Negara Muslim Ini Serang Raksasa Nuklir Asia, Serbu Situs Militer

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Taliban melancarkan serangan balasan besar-besaran terhadap posisi militer Pakistan di sepanjang perbatasan, Kamis (26/2/2026). Langkah ini diambil oleh Negara Muslim tersebut sebagai respons langsung atas serangan udara yang dilakukan Raksasa Nuklir Asia itu pekan lalu.

Kantor media korps militer Afghanistan di wilayah timur mengonfirmasi bahwa bentrokan senjata dalam skala besar telah meletus sejak Kamis malam. Serangan balasan ini difokuskan pada titik-titik pertahanan militer Pakistan yang berada di provinsi Nangarhar dan Paktia.

"Pertempuran sengit dimulai pada Kamis malam sebagai tanggapan atas serangan udara baru-baru ini yang dilakukan oleh pasukan Pakistan di provinsi Nangarhar dan Paktia," tulis pernyataan resmi kantor media militer Afghanistan di wilayah timur dikutip Al Jazeera.

Juru bicara pemerintah Taliban, Zabihullah Mujahid, menegaskan bahwa operasi militer ini merupakan jawaban atas tindakan provokatif yang terus dilakukan oleh pihak militer Pakistan. Pihaknya mengklaim serangan besar-besaran telah menyasar instalasi militer di sepanjang Garis Durand.

"Sebagai tanggapan atas provokasi dan pelanggaran berulang kali oleh lingkaran militer Pakistan, operasi ofensif skala besar telah diluncurkan terhadap posisi dan instalasi militer Pakistan di sepanjang Garis Durand," tegas Zabihullah Mujahid melalui unggahan di media sosial X.

Seorang sumber internal dari militer Afghanistan memberikan detail lebih lanjut mengenai dampak serangan terhadap pasukan Pakistan. Ia mengklaim pasukan Taliban berhasil melumpuhkan personel dan merebut sejumlah infrastruktur militer milik Raksasa Nuklir Asia tersebut dalam serangan kilat.

"Sepuluh tentara Pakistan tewas dan 13 pos terdepan berhasil direbut dalam serangan hari Kamis, yang dilakukan sebagai pembalasan atas serangan Pakistan di sepanjang perbatasan pada hari Minggu," ungkap sumber militer Afghanistan kepada Al Jazeera.

Pemerintah Pakistan segera memberikan tanggapan melalui Kementerian Informasi dan Penyiaran. Mereka mengklaim telah memberikan pukulan balik yang setimpal dan memberikan "hukuman" terhadap pasukan Taliban yang mencoba merangsek masuk ke wilayah mereka.

"Pasukan rezim Taliban sedang diberikan hukuman di sektor Chitral, Khyber, Mohmand, Kurram, dan Bajaur. Laporan awal mengonfirmasi jatuhnya korban jiwa yang besar di pihak Afghanistan dengan beberapa pos dan peralatan hancur," bunyi pernyataan resmi Kementerian Informasi Pakistan melalui media sosial X.

Juru bicara Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Mosharraf Zaidi, turut membantah klaim Negara Muslim tersebut mengenai jatuhnya pos-pos militer. Ia menegaskan bahwa militer Pakistan masih memegang kendali penuh di garis depan perbatasan.

"Tidak ada pos terdepan Pakistan yang direbut atau rusak, dan pasukan Pakistan telah menimbulkan kerugian besar di sepanjang perbatasan Pakistan-Afghanistan sebagai respons atas agresi Taliban yang tidak beralasan," kata Mosharraf Zaidi.

Analis senior dari Armed Conflict Location & Event Data (ACLED), Pearl Pandya, menilai bahwa perbatasan yang keropos menjadi celah bagi kelompok bersenjata untuk bergerak bebas. Hal ini diketahui memicu konflik antara Islamabad dan Kabul, di mana pihak Pakistan mengklaim Taliban membuka pintu Afghanistan sebagai pelarian para kelompok teror di wilayahnya

Pandya kemudian menyoroti sulitnya Taliban menindak kelompok teror Tehrik-e Taliban Pakistan (TTP) karena adanya keterikatan ideologis dan risiko politik. Hal ini membuka kesempatan kelompok itu untuk berkembang secara aman di Afghanistan.

"Taliban Afghanistan tampak enggan untuk secara serius menindak TTP, sebagian karena kedekatan sebelumnya antara kedua kelompok tersebut tetapi juga karena ketakutan akan pembelotan militan TTP ke saingan utamanya, Negara Islam Provinsi Khorasan," jelas Pearl Pandya.

Melihat tren kekerasan yang terus meningkat di awal tahun 2026 ini, Pandya memprediksi situasi di perbatasan kedua negara akan semakin sulit dikendalikan tanpa adanya langkah konkret dari Kabul.

"Dengan tidak adanya tindakan keras yang serius terhadap TTP oleh Afghanistan, eskalasi lebih lanjut tampaknya tidak dapat dihindari," pungkas Pandya.

(tps/tps)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |