Jakarta -
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup RI (KLH/BPLH) Moh Jumhur Hidayat menegaskan krisis lingkungan menuntut perubahan cara pandang dan perilaku manusia melalui tobat ekologis sebagai fondasi pemulihan lingkungan.
Tobat ekologis menjadi dasar gerakan penanaman 2 miliar pohon di Indonesia, dengan penguatan bambu sebagai solusi berbasis alam (nature-based solutions).
Dalam arahannya, Jumhur menegaskan berbagai tantangan lingkungan seperti perubahan iklim, degradasi lahan, pencemaran, hingga hilangnya keanekaragaman hayati tidak dapat lagi dihadapi hanya dengan pendekatan teknis, melainkan membutuhkan perubahan kesadaran kolektif yang lebih mendasar dalam hubungan manusia dengan alam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tobat ekologis adalah perubahan cara pandang dan perilaku kita terhadap alam. Kita tidak cukup hanya memahami masalah lingkungan, tetapi harus menjadi bagian dari solusi melalui tindakan nyata," ujar Jumhur, dalam keterangan tertulis, Senin (15/6/2026).
Hal tersebut ia sampaikan dalam acara 'Sarasehan Gerakan Menanam Bambu - Selamatkan Bumi' di Bogor, Jawa Barat (Jabar), sebagai bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.
Jumhur menjelaskan program penanaman 2 miliar pohon merupakan agenda besar nasional dalam pemulihan ekosistem, rehabilitasi lahan kritis, dan penguatan ketahanan lingkungan.
Dalam konteks tersebut, bambu menjadi salah satu vegetasi penting karena memiliki fungsi ekologis sebagai penjaga tata air, pengendali erosi, penyerap karbon, serta memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
"Penanaman 2 miliar pohon ini adalah bagian dari gerakan tobat ekologis. Salah satu implementasinya adalah pengembangan bambu sebagai solusi berbasis alam yang mampu menjaga tata air, mengurangi erosi, dan menyerap karbon," kata Jumhur.
KLH/BPLH saat ini terus memperkuat upaya rehabilitasi lingkungan melalui peningkatan tutupan lahan, pemulihan daerah aliran sungai (DAS), serta penguatan ekonomi hijau berbasis masyarakat.
Jumhur menegaskan keberhasilan gerakan lingkungan tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi dari tumbuhnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam merawat lingkungan secara berkelanjutan.
"Yang terpenting bukan hanya menanam, tetapi memastikan gerakan ini hidup di tengah masyarakat. Bambu harus menjadi simbol kolaborasi dan harapan bahwa setiap orang bisa berkontribusi menjaga bumi," kata Jumhur.
Gerakan Menanam Bambu Nusantara diharapkan menjadi salah satu penggerak utama dalam mendukung agenda tersebut secara berkelanjutan.
"Bambu bukan hanya tanaman konservasi, tetapi juga bagian dari identitas budaya bangsa yang telah melahirkan berbagai karya bernilai tinggi, mulai dari arsitektur hingga seni musik angklung. Gerakan menanam bambu penting untuk menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam pelestarian lingkungan secara berkelanjutan," kata Ketua Yayasan Pengrajin Bambu Indonesia Abah Jatnika.
KLH/BPLH mengajak seluruh elemen pemerintah, komunitas, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat untuk bersama-sama memperkuat gerakan penanaman 2 miliar pohon sebagai bagian dari tobat ekologis, demi menjaga keberlanjutan lingkungan dan masa depan generasi mendatang.
(anl/ega)

















































