Konglomerat RI Ini Rutin Bolak-Balik Gunung Kawi, Begini Kisahnya

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah penerbangan menuju Hong Kong pada tahun 1975 menjadi saksi bisu awal mula lahirnya raksasa perbankan di Indonesia. Pertemuan tak sengaja antara pendiri Salim Group, Sudono Salim (Liem Sioe Liong), dan tokoh perbankan Mochtar Riady di atas awan tersebut berujung pada kolaborasi bersejarah yang mengubah peta industri keuangan nasional.

Dalam perjalanan udara itu, perbincangan santai antara kedua pengusaha berkembang menjadi diskusi bisnis yang krusial. Mochtar Riady menyampaikan ambisinya untuk membangun sebuah bank baru. Pada saat yang bersamaan, Sudono Salim ternyata sedang berupaya mencari sosok profesional dan bertangan dingin untuk membenahi serta mengelola tiga bank miliknya: Bank Windu Kencana, Bank Dewa Ruci, dan Bank Central Asia (BCA).

Menyadari rekam jejak dan kapasitas tinggi yang dimiliki Riady di bidang perbankan, Salim tanpa ragu menawarkan kemitraan strategis. Tawaran tersebut disambut baik oleh Riady yang melihat kesamaan visi dan potensi besar dari kerja sama tersebut.

Kesepakatan informal di udara itu menjadi titik balik penting. Di bawah sentuhan dingin Mochtar Riady dan dukungan modal serta jaringan luas Sudono Salim, BCA yang saat itu masih berskala kecil berhasil ditata ulang hingga tumbuh pesat menjadi salah satu bank swasta terbesar dan paling tangguh di Indonesia.

Jika saat itu Salim tidak memilih Riady, perjalanan BCA bisa saja mengambil arah yang berbeda. Keputusan tersebut ternyata bukan diambil secara asal, melainkan melalui pertimbangan yang sangat matang.

Menariknya, pertimbangan itu bukan semata didasarkan pada hitungan bisnis atau ekonomi, melainkan juga dipengaruhi oleh petunjuk seorang peramal.

"Sekembalinya dari Gunung Kawi [menemui peramal], dengan keyakinan dia berkata kalau "aku akan menjadi Tang Sheng untuk Mohctar"," kata Salim dikutip dari Liem Sioe Liong dan Salim Group: Pilar Bisnis Soeharto (2016) karya Richard Borsuk dan Nancy Chng.

Merujuk buku Gunung Kawi: Fakta dan Mitos, kawasan Gunung Kawi memang dikenal sebagai lokasi yang kerap didatangi masyarakat untuk berbagai kepentingan spiritual, termasuk meminta ramalan. Bagi Salim, kunjungan ke tempat tersebut memiliki tujuan khusus.

Richard Borsuk dan Nancy Chng mencatat, Salim rutin menempuh perjalanan Surabaya-Gunung Kawi yang memakan waktu sekitar tiga jam, bahkan hingga tiga sampai lima kali dalam setahun. Ia biasanya berdiam diri di sebuah kuil Tionghoa. Setiap hendak memulai proyek bisnis berskala besar, Salim lebih dulu meminta petunjuk kepada peramal sekaligus menjalankan sejumlah ritual.

"Di kuil-kuil tempat dia bersembahyang, Liem sering mengandalkan cara-cara gaib untuk membantunya memutuskan langkah apa yang harus diambil. Salah satu cara yang biasa dipakai adalah menggoyang-goyangkan tabung bambu berisi lidi-lidi dengan tulisan tertentu sampai sebatang lidi kelar, tulisan di lidi itu lalu dibaca dan ditafsirkan oleh rahib atau peramal," kata Richard dan Nancy.

Setiap nasihat yang diberikan sang peramal diyakini sepenuhnya oleh Salim. Ia percaya mengabaikan petunjuk tersebut berpotensi membuatnya mengambil keputusan keliru yang berujung pada kerugian besar. Kepercayaan itu tidak hanya diterapkan ketika hendak memulai bisnis, tetapi juga saat menentukan bangunan atau lokasi yang dianggap membawa keberuntungan.

Salah satu kisah yang sering dikaitkan dengan keyakinan tersebut terjadi pada 1968. Saat itu, Salim bersama kelompok konglomerat yang dikenal sebagai Gang of Four-beranggotakan Sudwikatmono, Djuhar Sutanto, dan Ibrahim Risjad-bersiap memulai usaha bersama.

Alih-alih memilih kantor yang luas dan nyaman, Salim justru bersikeras menggunakan sebuah ruangan sempit yang hanya dilengkapi satu meja, satu telepon, dua kursi, dan tanpa pendingin udara. Menurutnya, lokasi tersebut memiliki feng shui yang sangat baik sehingga diyakini akan membawa keberuntungan.

Belakangan, keyakinan itu seolah terbukti. Bisnis yang dijalankan bersama Gang of Four berkembang pesat dan menjadi fondasi bagi ekspansi berbagai usaha Salim di kemudian hari.

Kepercayaan terhadap unsur mistik dan feng shui itu pun kerap disebut sebagai salah satu faktor yang mewarnai berbagai keputusan bisnis Salim, seiring dengan berkembangnya kerajaan usaha yang kemudian menjadikannya salah satu konglomerat terbesar di Indonesia.

Sanggahan: Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu. Lewat kisah seperti ini, CNBC Insight juga menghadirkan nilai-nilai kehidupan dari masa lampau yang masih bisa dijadikan pelajaran di hari ini.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |