Menteri LH Ungkap Jenis Sayuran Ini Bisa Bikin Alam RI Rapuh

11 hours ago 10

Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas pertanian tidak selamanya menguntungkan. Ternyata ada beberapa tanaman terutama jenis sayuran yang sifatnya merusak lingkungan dan dampaknya berbahaya.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyebut jenis tanaman sayuran itu seperti umbi-umbian khususnya kentang yang merupakan tanaman negara subtropis.

"Dulu kita mungkin masih makan pakai kacang-kacangan, pakai sayur-sayuran, hari ini kita sudah mengenal yang namanya kentang dengan sangat masif. Kemudian kita kenal paprika, kol, kubis yang semua itu tanaman subtropis yang bukan dari Indonesia," ungkap Hanif di ESG Sustainability Forum 2026 dengan tema Akselerasi Agenda Hijau: Menjembatani Kepentingan Bisnis dan Keberlanjutan yang digelar di Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Hanif menegaskan dia bukan mengajak untuk anti makanan tersebut, tapi harus bijaksana dan harus dipertimbangkan. Menurut Hanif kentang itu berada di daerah subrtopis, pada saat tanaman tersebut ditanam di daerah subtropis tidak memerlukan permukaan atau areal yang tinggi, cukup di daerah standar.

Pedagang kentang di Pasar Induk Keramat Jati, Jakarta, Rabu, (2/2/2022) (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Foto: Pedagang kentang di Pasar Induk Keramat Jati, Jakarta, Rabu, (2/2/2022) (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Pedagang kentang di Pasar Induk Keramat Jati, Jakarta, Rabu, (2/2/2022) (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

"Tanaman itu kemudian dengan sangat antusias kita bawa ke Indonesia dan kita tanam masif. Bahkan konon beberapa instansi akan mengembangkan secara masif tanaman kentan, kubis, paprika," bebernya.

"Ini tanaman yang hanya hidup dengan baik pada ketinggian 800 meter di atas permukaan laut sampai 2.000 meter di atas permukaan laut," imbuhnya.

Apabila tanaman jenis ini ditanam dengan sangat masif dan makin mengikis kawasan dataran tinggi, maka ekosistem pohon besar sebagai penyangga akan menghilang. Ini bisa berbahaya karena muncul bencana ekologi serta bahaya longsor.

"Konstruksi ini yang kemudian kita harus hati-hati, alam kita tidak bisa bicara demikian. Pada ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut maka daerah tersebut akan menjadi hulu dari suatu das yang kemudian menjamin ekosistem di bawahnya," jelasnya.

(wur/wur)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |