Harga Emas Babak Belur 'Dihajar' Ekspektasi Suku Bunga The Fed

3 hours ago 1

Review Sepekan

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia

27 June 2026 06:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia menutup akhir pekan ini dengan penguatan nyaris 2 persen, melanjutkan tren positif dari hari sebelumnya.

Berdasarkan data Refinitiv, harga emas dunia pada perdagangan Jumat (26/6/2026) ditutup di US$4.088,23 per troy ons atau melaju 1,55% dari posisi hari kemarin. Sementara secara mingguan, kinerja emas tercatat masih melemah 1.73% dibandingkan pekan lalu.

Harga emas dunia sepanjang minggu ini berada dalam tren penurunan, bahkan dalam titik terendah menyentuh US$3.958 per troy ons pada Rabu (24/6/2026) dan posisi terendah sejak November 2026.

Tren bearish emas dunia pada pekan ini, termasuk yang menyeretnya ke posisi terendah dalam tujuh bulan tersebut adalah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga.

Penguatan dolar AS membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga menekan permintaan.

Pelaku pasar juga semakin yakin bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga tahun ini setelah bank sentral mengadopsi nada yang lebih hawkish dalam pertemuan kebijakan terakhirnya. Kekhawatiran inflasi akibat perang Iran juga memperkuat ekspektasi tersebut.

"Pasar kini mulai memperkirakan kenaikan suku bunga bisa terjadi secepat September. Sikap hawkish The Fed, lonjakan dolar AS ke level tertinggi dalam 13 bulan, serta menurunnya ekspektasi inflasi memberikan tekanan besar terhadap logam mulia," ujar Tai Wong, pedagang logam independen.

Ia menambahkan, emas memiliki level dukungan (support) di bawah US$3.900 per troy ons, sementara pembelian oleh bank-bank sentral masih terus berlangsung sehingga peluang terjadinya kejatuhan harga yang lebih dalam relatif kecil.

"Namun, emas kemungkinan akan memasuki periode konsolidasi yang cukup panjang karena saat ini aset tersebut mulai kehilangan daya tarik di mata investor," katanya.

Emas cenderung kurang diminati ketika suku bunga naik karena tidak memberikan imbal hasil (yield).

Adapun harga emas mulai bangkit pada dua hari perdagangan di penghujung pekan didorong oleh inflasi Amerika Serikat (AS) dirilis sesuai dengan ekspektasi pasar.

Kondisi ini meredakan sebagian kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed) akan segera menaikkan suku bunga, sekaligus mendorong pelemahan dolar AS dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.

"Data PCE tampaknya sebagian besar sesuai dengan ekspektasi. Itu menjadi salah satu alasan mengapa harga emas relatif stabil hari ini," ujar David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, kepada Reuters.

Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) AS melonjak 4,1% dalam 12 bulan hingga Mei. Angka tersebut merupakan kenaikan terbesar sekaligus pertama kalinya inflasi PCE menembus level 4% sejak April 2023. Hasil ini sejalan dengan proyeksi ekonom yang disurvei Reuters.

Setelah data tersebut dirilis, dolar AS mulai melemah, sehingga emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih murah bagi pembeli di luar negeri. Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga turun tipis.

Berdasarkan data CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 80% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember. Angka tersebut turun dari 85% sebelum data PCE dirilis, namun masih lebih tinggi dibanding 61% sebelum pernyataan kebijakan The Fed pekan lalu.

"Fokus utama pasar tetap akan tertuju pada tekanan inflasi ke depan. Itulah salah satu alasan mengapa harga emas terus melemah dalam beberapa sesi perdagangan terakhir," tambah Meger.

(ras/ras)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |