Zhafa Yuda Rehema, CNBC Indonesia
12 August 2026 20:01
Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia mulai menggenjot pengiriman minyak mentah ke Asia melalui Jalur Laut Utara (Northern Sea Route/NSR). Sebaliknya, jalur selat Hormuz makin sepi.
Tahun ini, sedikitnya tujuh kapal tanker yang membawa sekitar 6 juta barel minyak mentah telah berlayar menuju Asia.
NSR menghubungkan pelabuhan Rusia di bagian barat dengan pasar Asia melalui perairan Arktik. Jalur ini biasanya hanya dapat dilalui pada musim panas, sekitar 1 Juli hingga 1 Oktober.
Namun, konflik geopolitik membuat jalur tersebut semakin strategis. Rusia dapat mengirim minyak ke China dan pasar Asia lainnya tanpa melewati jalur yang berisiko menghadapi pemeriksaan, penahanan, maupun pembatasan dari otoritas Eropa terkait sanksi perang Ukraina.
Volume minyak yang dikirim melalui NSR tahun ini sudah mencapai sekitar 850.000 ton, hampir setengah dari total sekitar 13 juta barel yang dikirim sepanjang musim pelayaran tahun lalu. Padahal, pengiriman minyak Rusia melalui jalur Arktik turun 4% pada 2025.
China menjadi tujuan utama minyak Rusia melalui NSR. Pembelian China berpotensi meningkat jika gangguan pasokan minyak Timur Tengah akibat konflik Iran terus berlangsung.
NSR dapat memangkas waktu perjalanan menuju Negara Asia seperti China, hanya dengan sekitar dua minggu dibandingkan rute internasional melalui Terusan Suez. Kondisi es yang relatif ringan tahun ini juga membuat navigasi lebih mudah, sehingga pengiriman minyak melalui Arktik menjadi lebih efisien.
"Kondisi es tahun ini relative ringan, sehingga memudahkan navigasi, sementara masalah logistik di selat Hormuz dan laut Hitam mendukung pengiriman minyak mentah ke Rusia ke China melalui Arktik." Kata seorang trader yang terlibat dalam pengiriman melalui NSR, dikutip dari Reuters.
Pelaku pasar memperkirakan pengiriman minyak Rusia melalui NSR tahun ini akan lebih tinggi dibandingkan 2025, didorong pertimbangan ekonomi dan geopolitik.
China menjadi salah satu penerima manfaat terbesar karena pelabuhannya lebih dekat dengan terminal ekspor Rusia di Timur Jauh dibandingkan pembeli minyak utama Asia lainnya.
Pembeli minyak Rusia Foto: Statistica
Saat ini, tujuh tanker yang menuju Asia melalui NSR terdiri dari enam kapal Aframax berkapasitas sekitar 750.000 barel dan satu Suezmax berkapasitas sekitar 1 juta barel. Tiga kapal berbendera Rusia, sementara lainnya berbendera Oman dan Kamerun.
Pengiriman melalui jalur Arktik berpotensi semakin besar setelah fase pertama proyek raksasa Vostok Oil milik Rosneft dijadwalkan beroperasi pada September.
Proyek tersebut diperkirakan dapat menambah volume minyak yang dikirim melalui NSR. Namun, besaran minyak Vostok Oil yang akan diekspor tahun ini masih belum diketahui.
Semakin Banyak Kapal Hindari Selat Hormuz
Di saat Rusia memperbesar penggunaan jalur Arktik, lalu lintas kapal di Selat Hormuz justru anjlok.
Jumlah kapal yang terpantau melintas di jalur strategis tersebut turun menjadi hanya 8 kapal pada Selasa, terendah dalam sepekan. Pemilik kapal memilih menghindari Selat Hormuz di tengah konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.
Data Kpler menunjukkan angka tersebut jauh di bawah rata-rata 10 hari sekitar 12 kapal dan menjadi jumlah terendah sejak 5 Agustus.
Hanya satu kapal pengangkut batu bara yang keluar dari selat, sementara tujuh kapal lainnya masih dalam perjalanan. Seluruh tujuh kapal yang masuk tercatat memilih rute melalui wilayah Iran.
Jumlah kapal tanker lewati Selat Hormuz Foto: CNBC
Data LSEG mencatat 11 transit kapal pada Selasa, turun dari 14 kapal sehari sebelumnya.
Angka tersebut sangat jauh dibandingkan kondisi normal. Sebelum Iran menutup jalur tersebut setelah serangan AS-Israel dimulai pada 28 Februari, sekitar 130-140 kapal biasanya melintasi Selat Hormuz setiap hari.
Sementara Hormuz semakin sepi, lalu lintas kapal di Selat Bab al-Mandab, pintu masuk selatan Laut Merah, justru meningkat.
Kpler mencatat 30 kapal melintasi Bab al-Mandab pada Selasa, lebih tinggi dari rata-rata 10 hari sebanyak 25 kapal.
Perubahan ini menunjukkan peta jalur perdagangan energi global mulai bergeser akibat konflik. Ketika kapal semakin menghindari Selat Hormuz, Rusia justru memanfaatkan jalur Arktik sebagai alternatif untuk mempertahankan ekspor minyak ke Asia.
Jalur kapal di Bab al-Mandab, Arab Saudi. (Dok. Linkedin/The Maritime) Foto: Jalur kapal di Bab al-Mandab, Arab Saudi. (Dok. Linkedin/The Maritime)
Dengan kondisi es yang relatif bersahabat, waktu tempuh yang lebih singkat ke China, serta gangguan di Hormuz dan Laut Hitam, Jalur Laut Utara berpotensi berubah dari sekadar jalur musiman menjadi rute strategis baru bagi perdagangan energi Rusia.
(mae/mae)


















































