Kasus Flu Burung H5 Pertama Ditemukan di Negara Tetangga RI

4 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Para ilmuwan telah mendeteksi galur (strain) flu burung H5 di Australia untuk pertama kalinya. Hal ini berarti varian yang sangat menular tersebut kini telah menyebar ke setiap benua.

Menteri Pertanian Australia Julie Collins mengatakan bahwa penyakit tersebut ditemukan di seekor burung laut migran, jenis brown skua (skua cokelat), di wilayah terpencil Australia Barat, dan hasilnya telah dikonfirmasi oleh badan sains nasional. Sampel dari burung sakit lainnya, seekor giant petrel (petrel raksasa) yang ditemukan di area yang sama, juga menunjukkan hasil yang diduga positif (suspected positive).

Australia sebelumnya merupakan satu-satunya benua di mana galur H5, yang dapat merusak populasi unggas dan burung liar, belum pernah terdeteksi.

"Meskipun mengecewakan, hal ini bukanlah sesuatu yang tidak terduga, mengingat penyebaran flu burung H5 yang sudah mendunia. Saya dapat mengonfirmasi bahwa hingga saat ini masih belum ada bukti adanya kematian massal, begitu pula tidak ada bukti infeksi pada unggas apa pun," kata Collins dikutip dari CNA, Sabtu (20/6/2026).

Galur H5 telah menyebabkan penyakit parah dan tingkat kematian yang tinggi pada unggas, burung liar, serta mamalia yang terdampak di seluruh dunia.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyatakan bahwa deteksi kasus ini sangat mengkhawatirkan, dan pihaknya akan mengambil langkah-langkah untuk mencoba mengendalikan penyebaran penyakit tersebut.

"Ini adalah sesuatu yang terjadi melalui burung-burung migran, dan secara definisi telah terjadi di seluruh dunia, dan inilah mengapa kami bersiap menghadapi hal ini," ujarnya.

Burung liar yang paling terdampak oleh galur H5 meliputi burung air, burung pantai, burung laut, dan burung pemangsa. Mamalia laut juga turut terdampak, dengan beberapa deteksi ditemukan pada hewan lain seperti kucing, kambing, alpaka, dan babi.

Penyakit mematikan pun dikhawatirkan menambah risiko kepunahan yang dihadapi oleh fauna Australia, yang mana banyak di antaranya merupakan hewan unik yang hanya ada di benua luas tersebut. Di mana hampir separuh dari spesies burung liar di Australia, dan 83% mamalianya, tidak ditemukan di belahan dunia lain.

Komisioner Spesies Terancam Punah Australia, Fiona Fraser mengatakan bahwa terdapat rencana untuk melindungi 35 spesies dengan cara menggenjot penangkaran (captive breeding). Di antara spesies tersebut, setan tasmania (Tasmanian devil), angsa hitam, penguin kecil (little penguin), dan singa laut Australia berada dalam risiko yang sangat tinggi dari flu burung, jelasnya.

"Sangat jelas bahwa hal ini dapat membawa dampak pada tingkat populasi untuk spesies-spesies kami," kata Fraser.

Kasus yang terkonfirmasi tersebut dideteksi di kawasan alam liar yang terletak 630 km di sebelah tenggara kota Perth, di pesisir barat. Para pejabat mengatakan mereka sedang menyelidiki apakah penyakit tersebut tiba di Australia via burung-burung yang bermigrasi dari sub-Antartika.


Sebelumnya para ilmuwan Australia menyebutkan bahwa galur flu burung H5 membunuh lebih dari 13.000 anak anjing laut gajah (elephant seal pups) setelah menginfeksi koloni pembiakan di Kepulauan Heard dan McDonald yang terpencil, yang merupakan salah satu wilayah luar Australia di sub-Antartika.

(hsy/hsy)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |