Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memamerkan pesawat kepresidenan Air Force One terbarunya. Jet jumbo yang dulunya milik pemerintah Qatar ini telah dikonversi menjadi pesawat resmi kepresidenan AS.
Pesawat baru ini menanggalkan warna eksterior biru telur asin khas era Kennedy yang ada pada pesawat lama, lalu menggantinya dengan tampilan yang lebih berani. Bagian perut pesawat dicat dengan warna biru tua dengan garis merah di atasnya.
Pada sisi kiri pesawat, tempat presiden naik, menampilkan stempel resmi kepresidenan, sementara bagian ekor pesawat dihiasi dengan bendera Amerika berukuran sangat besar.
"Pesawat ini diubah menjadi Gedung Putih terbang dengan tingkat kemewahan yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya," ujar Trump dari dikutip dari AP News, Sabtu (20/6/2026).
Dia mengonfirmasi akan membawa jet baru ini ke KTT NATO di Ankara, Turki, bulan depan dan mengindikasikan akan kembali ke China. Adapun kepulangannya dari KTT G7 di Prancis minggu ini merupakan perjalanan terakhir yang dijadwalkan menggunakan Air Force One lama.
"Sekarang, ketika kita mendarat di bandara-bandara di London, Jerman, dan tempat-tempat lainnya, tidak ada yang bisa menandingi pesawat ini, dan memang begitulah seharusnya negara kita," kata Trump.
Ia menambahkan bahwa Air Force One baru ini akan melakukan terbang lintas selama perayaan Hari Kemerdekaan 4 Juli. Pesawat hadiah dari Qatar ini berfungsi sebagai "jembatan" untuk mengangkut presiden sampai pesawat baru yang dipesan langsung dari Boeing tiba pada 2028.
Jet mewah Boeing 747 dari Qatar ini diterima Pemerintah AS pada tahun lalu untuk digunakan sebagai pesawat kepresidenan, meski muncul pertanyaan terkait etika dan legalitas hukum dalam menerima hadiah semahal itu dari pemerintah asing.
Trump bersikeras sebelumnya bahwa ia tidak akan menggunakan jet Qatar tersebut untuk penerbangan pribadi setelah lengser dari jabatannya. Sebagai gantinya ia akan menyumbangkannya ke perpustakaan kepresidenan di masa mendatang.
Trump mengungkapkan bahwa AS berada dalam "sedikit kemacetan situasi" selagi mereka menunggu pengiriman jet baru langsung dari Boeing.
"Presiden yang normal tidak akan melakukan ini. Presiden yang normal ingin menjauh dari urusan pesawat. Tetapi negara kita harus diwakili dengan layak." kata Trump.
Pihak Angkatan Udara AS menyatakan bahwa pesawat apa pun yang dianggap sebagai Air Force One harus memenuhi persyaratan keamanan yang ketat. Sementara itu, pesawat Qatar tersebut dimodifikasi di bawah pendekatan teknik yang memprioritaskan kapabilitas inti.
Angkatan Udara juga menyatakan bahwa sebagian besar tata letak interior bekas kepala negara sebelumnya tetap dipertahankan. Angkatan Udara sebelumnya menyatakan bahwa modifikasi keamanan pada jet tersebut akan menelan biaya kurang dari $400 juta.
Upaya Trump untuk merancang ulang pesawat kepresidenan ini dimulai sejak masa pemerintahan pertamanya, ketika ia menginstruksikan agar armada jet baru diadopsi dengan skema warna yang hampir identik dengan pesawat pribadi miliknya.
Presiden Joe Biden saat itu membatalkan keputusan tersebut pada Maret 2023 setelah tinjauan Angkatan Udara menunjukkan bahwa warna yang lebih gelap dapat meningkatkan biaya dan menunda pengiriman jet baru. Namun, setelah Trump kembali menjabat ke Gedung Putih, ia mengembalikan warna pesawat sesuai keinginannya.
Jet pemerintah lainnya yang mengangkut pejabat tinggi administrasi juga akan menggunakan skema warna serupa, yaitu merah, putih, dan biru tua.
Juru bicara Angkatan Udara, mengatakan bahwa dua pesawat saat ini, yang dikenal sebagai VC-25A, tidak akan dipensiunkan. Sebaliknya, keduanya akan tetap berada dalam armada sampai pesawat Boeing yang baru, yang disebut VC-25B, resmi beroperasi.
Belum jelas bagaimana jet-jet lama tersebut akan digunakan nantinya, namun juru bicara tersebut mengatakan bahwa baik jet Qatar maupun VC-25A akan tetap tersedia untuk digunakan.
Grup Angkutan Udara Kepresidenan akan memilih pesawat yang tepat untuk setiap misi berdasarkan kebutuhan operasional," ungkap dia.
(hsy/hsy)
Addsource on Google


















































