Mengapa Hanya 8 Negara yang Jadi Juara Piala Dunia? Ini Rahasianya

5 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

20 June 2026 09:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Menjadi negara kaya bisa membantu sebuah tim nasional tampil kuat dalam ajang sepak bola Piala Dunia.

Namun, kekayaan bukan satu-satunya kunci. Dalam sepak bola modern, keberadaan pemain diaspora dan pemain keturunan justru bisa menjadi jalan paling cepat untuk membangun tim yang mampu tampil kompetitif.

Melansir dari The Economist, sejak 1930, lebih dari 80 negara sudah tampil dalam 22 edisi Piala Dunia. Namun, hanya delapan negara yang pernah mengangkat trofi. Pertanyaannya, mengapa hanya sedikit negara yang bisa benar-benar berjaya di sepak bola?

Jawabannya tidak sesederhana punya banyak uang atau penduduk yang besar.

Untuk mencari pola kesuksesan di sepak bola, digunakan model sederhana berdasarkan peringkat Elo tim nasional. Elo adalah sistem penilaian yang awalnya dipakai dalam catur dan dinilai lebih adil untuk mengukur kekuatan tim karena ikut memperhitungkan kualitas lawan.

Dari model tersebut, sejumlah faktor kemudian diuji untuk melihat seberapa besar pengaruhnya terhadap perbedaan kekuatan antarnegara. Faktor yang dilihat antara lain kualitas demokrasi, tinggi badan rata-rata pria, jumlah penduduk, kekayaan, hingga lokasi geografis.

KekayaanKekayaan Foto: The Economist

Hasilnya, faktor yang paling berpengaruh adalah kekayaan, jumlah penduduk, tinggi badan, dan geografi. Jika digabungkan, faktor-faktor ini menjelaskan sekitar 70% variasi skor Elo antarnegara. Namun, tidak ada satu pun faktor yang benar-benar menentukan sendirian.

Negara kaya memang bisa mengeluarkan lebih banyak uang untuk pelatih, fasilitas, dan pembinaan usia muda. Namun, kekayaan tidak selalu berujung pada prestasi.

Amerika Serikat adalah negara kaya, tetapi sebagian besar uang di dunia olahraga AS mengalir ke cabang lain. Negara-negara monarki Teluk juga sangat kaya dan gila bola, tetapi performa mereka masih sering di bawah harapan.

PopulasiPopulasi Foto: The Economist

Jumlah penduduk juga penting karena semakin besar populasi, semakin besar pula potensi menemukan pemain berbakat. Namun, China dan India menjadi bukti bahwa populasi besar tidak otomatis menghasilkan kejayaan. Meski masing-masing memiliki penduduk lebih dari 1 miliar orang, keduanya jika digabung hanya pernah sekali tampil di Piala Dunia.

Ukuran tubuh juga memiliki peran. Dari hasil analisis menunjukkan tinggi badan ideal untuk pemain selain kiper adalah sekitar 181 cm. Semakin jauh tinggi rata-rata pria di sebuah negara dari angka tersebut, semakin besar kecenderungan negara itu tertinggal dalam sepak bola.

Tinggi BadanTinggi Badan Foto: The Economist

Geografi dan Budaya Sepak Bola Jadi Pembeda

Meski begitu, faktor paling kuat justru sesuatu yang sulit dikendalikan pemerintah, yaitu geografi dan budaya olahraga yang terbentuk di dalamnya.

Tim-tim Amerika Selatan, misalnya, rata-rata memiliki sekitar 640 poin Elo lebih tinggi dibandingkan tim-tim Asia. Selisih itu berarti tim Amerika Selatan diperkirakan bisa mengalahkan tim Asia lebih dari 90% waktu pertandingan. Bahkan setelah disesuaikan dengan perbedaan pendapatan, jumlah penduduk, dan fisik pemain, jaraknya masih besar, yakni 492 poin. Tim-tim Eropa juga memiliki keunggulan serupa.

Keunggulan kawasan ini mencerminkan perbedaan yang sudah mengakar, terutama dalam kualitas pelatih dan ketatnya kompetisi. Liga-liga Eropa menjadi magnet bagi talenta, penonton, dan investasi global. Eropa memiliki lebih dari 200.000 pelatih, jauh lebih banyak dibandingkan konfederasi lain.

Perbandingannya sangat mencolok. India hanya memiliki sekitar 50 pelatih dengan lisensi tertinggi di Asia. Sementara itu, Spanyol, yang jumlah penduduknya kurang dari 5% populasi India, memiliki lebih dari 2.000 pelatih dengan kualifikasi setara.

Uang juga memperlebar jarak. Konfederasi yang lebih kaya seperti Eropa dan Amerika Selatan bisa menggelontorkan dana jauh lebih besar untuk pelatihan dan pembinaan usia muda.

Kondisi ini membuat kesuksesan sepak bola cenderung berulang dari waktu ke waktu. Berdasarkan analisis tersebut, prediktor terbaik posisi sebuah negara saat ini adalah posisi negara tersebut beberapa dekade lalu. Sekitar empat perlima negara yang masuk seperempat teratas tabel Elo pada 1976 masih berada di kelompok atas hingga sekarang.

Namun, bukan berarti negara lain tidak bisa mengejar. Jepang menjadi salah satu contoh terbaik.

Jepang belum pernah tampil di Piala Dunia sebelum 1998. Namun sejak itu, Jepang tidak pernah absen. Pada Piala Dunia terbaru di Qatar, Jepang bahkan mengalahkan raksasa seperti Jerman dan Spanyol. Banyak pihak kini menilai Jepang sebagai kuda hitam.

Kebangkitan Jepang tidak bisa dijelaskan oleh ekonomi atau jumlah penduduk, karena keduanya relatif stagnan sejak 1990-an. Keberhasilan Jepang lebih banyak datang dari strategi federasi sepak bolanya.

Pada 1992, Jepang merombak liga amatirnya dan meluncurkan visi jangka panjang bernama Hundred Year Vision. Targetnya adalah membentuk 100 klub profesional pada 2092. Sejak itu, Jepang terus memperbarui rencananya, mempelajari tren taktik global, lalu menyebarkannya ke dalam negeri.

Klub-klub Jepang juga diwajibkan menjalankan akademi usia muda. Mereka diarahkan untuk mencetak tipe pemain tertentu sesuai kebutuhan sepak bola modern. Jika dulu pemain Jepang dikenal karena disiplin dan kerja keras, kini banyak pemain Jepang tampil menonjol karena teknik tinggi dan bermain di liga-liga besar Eropa.

Pendekatan Jepang juga sangat bertumpu dari bawah. Ini berbeda dengan China, yang mencoba membangun sepak bola dengan cara seperti mengejar medali Olimpiade, yakni lewat pendekatan terpusat dan dana besar. Menurut jurnalis olahraga Mark Dreyer, cara itu gagal karena sepak bola membutuhkan improvisasi, ketidakpastian, dan basis akar rumput yang kuat.

Pemain Diaspora Jadi Jalan Cepat

Meski berhasil, cara Jepang tetap lambat dan mahal. Bagi banyak negara yang lebih miskin, ada jalan yang lebih cepat, yakni memanfaatkan pemain diaspora.

Senegal menjadi salah satu contoh. Negara itu naik peringkat bukan terutama karena membangun infrastruktur sepak bola besar-besaran di dalam negeri, melainkan karena memanfaatkan pemain keturunan yang dilatih di akademi luar negeri. Sekitar separuh skuad Senegal di Piala Dunia adalah pemain keturunan Senegal, terutama yang besar di Prancis.

Pola ini mirip seperti pembangunan yang dibiayai remitansi. Bedanya, keuntungan yang didapat bukan hanya berupa kiriman uang, tetapi juga talenta sepak bola dari pemain keturunan yang tumbuh dan dilatih di luar negeri.

Fenomena ini juga terlihat di negara lain. Sebanyak 96% skuad Curaçao di turnamen ini lahir di luar negeri. Untuk Cape Verde, angkanya mencapai 62%. Keduanya memang contoh ekstrem, tetapi tren lebih luasnya jelas terlihat.

Sejak 1994, porsi pemain yang membela negara berbeda dari negara kelahirannya naik pesat. Angkanya meningkat dari 9% pada 1994 menjadi 24% saat ini.

The EconomistThe Economist Foto: The Economist

Ada juga cara lain untuk mendapatkan talenta dari luar negeri. Beberapa negara yang biasanya ketat dalam memberikan paspor bisa menjadi sangat longgar ketika berurusan dengan pemain sepak bola. Qatar, misalnya, menurunkan beberapa pemain naturalisasi, termasuk Edmilson Junior yang lahir di Belgia. Bintang China, Serginho, atau Sai Erjiniao di negara barunya, lahir di Brasil.

Namun, strategi ini juga bisa melewati batas. Tahun lalu, FIFA menghukum Malaysia karena menurunkan tujuh pemain yang akar keturunan Malaysianya disebut dipalsukan.

Kasus Malaysia menunjukkan betapa besarnya imbalan dari strategi tersebut. Salah satu studi tentang Piala Dunia menemukan bahwa tim dengan lebih banyak pemain kelahiran luar negeri cenderung melaju lebih jauh, bahkan setelah memperhitungkan faktor kekayaan dan tradisi sepak bola.

Maroko memberi bukti paling jelas pada Piala Dunia sebelumnya. Mereka menjadi tim Afrika pertama yang mencapai semifinal Piala Dunia dengan skuad berisi 26 pemain, 14 di antaranya lahir di luar negeri.

Manfaat pemain diaspora tidak hanya dirasakan negara asal, tetapi juga negara tempat mereka tumbuh. Pemain keturunan di Eropa sering kali akhirnya bermain untuk negara tempat orang tua mereka menetap, bukan negara asal keluarga mereka.

Bintang terbesar Spanyol, Lamine Yamal, adalah pemain keturunan Maroko dan Guinea Khatulistiwa. Inggris memiliki pemain seperti Bukayo Saka yang memiliki darah Nigeria dan Marcus Rashford yang memiliki latar belakang Karibia. Tim Prancis bahkan hampir seluruhnya diisi pemain keturunan.

Skuad Prancis juga menunjukkan dua sisi dampak pemain diaspora dalam sepak bola. Désiré Doué bermain untuk Prancis, sementara saudaranya, Guéla, membela Pantai Gading.

Mengambil pemain dari kumpulan talenta yang lebih beragam bisa meningkatkan performa di lapangan. Sebuah studi pada 2023 menemukan bahwa peningkatan keberagaman leluhur dalam skuad berkaitan dengan hasil yang lebih baik.

Di Italia, kegagalan lolos ke Piala Dunia ini memicu perdebatan besar. Italia menjadi satu-satunya mantan juara dunia yang absen. Sebagian komentator menyalahkan aturan kewarganegaraan yang ketat karena dinilai menghambat banyak pemain keturunan untuk membela Azzurri.

Namun, keberagaman dalam tim sepak bola juga sering memicu kemarahan kelompok rasis. Ketika Inggris tersingkir dari turnamen besar, pemain kulit hitamnya kerap menjadi sasaran pelecehan.

Sebuah studi yang diterbitkan awal tahun ini menemukan bahwa kemenangan tim yang lebih beragam dapat membuat pandangan publik terhadap pemain keturunan menjadi lebih positif. Sebaliknya, kekalahan bisa memperburuk persepsi terhadap keberagaman dan meningkatkan dukungan terhadap kelompok sayap kanan.

Pada akhirnya, menang atau kalah di Piala Dunia bukan hanya soal gengsi sepak bola. Bagi banyak negara, hasil di lapangan juga bisa memengaruhi politik, identitas nasional, dan cara publik melihat keberagaman.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |