'Muka Miskin' Bisa Bikin Susah Dapat Kerja, Peneliti Ungkap Faktanya

3 hours ago 3
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Selama ini, banyak orang menilai kekayaan hanya dari penampilan luar seperti kepemilikan mobil mewah atau pakaian bermerek. Namun, riset terbaru mengungkapkan kondisi finansial seseorang ternyata bisa terbaca langsung dari fitur wajah.

Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology tersebut menemukan bahwa status sosial ekonomi seseorang tercermin pada wajah, bahkan saat mereka tidak menunjukkan ekspresi apa pun atau dalam kondisi netral.

Jejak Emosi di Otot Wajah

Peneliti R-Thora Bjornsdottir menjelaskan perbedaan kelas sosial dapat terbaca karena ekspresi yang dialami seseorang sepanjang hidupnya akan membentuk otot wajah secara permanen.

Individu dengan kondisi finansial yang stabil umumnya memiliki tingkat stres yang lebih rendah, sehingga hal tersebut tercermin dalam pola otot wajah yang lebih tenang atau tampak bahagia yang terbentuk secara halus dari waktu ke waktu. Sebaliknya, mereka yang harus terus-menerus berjuang memenuhi kebutuhan hidup cenderung menyimpan ketegangan emosional yang meninggalkan jejak pada struktur wajah.

Tingkat Akurasi 68 Persen

Dalam penelitian tersebut, para ahli menggunakan 160 foto hitam-putih dengan ekspresi netral. Saat foto-foto itu ditunjukkan kepada responden untuk ditebak status sosialnya, sebanyak 68 persen tebakan responden tepat sasaran, yang mana angka ini jauh lebih tinggi daripada sekadar faktor kebetulan.

Menariknya, responden tetap mampu menebak dengan akurat meskipun hanya diperlihatkan bagian mata atau mulut saja.

Muka Miskin Lebih Susah Dapat Kerja?

Nicholas O. Rule, peneliti lainnya dalam studi ini, menjelaskan bahwa wajah manusia menyimpan pola emosi yang terbentuk sepanjang hidup, di mana kontraksi otot tertentu yang sering terjadi karena stres atau kebahagiaan yang berulang dapat membentuk garis dan struktur halus pada wajah.

"Persepsi kelas sosial berbasis wajah mungkin memiliki konsekuensi hilir yang penting. Orang-orang berbicara tentang siklus kemiskinan dan ini berpotensi menjadi salah satu penyebabnya," kata Rule.

Namun, ia juga memperingatkan adanya konsekuensi negatif dari fenomena tersebut karena persepsi berbasis wajah ini berpotensi menjadi salah satu kontributor siklus kemiskinan.

Hal ini dikarenakan orang yang memiliki "wajah kaya" secara statistik sering kali mendapat perlakuan yang lebih baik atau peluang yang lebih besar dalam interaksi sosial dan profesional dibandingkan mereka yang tampak kesulitan secara finansial.

Sebaliknya, orang dengan "wajah miskin" jarang mendapat perlakuan istimewa. Misalnya, saat melamar kerja, bisa saja orang dengan "wajah miskin" dikalahkan orang "wajah kaya", meskipun kemampuannya setara.

"Persepsi berbasis wajah tentang kelas sosial mungkin memiliki konsekuensi yang penting. Kita tahu ada yang disebut siklus kemiskinan dan ini berpotensi menjadi salah satu kontributornya," kata Rule.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |