Jakarta, CNBC Indonesia - Mantan Menteri Keuangan RI Frans Seda menangis saat melihat langsung penderitaan korban gempa dan tsunami Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 1992. Kala itu, dia bertugas sebagai relawan sekaligus Ketua Panitia Nasional Bencana Gempa Flores untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana.
Perlu diketahui, pada 12 Desember 1992, gempa berkekuatan M7,8 mengguncang Flores dan kemudian memicu tsunami setinggi 25 meter yang menerjang pesisir utara pulau tersebut.
Pusat gempa berada di lepas pantai Flores, sekitar 35 kilometer sebelah utara Maumere. Guncangan kuat membuat ratusan bangunan di Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka, runtuh. Sejumlah kampung di pesisir juga ikut tenggelam setelah daratan ambles akibat gempa.
Frans Seda yang merupakan putra NTT langsung turun ke lokasi untuk membantu penanganan bencana. Dia memang memiliki kedekatan dengan Flores, meskipun lahir di Maumere. Frans Seda merupakan Menteri Keuangan ke-14 Indonesia yang menjabat pada 1966-1968 dan menjadi putra NTT pertama yang menduduki posisi menteri pada era Soeharto.
Beberapa hari setelah bencana, Frans Seda ikut mengawasi penanganan korban dan proses rekonstruksi. Saat berada di tengah masyarakat, dia melihat langsung beratnya kondisi yang harus dihadapi para korban.
Koran Bernas (16 Desember 1992) mencatat momen ketika Frans Seda tidak mampu menahan air matanya saat menjelaskan kondisi bencana tersebut.
"Sesepuh masyarakat Flores dan ketua panitia nasional bencana gempa Flores, Frans Seda tak kuasa menahan air matanya saat menjelaskan tentang bencana di NTT," ungkap koran Bernas (16 Desember 1992).
Frans Seda meneteskan air mata setelah melihat banyak warga belum bisa kembali tinggal dengan layak. Gempa telah meruntuhkan rumah mereka, sementara kondisi cuaca semakin memperberat kehidupan para korban.
"Bukan itu saja, masyarakat yang sekarang ini tinggal tanpa gubuk lantas diguyur hujan lebat sangat menyiksa," kata Frans Seda.
Menurut Frans Seda, penderitaan warga juga semakin berat karena mereka kekurangan bahan makanan. Masalah kesehatan ikut muncul, sementara kondisi anak-anak juga menjadi perhatian karena mereka belum memahami sepenuhnya situasi yang sedang terjadi.
Melihat kondisi tersebut, Frans Seda meminta masyarakat Indonesia ikut memberikan bantuan kepada para korban. Dia menilai masyarakat Flores membutuhkan dukungan untuk melewati masa sulit setelah bencana.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah Soeharto juga bergerak cepat menangani dampak gempa dan tsunami Flores. Empat hari setelah bencana, tepatnya 16 Desember 1992, Soeharto mengirimkan bantuan dalam skala besar ke NTT sekaligus menetapkan gempa dan tsunami Flores sebagai bencana nasional.
"Keputusan Kepala Negara untuk menyatakan bencana alam itu sebagai bencana nasional diharapkan mendorong masyarakat dari dalam dan luar negeri lalu pemda-pemda mengulurkan tangan mereka membantu para korban," ungkap koran koran Bernas (16 Desember 1992).
Sejak hari pertama bencana, beberapa menteri kabinet juga langsung diperintahkan Soeharto untuk mengecek kondisi di lapangan. Sekitar sepekan kemudian, Soeharto juga terbang langsung ke NTT untuk melihat kondisi para korban.
Di lokasi bencana, mengutip koran Bali Post (24 Desember 1992), Soeharto mengecek kondisi masyarakat dan meminta proses pembangunan kembali wilayah terdampak dipercepat. Pemerintah kemudian melanjutkan penanganan dan rekonstruksi untuk membantu masyarakat kembali menjalani kehidupan setelah bencana.
Mengutip situs BNPB, gempa dan tsunami Flores 1992 menewaskan lebih dari 2.500 orang. Sekitar 500 orang dinyatakan hilang dan 447 lainnya mengalami luka-luka. Sementara itu, sekitar 5.000 orang harus mengungsi akibat bencana tersebut.
(mfa)
















































