Jalur Maut Terus Makan Korban, 143 Penumpang Kapal Tewas dan Hilang

5 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Sedikitnya 143 pengungsi dan migran dilaporkan tewas atau hilang setelah kapal yang mereka tumpangi terdampar di lepas pantai Mauritania saat berupaya menuju Eropa. Tragedi ini kembali menyoroti tingginya risiko penyeberangan menuju Kepulauan Canary, Spanyol, yang dikenal sebagai salah satu jalur migrasi paling mematikan di dunia.

Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) menyatakan sangat berduka atas tragedi tersebut. Juru bicara UNHCR Matt Saltmarsh mengungkapkan kapal itu berlayar dari Bafuloto, Gambia, lalu hanyut selama 25 hari sebelum akhirnya diselamatkan di Pelabuhan Nouadhibou, Mauritania, pada 18 Juli. Saat ditemukan, kapal itu membawa jenazah serta hanya 38 orang yang berhasil selamat.

"Di antara para penyintas terdapat dua anak yang kehilangan seluruh anggota keluarganya selama perjalanan. Saat ini mereka masih menjalani pemulihan di rumah sakit," ujar Saltmarsh kepada wartawan di Jenewa, seperti dikutip Al Jazeera, Rabu (22/7/2026).

UNHCR menjelaskan tragedi itu terjadi meski sebelumnya telah dilakukan tiga operasi penyelamatan di perairan Mauritania pada 14-18 Juli. Dalam operasi tersebut, sebanyak 387 orang berhasil dievakuasi dari kapal-kapal lain yang mengalami kesulitan di laut.

Selain korban dari kapal tersebut, satu orang lainnya juga dilaporkan meninggal di kapal berbeda yang tiba di Mauritania pada 14 Juli. Menurut UNHCR, para korban berasal dari sejumlah negara di Afrika Sub-Sahara, meski lembaga itu belum merinci penyebab pasti kematian mereka.

Sementara itu, penjaga pantai Mauritania menyebut jumlah korban hilang mencapai 122 orang. Otoritas setempat mengatakan kapal tersebut berangkat dari Gambia dengan membawa sekitar 160 penumpang sebelum akhirnya kehabisan bahan bakar di tengah perjalanan.

UNHCR menegaskan rute Atlantik menuju Kepulauan Canary merupakan salah satu jalur migrasi paling berbahaya di dunia.

"Jarak pelayaran yang sangat jauh, kapal yang penuh sesak, serta kondisi kapal yang tidak layak menjadi faktor utama tingginya angka kematian di jalur ini," kata lembaga tersebut.

UNHCR juga mendesak perlunya peningkatan akses terhadap pendidikan dan lapangan pekerjaan di negara-negara asal migran agar masyarakat tidak terdorong mengambil risiko besar dengan menempuh perjalanan laut yang mematikan menuju Eropa.

Mauritania sendiri menjadi salah satu titik keberangkatan utama bagi para migran yang hendak mencapai Kepulauan Canary. Namun, kedatangan migran melalui jalur tersebut belakangan menurun setelah Uni Eropa mendukung pengetatan pengawasan di Mauritania. Kebijakan itu diikuti deportasi ribuan pencari suaka dan migran, yang justru memaksa sebagian orang menempuh rute yang lebih jauh dan lebih berbahaya di sepanjang pantai Atlantik.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |