Iran Warning Antek-Antek Trump di Timteng, Selat Hormuz Jadi Taruhan

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran kembali menegaskan otoritasnya dalam mengendalikan pelayaran di Selat Hormuz. Negeri Persia tersebut juga memperingatkan negara-negara di kawasan Timur Tengah untuk tidak memihak Amerika Serikat (AS).

Pernyataan tegas dari Teheran muncul sehari setelah serangan terhadap kapal di dekat Oman. Insiden ini kembali menyoroti rapuhnya kesepakatan awal dengan AS untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Iran menanggapi pernyataan bersama AS dan 6 negara Timur Tengah yang menolak keras klaim Iran bahwa mereka berhak memungut biaya dari kapal-kapal yang melintasi Hormuz.

"Pelayaran yang aman melalui Selat Hormuz tidak dapat dijamin di bawah pengaturan yang ambigu, rute paralel, atau pengambilan keputusan yang tidak memperhitungkan peran Iran," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi melalui platform X, dikutip dari Reuters, Sabtu (27/6/2026).

Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa tiga kapal tanker asing yang mencoba melakukan pelayaran tanpa izin di Selat Hormuz diperintahkan berbalik arah setelah menerima peringatan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Pihak berwenang tidak memberikan perincian lebih lanjut.

"Kami mengetahui laporan-laporan tersebut dan sedang memeriksanya. Presiden (Donald) Trump telah menegaskan bahwa Iran tidak boleh menghambat kelancaran lalu lintas di Selat Hormuz," kata seorang pejabat pemerintah AS.

Harga minyak turun lebih dari 3% pada Jumat (26/6) dan mengalami tren merosot selama sepekan. Padahal, masih ada perbedaan penafsiran mengenai kesepakatan sementara antara AS-Iran.

Sebagai informasi, Selat Hormuz melakukan jalur krusial yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Data pengapalan menunjukkan Saudi Aramco kembali melakukan pemuatan minyak mentah pada Jumat (26/6) di terminal Ras Tanura miliknya, yakni pelabuhan minyak terbesar di dunia, setelah sempat terhenti selama hampir empat bulan.

Pengiriman pupuk melalui Selat Hormuz juga sudah meningkat, sehingga membantu meredakan kekhawatiran akan lonjakan harga pangan global akibat penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan.

Peringatan dari Amerika

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio baru saja menyelesaikan kunjungan ke kawasan Timur Tengah untuk meyakinkan sekutu regional yang merasa cemas terkait kesepakatan sementara AS-Iran. Rubio mengatakan pada Kamis (25/6) bahwa jika Iran mengancam atau menghalangi kapal-kapal di Selat Hormuz, maka masalah akan timbul.

Dalam sebuah pernyataan bersama, Rubio dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menyerukan "navigasi yang bebas, tanpa syarat, dan tanpa hambatan" di Selat Hormuz, tanpa pungutan biaya maupun upaya untuk menegakkan kendali.

Mereka menyatakan bahwa perdamaian yang langgeng harus mencakup penanganan masalah rudal balistik, pesawat nirawak (drone), dan dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok proksi.

Kementerian Luar Negeri Iran menanggapi pada Jumat (26/6) dengan menyatakan bahwa kehadiran militer AS di Timur Tengah merupakan sumber ketidakamanan dan perpecahan di kawasan tersebut. Pemerintah Iran juga menegaskan bahwa selat itu seharusnya dikelola oleh Iran dan Oman sesuai dengan ketentuan kesepakatan sementara.

"Kami memperingatkan agar kebijakan yang bermusuhan dan bersifat intervensionis di kawasan ini tidak dilanjutkan," demikian pernyataan tersebut.

Teheran mengambil kendali efektif atas jalur perairan itu setelah serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 yang memicu perang. Konflik ini mengganggu aliran minyak serta mengguncang pasar energi global dan perekonomian secara luas.

Iran kemudian melancarkan serangan terhadap Israel dan negara-negara Timur Tengah yang menampung pangkalan militer AS. Sementara itu, milisi Hizbullah yang bersekutu dengan Iran menyerang Israel dari Lebanon, sehingga memicu kembali konflik di wilayah tersebut.

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Tertinggi Iran, mengeluarkan peringatan kepada sekutu-sekutu Washington di Timur Tengah.

"Stabilitas negara-negara Arab di Teluk Persia bergantung pada pengelolaan Selat Hormuz oleh Iran selama berabad-abad. Kelangsungan hidup strategis mereka bergantung pada toleransi Teheran," ujar Velayati melalui platform X.

Evergreen Marine asal Taiwan (2603.TW) menyatakan pada Jumat (26/6) bahwa kapal mereka yang berbendera Singapura, Ever Lovely, terkena hantaman "objek tak dikenal" di dekat Oman pada Kamis (25/6) saat melintasi rute yang direkomendasikan oleh badan angkatan laut Inggris, UKMTO.

Tidak ada korban luka dalam kejadian tersebut, dan kapal itu melanjutkan perjalanannya keluar dari Selat Hormuz.

Dua pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa Iran telah menembaki kapal tersebut. Otoritas Selat Teluk Persia Iran menyatakan bahwa pelayaran melalui rute yang tidak diizinkan akan menjadi "tanggung jawab pemilik, operator, dan komandan kapal".

Pemerintah AS tidak segera memberikan komentar.

Trump sebelumnya memperingatkan bulan ini bahwa jika Iran tidak mematuhi kesepakatan sementara, termasuk membuka kembali Selat Hormuz, AS kemungkinan akan kembali membom negara itu.

Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung mengatakan pada Jumat (26/6) bahwa tiga kapal Korea Selatan akan meninggalkan Selat Hormuz pada akhir pekan, setelah Kementerian Kelautan melaporkan bahwa delapan kapal Korea Selatan lainnya telah keluar.

Peringatan Israel ke Lebanon

Perbedaan pendapat juga masih berlanjut terkait aspek-aspek lain dari kerangka kesepakatan gencatan senjata, termasuk mengenai insentif keuangan bagi Iran, inspeksi nuklir, dan perang paralel Israel di Lebanon.

Kesepakatan tersebut menetapkan masa perundingan selama 60 hari untuk membahas isu-isu yang lebih pelik, termasuk program nuklir Iran.

Di saat bersamaan, Israel menyebarkan selebaran di kota Mansouri, Lebanon selatan, pada Jumat (26/6) yang memerintahkan penduduk untuk pergi, menurut laporan media pemerintah Lebanon. Ini merupakan perintah pertama semacam itu sejak gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah mulai berlaku.

Israel menyatakan akan tetap menempatkan pasukannya di wilayah yang mereka sebut sebagai "zona penyangga" di Lebanon selatan, dengan tujuan mencegah serangan Hizbullah ke wilayah utara Israel.

Iran menuntut penarikan penuh pasukan Israel dan menyatakan bahwa gencatan senjata di Lebanon merupakan bagian tak terpisahkan dari kesepakatan sementara dengan AS yang telah menghentikan permusuhan.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan pada Jumat (26/6) bahwa setiap serangan Iran terhadap Israel akan menjadi "kesalahan terbesar" bagi Teheran.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |