Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali naik di tengah memanasnya harga minyak.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara kontrak Juni ditutup di harga US$ 136,4 per ton atau naik 1,4%% pada perdagangan Senin (12/5/2026).
Kenaikan ini menjadi kabar baik setelah harganya melemah 0,55% pada Jumat pekan lalu.
Kontrak berjangka minyak naik setelah perkembangan tersebut. Minyak mentah West Texas Intermediate AS melonjak 2,78% dan ditutup pada US$98,07 per barel, sementara minyak mentah Brent Crude naik 2,88% ke US$104,20 per barel.
Batu bara adalah komoditas substitusi minyak sehingga harganya saling memengaruhi.
Harga batu bara tetap melejit meski ada kabar buruk dari China.
Impor batu bara China turun pada April setelah mencatat rekor pada kuartal pertama, yang sebelumnya sempat mengejutkan pasar karena tidak mengikuti ekspektasi perlambatan. Penurunan ini terjadi akibat lemahnya permintaan dan kurang menguntungkannya ekonomi impor.
Total impor batu bara pada April 2026 mencapai 33,08 juta ton, turun 12,54% dibanding tahun sebelumnya dan 15,3% lebih rendah dibanding Maret, menurut data General Administration of Customs of China yang dikutip SX Coal.
Penurunan ini dipicu oleh kombinasi harga batu bara laut yang tinggi, penurunan pasokan ekspor, produksi domestik yang kuat, serta meningkatnya pembangkit energi bersih secara musiman.
Harga batu bara impor juga lebih mahal dibanding batu bara domestik. Kenaikan biaya energi global, ongkos angkut yang lebih tinggi, serta keterbatasan pasokan membuat harga impor jauh lebih mahal dibanding pasar dalam negeri China yang relatif stabil.
Dari sisi pasokan, dua pemasok utama China juga mengalami pelemahan. Indonesia sebagai pemasok terbesar batu bara termal menghadapi pembatasan kebijakan domestik yang menekan ekspor. Sementara ekspor batu bara laut Russia turun 10,34% secara tahunan, dan pengiriman ke China anjlok 33,59% dibanding tahun lalu.
Di dalam negeri, tingginya stok dan permintaan yang lemah membuat kebutuhan impor menurun. Fokus China pada swasembada energi serta kontrak jangka panjang menjaga cadangan batu bara pembangkit listrik tetap tinggi.
Permintaan listrik yang melemah secara musiman serta meningkatnya produksi energi terbarukan juga menekan konsumsi batu bara.
April merupakan periode transisi antara musim dingin dan musim panas, sehingga kebutuhan energi cenderung lebih rendah, sementara produksi hidroelektrik meningkat dan mengurangi porsi pembangkit batu bara.
Ke depan, ketidakstabilan di Timur Tengah masih berpotensi mengganggu pasokan energi global, sementara harga minyak yang tinggi dapat memengaruhi biaya produksi dan logistik di negara eksportir berbasis diesel seperti Australia dan Indonesia.
Di sisi lain, permintaan dari Jepang, Korea Selatan, dan Eropa meningkat akibat pengisian stok musiman serta peralihan dari gas ke batu bara di beberapa negara, yang meningkatkan persaingan untuk batu bara berkualitas tinggi.
Dalam kondisi ini, harga batu bara impor di China diperkirakan tetap kuat. Impor kemungkinan masih akan turun secara tahunan pada Mei, meskipun permintaan restocking menjelang musim panas dan peningkatan pasokan batu bara Mongolia dapat sedikit mendorong kenaikan dibanding April.
(mae/mae)
Addsource on Google


















































