Ngeri! Menteri LH Ungkap Tanah di Demak Turun 10 Cm Setahun

7 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan kabar mengerikan. Ia menyebut hampir seluruh tanah pesisir mengalami penurunan tingkat kedalaman muka tanah. Seperti misalnya di Demak, Jawa Tengah, kata dia, mengalami penurunan hampir 10 cm dalam waktu 1 tahun.

"Sepertinya hampir di seluruh pesisir ya, dengan tingkat kedalaman penurunannya berbeda-beda. Seumpama di Demak, itu kemarin kita lihat hampir 10 cm dalam 1 tahun," kata Hanif saat ditemui di Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Tak hanya Demak, ia menyebut kondisi di Jakarta bahkan lebih mengkhawatirkan karena masifnya pengambilan air tanah. Untuk itu, ia menilai perlu adanya pembatasan pengambilan air tanah, dengan cara membangun sistem pengolahan air permukaan.

"Sejatinya memang air tanah di Jawa harus benar-benar dibatasi, atau kalau boleh dikatakan dikurangi habis, dan kita harus segera membangun air permukaan semacam yang sudah sering diomongin para teman-teman yang lain, kayak air mineral," ujarnya.

Kondisi genangan banjir di ruas jalan Karanganyar Demak, Rabu (20/3/2024). (Dok. Detikjateng/Dian Utoro Aji)Foto: Kondisi genangan banjir di ruas jalan Karanganyar Demak, Rabu (20/3/2024). (Dok. Detikjateng/Dian Utoro Aji)
Kondisi genangan banjir di ruas jalan Karanganyar Demak, Rabu (20/3/2024). (Dok. Detikjateng/Dian Utoro Aji)

Hanif mengatakan, air mineral sejatinya kini sudah tidak boleh berasal dari air tanah, harus berasal dari pengolahan air permukaan, karena itu merupakan simbol dari keberlanjutan.

"Pengelolaan air permukaan sebagai sumber air mineral, air kemasan, itu sebenarnya menjadi suatu simbol tentang berlangsungnya suatu kesinambungan," terang dia.

Ia menilai dampaknya akan cukup serius bila air mineral terus menerus diambil dari air tanah. Oleh karena itu, Hanif mengajak perusahaan air mineral kemasan dan/atau perusahaan yang melakukan pengeboran air cukup besar wajib mengkompensasi dengan merehabilitasi pemulihan sungai dan danau.

"Ini menjadi satu keniscayaan, karena kalau terus diproduksi airnya, digunakan, kita nggak tahu seberapa mampu kita akan bertahan. Secara umum daya dukung, daya tampung air tanah di kita sudah jauh berkurang. Jadi jauh melebihi kemampuan daya dukungnya," pungkasnya.

(wur)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |