik Indonesia dalam sidang isbat sebelum menyatakan ikhbar," kata Ma'rufin.

"Apabila tidak terlihat hilal, kami akan mendorong supaya Ramadan istikmal, sehingga 1 Syawal itu bertepatan dengan Sabtu, 21 Maret 2026 yang dimulai dari malam Sabtu," imbuhnya.

Hasil Pantauan Tim Hisab Rukyat

Sebelumnya, Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama (Kemenag) melaporkan pemantauan posisi hilal pada sore ini untuk penetapan Idul Fitri 1 Syawal 1447 H atau Lebaran 2026. Secara hisab, hilal tak memenuhi kriteria Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) di wilayah Indonesia.

"Kita lihat. Gambarnya jelas, magenta semua, merah semua. Kalau tadi kurva tadi digabungkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak memenuhi kriteria awal bulan Qomariyah MABIMS, warnanya magenta," kata anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag, Cecep Nurwendaya, dalam seminar yang merupakan acara untuk mengawali sidang isbat di Kemenag, Jakarta Pusat, Kamis (19/3).

Cecep mengatakan posisi hilal di sebagian wilayah Provinsi Aceh telah memenuhi parameter tinggi hilal minimum 3 derajat pada kriteria MABIMS, namun tidak memenuhi parameter elongasi minimum 6,4 derajat. Padahal, kata Cecep, kriteria MABIMS mensyaratkan harus terpenuhi keduanya yakni tinggi hilal minimum dan elongasi.

"Sehingga tanggal 1 Syawal 1447 Hijriah secara hisab MABIMS jatuh bertepatan dengan hari Sabtu Pahing tanggal 21 Maret 2026 Masehi. Tingginya masuk tapi elongasinya tidak. Padahal MABIMS mensyaratkan dua-duanya harus memenuhi. Itu syaratnya wajib dua-duanya. Tidak pakai atau, dan," ujarnya.

Meski begitu, Cecep mengatakan hasil hisab itu normatif. Cecep mengatakan penetapan Syawal di Indonesia ditetapkan berdasarkan metode rukyah dan hisab.

"Ini hisab. Hisab itu informatif. Nanti kita akan mendengarkan hasil dari rukyah. Rukyah itu konfirmasi, rukyah itu verifikasinya. Karena kita tahu bahwa di Indonesia lazimnya penetapan awal bulan Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah ditetapkan berdasar metode rukyah dan hisab. Ya, jadi hisabnya sudah ada, rukyahnya kita tunggu," ujarnya.

Dia melanjutkan bahwa karena tak memenuhi kriteria, maka hilal tidak mungkin dirukyat. Sebab, posisinya di bawah kriteria.

"Secara teoritis diprediksi tidak mungkin dapat dirukyat karena posisinya berada di bawah kriteria visibilitas hilal pada saat matahari terbenam," ungkapnya.

Untuk diketahui, penentuan Idul Fitri baru akan dibahas pada sidang isbat yang akan digelar pada 18.00-18.45 WIB. Adapun pengumuman hasil sidang isbat baru akan resmi disampaikan pada pukul 19.25 WIB.

(mib/maa)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |