7 Hari Drama AS-Iran di Selat Hormuz, Aksi Trump Bikin Semua Bingung

3 hours ago 2
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru yang sangat dinamis dan membingungkan dalam sepekan terakhir. Negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait blokade Selat Hormuz terus diwarnai oleh aksi saling serang, peluncuran operasi militer baru, hingga ancaman penghancuran total dari Presiden Donald Trump.

Mengutip laporan The Guardian, Jumat (8/5/2026), kondisi yang awalnya tampak tenang dengan gencatan senjata yang bertahan, mendadak berubah menjadi hiruk-pikuk setelah AS meluncurkan "Project Freedom". Proyek ini dirancang untuk memecah kebuntuan di Selat Hormuz yang selama ini dicekik oleh Iran, sementara AS sendiri membalas dengan memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.

Berikut adalah urutan peristiwa yang mengguncang pasar energi dunia tersebut:

Jumat, 1 Mei 2026

Bulan Mei dimulai dengan gencatan senjata yang masih bertahan saat tenggat waktu kekuasaan perang hampir habis. Seorang pejabat pemerintahan Trump menyatakan bahwa permusuhan AS terhadap Iran telah "dihentikan" dengan mengacu pada gencatan senjata yang ada.

Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran telah menyerahkan tawaran perdamaian baru kepada Pakistan untuk diteruskan ke Washington. Namun, Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap persyaratan kesepakatan yang tidak dirinci tersebut.

"Saat ini, kami sedang melakukan pembicaraan, namun mereka tidak kunjung mencapai kesepakatan," ucap Trump dalam sebuah pernyataan.

Di sisi lain, Pentagon mengumumkan rencana penarikan 5.000 tentara dari Jerman, sementara harga bahan bakar di seluruh AS melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Sabtu, 2 Mei 2026

Situasi di Selat Hormuz terpantau tenang, namun Trump melontarkan pernyataan kontroversial saat rapat umum di Florida. Ia menyebut Angkatan Laut AS bertindak "seperti bajak laut" saat menggambarkan operasi penyitaan kapal Iran baru-baru ini.

Trump membanggakan keberhasilan AS mengambil alih muatan minyak dari kapal tersebut sebagai bisnis yang sangat menguntungkan. Ia merinci bagaimana pasukan AS mendarat di atas kapal dan mengambil alih segalanya.

"Kami mendarat di atasnya dan kami mengambil alih kapal itu. Kami mengambil alih kargonya, mengambil alih minyaknya. Ini adalah bisnis yang sangat menguntungkan," tutur Trump.

Pada hari tersebut, harga minyak mentah jenis Brent diperdagangkan pada level US$110 per barel, turun dari posisi US$126 beberapa hari sebelumnya.

Minggu, 3 Mei 2026

Melihat negosiasi yang buntu, Trump mengumumkan peluncuran "Project Freedom". Proyek ini bertujuan untuk memandu kapal-kapal yang terdampar agar bisa keluar dari Selat Hormuz.

Komando Pusat AS (CENTCOM) memberikan klarifikasi bahwa peran militer AS adalah mengoordinasikan dan memandu kapal yang terjebak, bukan memberikan pengawalan menggunakan aset angkatan laut. Trump mengklaim perwakilannya sedang terlibat dalam diskusi yang "sangat positif" dengan Iran.

Namun, Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menanggapi proyek tersebut dengan peringatan keras. Ia menegaskan bahwa segala bentuk campur tangan AS akan dianggap sebagai pelanggaran serius.

"Setiap intervensi Amerika dalam proses sistem maritim Selat Hormuz yang baru akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata," tegas Azizi.

Senin, 4 Mei 2026

Operasi "Project Freedom" dimulai dengan awal yang menyeramkan. Militer AS melaporkan pasukannya telah menghancurkan enam kapal kecil Iran dan mencegat rudal jelajah serta drone, meskipun hal ini dibantah oleh Iran.

Uni Emirat Arab juga melaporkan kembali menjadi sasaran serangan rudal dan drone Iran setelah berminggu-minggu tenang. Trump yang geram langsung melontarkan ancaman pemusnahan jika Iran berani menyerang kapal AS yang mencoba membuka kembali selat tersebut.

"Pasukan Iran akan diledakkan dari muka bumi jika menyerang kapal-kapal AS," ancam Trump.

Akibat ketegangan ini, harga minyak Brent kembali merangkak naik ke level US$114 per barel.

Selasa, 5 Mei 2026

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan bahwa AS telah berhasil mengamankan jalur melalui selat tersebut. Ia mengejek Iran dengan menyebut mereka tidak lagi mengendalikan wilayah perairan itu.

"Kami tahu orang-orang Iran malu dengan fakta ini. Mereka bilang mereka mengendalikan selat itu. Mereka tidak melakukannya," kata Hegseth.

Namun, beberapa jam kemudian, Trump secara mengejutkan mengumumkan bahwa "Project Freedom" dihentikan sementara hanya sehari setelah dimulai. Ia beralasan penghentian ini untuk memberikan ruang bagi negosiasi perdamaian setelah adanya kemajuan besar.

Trump menuliskan di akun media sosialnya bahwa rencana tersebut dibekukan untuk waktu singkat demi mencapai kesepakatan akhir. Setelah pengumuman ini, harga minyak turun ke level US$109.

Rabu, 6 Mei 2026

Harapan perdamaian muncul setelah laporan menyebutkan Washington dan Teheran hampir menyepakati memorandum kesepahaman satu halaman untuk mengakhiri perang. Trump memberikan peringatan melalui Truth Social bahwa jika Iran tidak setuju, pengeboman akan dimulai kembali dengan intensitas yang jauh lebih tinggi.

Trump menyatakan bahwa operasi "Epic Fury" yang legendaris akan berakhir jika Iran memenuhi kesepakatan. Namun, jika kesepakatan gagal, ia memastikan kehancuran yang lebih besar bagi Teheran.

"Jika mereka tidak setuju, pengeboman dimulai, dan sayangnya, itu akan berada pada level dan intensitas yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya," tulis Trump.

Tak lama setelah itu, militer AS menembaki sebuah kapal tanker minyak berbendera Iran. Negosiator senior Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menanggapi dengan penuh tantangan melalui Telegram. Harga minyak Brent sempat turun di bawah US$100 sebelum menetap di US$ 101.

Kamis, 7 Mei 2026

Penyebab mendadak berhentinya "Project Freedom" mulai terkuak. Arab Saudi dilaporkan sangat tidak senang dengan operasi AS tersebut hingga mengancam akan menutup pangkalan udara dan ruang udaranya bagi pesawat AS.

Trump dilaporkan gagal membujuk Putra Mahkota Mohammed bin Salman melalui panggilan telepon. Meski demikian, diplomat di Islamabad melaporkan bahwa kedua belah pihak kini lebih terbuka terhadap saran dan jarak antara proposal mereka semakin berkurang.

Namun, situasi di lapangan kembali memanas saat pasukan AS dan Iran saling tembak di selat tersebut. Militer AS mencegat serangan Iran terhadap tiga kapal perusak, sementara media Iran melaporkan suara ledakan keras di Teheran bagian barat.

Dalam wawancara dengan ABC News, Trump bersikeras bahwa gencatan senjata masih berlaku dan meremehkan bentrokan tersebut. Ia menganggap baku tembak tersebut bukan sebagai perang besar.

"Gencatan senjata tetap berlaku. Bentrokan itu hanyalah sebuah 'tepukan sayang'," ucap Trump santai.

Setelah serangan tersebut, harga minyak Brent tertahan di atas level US$101 per barel.

(tps/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |