Jakarta - Kiprah Brigadir Renita Rismayanti dalam menjalankan misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau MINUSCA di Afrika Tengah menuai apresiasi. Dia menjadi inisiator digitalisasi database kasus kriminal untuk MINUSCA dan kepolisian lokal.
Atas inovasinya itu, Brigadir Renita mendapat penghargaan Polwan Terbaik PBB tahun 2023. Berkat prestasinya, dia diusulkan menjadi salah satu kandidat Hoegeng Awards 2026.
Paur Subbagstrajemen dan RB Bagren Polresta Banyuwangi, Polda Jawa Timur, Ipda Sugiandono, memberikan kesaksiannya tentang kerja keras dan dedikasi Brigadir Renita saat bertugas di Afrika Tengah. Saat itu, Ipda Sugi merupakan atasan Brigadir Renita.
"Kisaran tahun 2021 sampai 2023, saya kerja sama-sama 1 unit dengan Brigadir Renita Rismayanti. Pada waktu itu saya menjabat sebagai Kepala Unit Kriminal Analisis Database di mana Brigadir Renita di bawah langsung unit yang saya pimpin," kata Ipda Sugi kepada detikcom, Rabu (1/4/2026).
Ipda Sugi menyebut dalam unit kerja yang dipimpinnya terdiri dari personel kepolisian dari Indonesia, Senegal, Mali, hingga Jordania. Selama bertugas bareng, dia terkagum dengan kerja keras dan kreativitas Brigadir Renita. Ipda Sugi menilai Brigadir Renita pantas mendapat penghargaan Polwan Terbaik PBB 2023.
"Jadi Polwan Terbaik PBB itu kan kandidatnya tidak hanya dari 1 misi, tidak hanya dari MINUSCA saja, tapi di seluruh misi yang ada di dunia, seperti di Kongo, Siprus, Sudan Selatan dan di berbagai misi yang lain itu punya kandidat. Biasanya masing-masing misi itu mengirimkan kandidat, tidak hanya 1 atau 2 orang. Jadi memang shortlist-nya sangat ketat waktu itu, dan penghargaannya didapat Brigadir Renita," jelasnya.
Ipda Sugi menyebut peran Brigadir Renita sangat besar dalam Unit Kriminal Analisis Database MUNISCA di Afrika Tengah. Brigadir Renita disebut sangat vokal menjadi inisiator digitalisasi database kasus kriminal untuk MINUSCA dan kepolisian lokal.
"Jadi ketika itu kita ada proyek di MINUSCA, khususnya untuk kriminal analisis database, termasuk proyek pembangunan database nasional kepolisian atau keamanan Afrika Tengah. Kedua proyek perpindahan database, yang semula kita memiliki database lokal, database yang kita kembangkan, kita ciptakan, kita kelola sendiri itu di imigrasi ke database yang nantinya digunakan oleh seluruh misi di dunia, dan itu sudah mulai jalan sekarang ini, kita menyebutnya UN Pol (United Nations Police) Case Management," ujar Ipda Sugi.
"Di situ Brigadir Renita terlibat aktif, tidak hanya sebagai follower tapi bareng-bareng sebagai inisiator," tegasnya.
Menurut Sugi, dengan digitalisasi database kasus kriminal itu, kepolisian Afrika Tengah bisa memantau dan mencatat kondisi keamanan wilayahnya secara real-time. Hal itu membuat kerja-kerja tim operasi di lapangan menjadi lebih mudah.
"Simpelnya begini, ketika saya pengen mengetahui situasi suatu wilayah A, nah itu akan muncul di wilayah A ini tren kejahatannya seperti ini, yang sering terjadi adalah perampokan, itu jam-jam rawannya itu muncul otomatis. Dengan adanya data itu, maka bagian operasi atau yang di lapangan bisa menindaklanjuti dengan menerjunkan tim patroli di daerah A pada jam-jam yang disebutkan di situ. Tujuannya memang untuk tata kelola kepolisian yang bagus," imbuhnya.
Cerita Brigadir Renita
Brigadir Renita Rismayanti merupakan kandidat dari Hoegeng Corner 2025. Renita menceritakan momen dirinya meraih penghargaan dari PBB saat berbincang dengan detikcom, Kamis (26/9/2025).
Saat itu, ia bertugas sebagai Petugas Basis Database Kriminal (Crime Database Officer) di Misi Stabilisasi Terintegrasi Multidimensi PBB di Republik Afrika Tengah (MINUSCA). Setelah dua tahun bertugas di sana pada 2023-2024, Renita telah kembali ke Indonesia dan kini bertugas sebagai Bhayangkara Adm Pelaksana Lanjutan Taud Divhubinter Polri.
Saat bertugas di Afrika Tengah, Renita mengurus dua proyek. Pertama, dia mengurusi proyek tentang migrasi database untuk UN Police, yang sebelumnya masih menggunakan database manual.
"Itu saya integrasikan ke platform yang sudah dipunyai sama UN. Nah platformnya itu namanya unite aware, itu dia terkoneksi dengan New York, dengan kita bisa juga koneksiin dengan misi-misi lain," kata Renita.
Lewat pengembangan database itu, pengolahan data menjadi tren statistik menjadi lebih efektif. Proses yang sebelumnya membutuhkan waktu kini bisa ditampilkan secara langsung.
"Kalau pakai platform itu, platform yang tadi itu, dia bisa show up secara real time, jadi kita lebih efektif kerjanya," kata Renita.
Proyek kedua yang ditangani Renita yaitu tentang database Kepolisian Afrika Tengah atau FSI. Menurut Renita, kepolisian di sana sebelumnya masih menggunakan database manual untuk mencatat aksi kejahatan.
"Datanya ini tuh nya benar-benar pakai buku sama pulpen," kata Renita.
Kemudian Renita dan tim menggagas untuk pengembangan database kriminal yang lebih baik. Dia memasang perangkat hingga melakukan pelatihan bagi polisi lokal.
"Sebenarnya yang punya ide itu kepala section saya. 'Oh kita buat database kaya gini buat polisi lokal', terus karena saya kepala unit database kriminal jadi saya dan tim execute," imbuh Renita.
Ide itu muncul, kata Renita, berdasarkan pengalamannya sehari-hari saat bertugas di Afrika Tengah. Dia melihat banyak pelaku kriminal di sana yang justru bebas pergi ke mana saja dan belum ditangkap kepolisian.
"Kita tuh tahu orang ini tuh dia kriminal gitu, penjahat gitu tapi entah kenapa belum ditangkap, entah kenapa orang ini masih bisa melakukan ini itu, entah kenapa orang ini kriminal itu malah bisa ditugaskan jadi ikut pelatihan-pelatihan apa. Diajukan government padahal orang ini istilahnya kriminal," ujar Renita.
"Ternyata karena mereka itu nggak punya database, polisi lokal nggak punya database. Jadi kalau nggak punya database itulah kenapa orang-orangnya masih bisa bebas, masih bisa melakukan ini itu," sambung dia.
Kinerja Renita dalam mengembangkan inovasi database di Afrika Tengah itu menarik perhatian PBB. Dia kemudian diberikan penghargaan sebagai Polwan Terbaik PBB 2023.
"Sebenarnya, pertama waktu dikasih penghargaan, bersyukur. Bukan hanya saya di situ, tetapi kan tim juga, kerja sama tim, nama unit saya juga di-recognize, nama section saya juga diakui," kata Renita.
Selain itu, Renita juga bangga dapat mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Bagi dia, penghargaan ini merupakan capaian penting dalam perjalanan kariernya.
"Lebih pentingnya nama Indonesia. Untuk polisi Indonesia baru pertama yang dapat itu, sebelum-sebelumnya dari Afrika, dari India...," kata dia.
Apresiasi PBB
Dalam catatan detikcom, Sekjen PBB António Guterres pernah memuji langsung prestasi Brigadir Renita. Hal itu disampaikan lewat akun X miliknya.
"Selamat kepada Brigadir Satu Polisi Renita Rismayanti atas penobatannya sebagai @UN Woman Police Officer of the Year Award," tulis António Guterres seperti dikutip, Jumat (17/11/2023).
António juga berterima kasih atas kepemimpinan Renita selama ini di PBB Republik Afrika Tengah. Renita dinilai mampu memberdayakan perempuan dan mempromosikan kesetaraan gender.
"Saya berterima kasih padanya atas layanan & kepemimpinannya di @UN_CAR, dalam memberdayakan perempuan & mempromosikan kesetaraan gender & hak asasi manusia," imbuhnya. (fas/knv)
Hoegeng Awards 2026
Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini


















































