Memulihkan Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah dan IHSG

5 hours ago 1

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Saat ini mata uang garuda kebanggaan nasional terus mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir hingga berada di level 18 ribu/US$. Tidak hanya itu, bursa saham Indonesia hampir menyentuh titik terendah sejak crash pandemi COVID-19 kemarin yakni menyentuh di level Rp 5.500-an.

Memang benar, pasar tidak selalu benar, akan tetapi pasar sering kali memberikan sinyal lebih awal mengenai kondisi dalam negeri daripada indikator makro lainnya. Situasi ini dapat dimaknai sebagai gejala mengenai perkembangan kondisi ekonomi dalam negeri. Dengan kata lain, pasar keuangan sering menjadi indikator awal bagaimana perubahan sentimen ekonomi mempengaruhi kondisi dalam negeri.

Jika kita telusuri penyebabnya bahwasanya tantangan terbesar bukan hanya pelemahan pasar, melainkan menurunnya kepercayaan investor mengenai arah kebijakan dan prospek ekonomi nasional terutama investor luar negeri yang memicu capital outflow Rp 72 triliun lebih sejak crash MSCI akhir Januari 2026 lalu.

Apa yang Terjadi dengan Pasar?
Persoalan dari pelemahan mata uang rupiah dan anjloknya bursa saham Indonesia sejatinya bukan semata-mata dipicu faktor eksternal seperti ketidakpastian ekonomi global, perang Iran-Amerika, MSCI FTSE outflow ataupun faktor eksternal lain.

Jika dilihat sesama anggota ASEAN, bursa Malaysia, Thailand, Vietnam dan negara lain justru menguat tetapi Indonesia satu-satunya mengalami crash yang cukup parah. Oleh karena itu, perlu dicermati bahwa pasar juga sedang memberikan penilaian terhadap kondisi domestik.

Salah satu sumber kekhawatiran investor adalah meningkatnya ketidakpastian arah kebijakan ekonomi nasional. Investor baik domestik dan luar negeri membutuhkan kepastian mengenai disiplin fiskal, keberlanjutan proyek strategis nasional, kebijakan sentralisasi ekspor komoditas penting, arah industrialisasi, reformasi birokrasi, serta independensi institusi ekonomi.

Ketika sinyal kebijakan dianggap berubah-ubah atau tidak konsisten, investor cenderung memilih mengurangi eksposur risiko dari portofolio investinya dan memindahkan modal ke aset yang cenderung lebih aman yang memberikan imbal hasil yang jauh lebih baik seperti dolar AS, maupun bursa saham negara lain yang jauh lebih prudent dan kuat.

Selain itu, pasar juga mencermati prospek pertumbuhan ekonomi jangka menengah. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung tertahan di kisaran 5 persen.

Sementara itu, target menjadi negara berpendapatan tinggi membutuhkan akselerasi pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan. Ketika pasar belum melihat mesin pertumbuhan baru yang mampu mendorong investasi produktif dan peningkatan produktivitas tenaga kerja, optimisme investor menjadi terbatas.

Fenomena capital outflow yang masif terjadi juga menunjukkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap aliran modal portofolio asing (FDI) masih cukup besar dan tidak bisa disepelekan dipandang sebelah mata. Ketika sentimen memburuk, investor asing dapat keluar dalam waktu singkat sehingga menimbulkan tekanan ganda terhadap nilai tukar dan pasar saham.

Hal ini menjadi pengingat penting bagi kita semua termasuk pemangku kebijakan pemerintah bahwa ketahanan ekonomi tidak cukup hanya bertumpu pada stabilitas makro, tetapi juga memerlukan basis investor domestik yang kuat yang bersumber dari trust kepada kondisi domestik untuk layak dan aman berinvestasi.

Memulihkan Kepercayaan Pasar
Langkah pertama yang perlu segera dilakukan pemerintah adalah membangun kembali kredibilitas kebijakan ekonomi dan kepercayaan investor. Pemerintah perlu menyampaikan peta jalan ekonomi yang jelas, konsisten, dan terukur. Komunikasi kebijakan yang transparan dan konsisten menjadi sangat penting untuk mengurangi ketidakpastian dan mencegah munculnya spekulasi negatif di pasar.

Langkah kedua adalah memperkuat koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan pelaku pasar. Hal ini telah dilakukan oleh pemerintah dalam beberapa hari terakhir yang patut diapresiasi. Dalam situasi tekanan seperti saat ini, pasar membutuhkan sinyal bahwa seluruh otoritas ekonomi memiliki pandangan yang sama dan bekerja secara terpadu menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Langkah ketiga adalah mempercepat reformasi struktural dan birokrasi yang sederhana serta insentif bagi pelaku pasar yang mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing. Reformasi di bidang investasi, pendidikan, ketenagakerjaan, hilirisasi industri, serta penguatan UMKM harus menjadi prioritas. Investor tidak hanya melihat kondisi hari ini, tetapi juga prospek keuntungan dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.

Langkah keempat adalah memperkuat basis investor domestik. Tingginya pertumbuhan jumlah investor yang semula 23,46 juta investor per Maret 2026 melonjak signifikan dari 3,8 juta pada 2020.

Pentingnya menjaga kepercayaan para investor ini agar mau menanamkan modalnya di Indonesia dalam instrumen pasar keuangan. Pengembangan dana pensiun, asuransi, dana abadi, dan instrumen investasi jangka panjang perlu dipercepat agar pasar keuangan Indonesia tidak terlalu rentan terhadap arus modal asing yang bersifat jangka pendek.

Pada akhirnya, kepercayaan pasar tidak dapat dibangun hanya melalui intervensi nilai tukar atau stimulus sesaat. Kepercayaan merupakan hasil dari konsistensi kebijakan, kepastian regulasi dan penyederhanaan kebijakan, serta keyakinan bahwa ekonomi Indonesia memiliki arah pembangunan yang jelas. Ketika kepercayaan itu kembali, penguatan rupiah dan pemulihan pasar saham akan mengikuti secara alami.


(miq/miq)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |