- Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam, IHSG dan Rupiah menguat sementara SBN melemah
- Wall Street menguat akhir pekan lalu
- Rilis data keyakinan konsumen dan respon rilis Inflasi China menjadi penggerak utama pasar pada hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam pada perdagangan kemarin Jumat (7/8/2026). Pasar saham dan Rupiah mengalami penguatan secara signifikan namun belum tercermin di pasar SBN
Pasar keuangan Indonesia diharapkan menguat pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan hari ini dan sepekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan Jumat (7/8/2026), melanjutkan tren positif meski pelaku pasar masih mencermati sejumlah sentimen global menjelang penutupan pekan.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada penutupan perdagangan pukul 16.00 WIB IHSG berhasil parkir di level psikologis baru yakni 6.409,65, naik 65,94 poin atau 1,04% dibandingkan penutupan sebelumnya di level 6.343,71.
Pada perdagangan kemarin, nilai transaksi tercatat Rp 16,46 triliun dengan volume perdagangan 37,98 miliar saham dalam 2,21 juta kali transaksi. Sebanyak 373 saham menguat, 245 saham melemah, sementara 345 saham bergerak stagnan.
Tercatat hingga perdagangan Jumat lalu, pasar saham Indonesia mengalami net inflow tercatat mencapai Rp1,24 triliun di pasar secara keseluruhan sementara di pasar reguler mengalami net inflow Rp 917,23 miliar
Mengutip data Refinitiv, sektor teknologi, barang baku dan properti menjadi yang menguat paling tinggi. Sedangkan hanya sektor konsumer non-primer dan kesehatan yang melemah kemarin.
Sentimen pasar pada perdagangan Jumat akhir pekan lalu cenderung beragam. Dari eksternal, bursa Asia-Pasifik mayoritas dibuka menguat. Nikkei 225 Jepang naik lebih dari 0,2%, Topix menguat 0,29%, Kospi Korea Selatan bertambah 0,89%, dan Kosdaq naik 0,6%.
Sementara itu, S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,45%. Optimisme investor ditopang harapan tercapainya kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz yang berpotensi meredakan tekanan harga minyak dunia, serta penantian data perdagangan China yang akan menjadi petunjuk prospek permintaan komoditas global.
Lanjut ke mata uang Garuda, Nilai tukar Rupiah menutup perdagangan terakhir pekan kemarin dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda pun mencatatkan penguatan selama tiga hari perdagangan beruntun.
Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Jumat (7/8/2026), rupiah terapresiasi 0,14% ke posisi Rp17.885/US$.
Penguatan kemarin melanjutkan kinerja positif pada dua perdagangan sebelumnya. Pada Kamis (6/8/2026), rupiah ditutup menguat 0,08% ke posisi Rp17.910/US$, setelah melonjak 0,50% pada Rabu.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat tipis 0,03% ke posisi 99,965.
Rupiah tetap mampu menguat meski DXY bergerak tipis di zona hijau. Pergerakan mata uang Garuda kemarin turut diwarnai oleh pengumuman cadangan devisa Indonesia periode Juli 2026.
Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 mencapai US$145,3 miliar. Jumlah tersebut turun tipis sebesar US$300 juta dibandingkan posisi akhir Juni 2026 yang mencapai US$145,6 miliar.
Perkembangan cadangan devisa dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan global bond pemerintah. Pada saat bersamaan, pemerintah melakukan pembayaran utang luar negeri dan BI menjalankan kebijakan stabilisasi rupiah di tengah kembali meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Jumlahnya juga masih jauh di atas standar kecukupan internasional yang berada di kisaran tiga bulan impor.
"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ujar Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, Jumat (7/8/2026).
Meski turun tipis, cadangan devisa yang masih memadai dapat menjaga kepercayaan terhadap ketahanan eksternal Indonesia. Posisi tersebut juga memberikan ruang bagi BI untuk melanjutkan stabilisasi nilai tukar apabila volatilitas pasar keuangan global kembali meningkat.
Lanjut ke pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun mengalami peningkatan ke 7,301% pada perdagangan Jumat (31/7/2026) di mana sebelumnya ditutup pada level 7,270%. Kenaikan imbal hasil mengindikasikan SBN lebih banyak dilepas oleh investor.
















































