Jakarta, CNBC Indonesia - Iran siap mengizinkan kapal-kapal yang terkait dengan Jepang melintasi Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi penghubung utama bagi sekitar 93% impor minyak mentah Jepang.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa pembahasan terkait kebijakan ini telah dimulai antara kedua negara. Hal itu disampaikan dalam transkrip wawancara Araghchi dengan Kyodo News yang diunggah melalui akun Telegramnya pada Sabtu. Ia mengatakan, isu ini juga telah dibahas dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi pada Selasa lalu.
Berbicara dalam sebuah program televisi pada Minggu, Motegi enggan merinci isi pembicaraan tersebut. Namun, ia menyatakan diskusi yang dilakukan berfokus pada pentingnya menjaga kelancaran perdagangan.
"Saya menekankan bahwa keselamatan kapal-kapal ini sangat penting dari perspektif Jepang, karena begitu banyak kapal yang terlibat, kami percaya sangat penting untuk menciptakan situasi di mana semua kapal tersebut dapat melewatinya," kata Motegi dikutip dari Japan Times, Senin (23/3/2026).
Dalam sebuah terobosan diplomatik dengan Teheran, Motegi menyatakan dalam program televisi yang sama bahwa satu dari dua warga negara Jepang yang sebelumnya ditahan di Iran telah dibebaskan pada Rabu lalu. Warga tersebut kemudian melakukan perjalanan melalui Azerbaijan sebelum akhirnya tiba di Jepang pada Minggu.
Pembukaan kembali Selat Hormuz setelah penutupan efektif di tengah konflik AS-Israel melawan Iran menjadi salah satu perhatian utama Jepang.
Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membantah bahwa jalur vital tersebut benar-benar ditutup. Dalam transkrip wawancara, ia menegaskan bahwa Selat Hormuz masih tetap terbuka.
"Selat itu hanya ditutup untuk kapal-kapal milik musuh kita, negara-negara yang menyerang kita. Untuk negara lain, kapal dapat melewati selat tersebut," katanya.
Mengenai masalah keselamatan kapal, diplomat senior Iran itu mengatakan bahwa Iran "siap menyediakan jalur aman bagi mereka."
"Mereka hanya perlu menghubungi kami untuk membahas bagaimana rute ini akan berjalan," katanya.
Saat disinggung apakah pemerintah Jepang telah mengajukan permintaan resmi untuk menyeberangi selat tersebut, Araghchi menolak berkomentar, mengatakan bahwa pembicaraan sedang berlangsung.
Meskipun sebagian besar negara anggota Kelompok Tujuh (G7) memiliki hubungan yang cenderung tegang dengan Iran, Jepang tetap mempertahankan hubungan yang relatif lebih bersahabat dengan Teheran. Kondisi ini dinilai dapat memberikan ruang bagi Tokyo untuk memiliki pengaruh diplomatik yang lebih besar dibandingkan negara-negara G7 lainnya.
Pernyataan Araghchi disampaikan di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menuntut Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam atau menghadapi konsekuensi serius.
Dalam unggahan di media sosial pada Sabtu, Trump memperingatkan bahwa jika Iran tidak membuka jalur tersebut tanpa ancaman, AS akan mengambil tindakan militer.
"Jika Iran tidak sepenuhnya membuka, tanpa ancaman, Selat Hormuz dalam 48 jam, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar terlebih dahulu," tulisnya.
(hsy/hsy)
Addsource on Google


















































