Imbauan Waspada untuk Warga Pesisir karena Gunung Anak Krakatau Siaga

6 hours ago 5
Jakarta -

Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda antara Lampung dan Banten kini berada di status Level III (Siaga). Warga di sekitar pesisir pantai diminta waspada.

Sebagaimana diketahui, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaikkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda antara Lampung dan Banten dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Kapal-kapal yang melintas di Selat Sunda diminta waspada.

"Sehubungan dengan peningkatan status aktivitas Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda menjadi Level III (Siaga) berdasarkan informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dengan ini disampaikan kepada seluruh nakhoda, pemilik/pengusaha kapal, perusahaan pelayaran, agen kapal, serta seluruh pengguna jasa angkutan laut yang melaksanakan pelayaran di perairan Selat Sunda agar meningkatkan kewaspadaan demi keselamatan pelayaran," kata Kepala Kantor KSOP Kelas I Banten Raden Yogie Nugraha, dalam keterangannya, Sabtu (4/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut ini 5 arahan yang dikeluarkan:

1. Seluruh kapal yang melintas di Perairan Selat Sunda agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang dapat berupa letusan, lontaran material vulkanik, abu vulkanik, maupun gangguan terhadap keselamatan navigasi.

2. Nakhoda agar senantiasa memantau perkembangan informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau yang diterbitkan oleh PVMBG, BMKG, dan instansi pemerintah terkait.

3. Kapal dilarang mendekati kawasan dalam radius 5 (lima) kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau sesuai rekomendasi PVMBG selama status Level III (Siaga) masih berlaku.


4. Nakhoda agar melakukan perencanaan pelayaran dengan memperhatikan kondisi cuaca, arah sebaran abu vulkanik, serta informasi keselamatan pelayaran yang diterbitkan oleh instansi berwenang.

5. Dalam hal ditemukan indikasi bahaya yang dapat mengganggu keselamatan pelayaran, nakhoda agar segera mengambil tindakan penghindaran yang diperlukan serta melaporkan kepada Vessel Traffic Service (VTS), Stasiun Radio Pantai, Syahbandar terdekat, atau instansi terkait.

6. Seluruh penyelenggara pelayaran agar mengutamakan keselamatan pelayaran sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Seperti diketahui, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaikkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda antara Lampung dan Banten. Status Gunung Anak Krakatau naik dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan peningkatan status tersebut didasarkan pada hasil pemantauan visual dan instrumental yang menunjukkan kenaikan signifikan aktivitas gunung api itu dalam beberapa waktu terakhir.

"Peningkatan aktivitas ini menunjukkan adanya suplai magma ke permukaan, sehingga masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius yang telah direkomendasikan," kata Lana Saria dilansir Antara, Jumat (3/7).

BPBD Minta Warga Waspadai Erupsi Gunung Anak Krakatau

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pandeglang, Banten, mengimbau masyarakat pesisir mewaspadai peningkatan erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Hal itu dilakukan demi menjaga keselamatan masyarakat dari dampak peristiwa tersebut.

"Kita sudah menyampaikan peringatan waspada erupsi Gunung Anak Krakatau kepada masyarakat, aparatur kecamatan hingga desa," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Strategi BPBD Pandeglang Acep Firmansyah di Pandeglang, dilansir Antara, Sabtu (4/7/2026).

Berdasarkan pemantauan, situasi pesisir pantai Pandeglang relatif aman. Acep meminta masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh adanya peningkatan erupsi GAK.

Masyarakat tetap melaksanakan kegiatan, seperti jual beli di pasar, sedangkan pelayanan kesehatan di puskesmas dan rumah sakit di daerah itu tetap normal.

Meski begitu, Acep minta masyarakat pesisir Pandeglang agar tenang namun tetap waspada terkait dengan peningkatan aktivitas erupsi GAK. Aktivitas vulkanik GAK hingga saat ini berstatus Level III atau Siaga, sedangkan sebelumnya Level II atau Waspada.

"Kami minta nelayan, wisatawan, dan warga agar tidak mendekati kawasan GAK, karena khawatir terdampak bebatuan pijar. Petugas merekomendasikan radius 5 kilometer dari gunung," ucap Acep.

Sejumlah pedagang di Labuan Pandeglang mengaku bersama pedagang lainnya tetap melaksanakan aktivitas secara normal karena sudah terbiasa dengan peningkatan erupsi GAK.

"Kami tetap tenang, namun tetap waspada, serta jangan sampai terulang kembali tsunami 2018 hingga ratusan orang meninggal dan ribuan orang mengungsi," kata Suherman, warga Labuan Pandeglang.

Nelayan Tetap Melaut

Sementara itu, nelayan di Kabupaten Pandeglang, Banten tetap melaut untuk mencari ikan. Mereka merasa tak ada kendala.

"Nelayan mah biasa saja, tetap beraktivitas, tidak ada kendala," kata Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Ranting Labuan, Jumami, saat dimintai konfirmasi wartawan, Minggu (5/7/2026).

Jumami mengatakan pihaknya hanya mengimbau para nelayan agar tetap waspada dan berhati-hati. HNSI belum mengeluarkan surat edaran untuk meminta nelayan menghentikan aktivitas mencari ikan terkait peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

"Yang jelas tetap hati-hati karena ada imbauan, tetapi semua tetap melaut," imbuhnya.

Jumami menyebutkan aktivitas mencari ikan akan terus dilakukan nelayan selagi masih ada situasi memungkinkan. Dia mengatakan nelayan berupaya memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

"Kalau misalnya dilarang melaut, yang menjamin kehidupan nelayan siapa?" ucapnya.

Jumami menyebutkan sejumlah nelayan dan warga memang khawatir ketika mendengar informasi bahwa Gunung Krakatau yang berada di tengah laut itu, naik status menjadi level siaga. Namun, menurut dia, mereka sudah terbiasa dengan hal itu.

"Kekhawatiran tetap ada. Tapi erupsi Anak Krakatau bukan baru kali ini, dari dulu juga sudah beberapa kali terjadi, jadi nelayan sudah terbiasa," katanya.

Jumami mengungkapkan para nelayan mengeluhkan perihal pendapatan yang makin sedikit. Menurut dia, selama beberapa bulan terakhir, hasil tangkapan ikan nelayan menurun 5-10 persen.

"Keluhan sementara justru lagi paceklik, itu yang sekarang dirasakan nelayan. Penurunannya sekitar 5 persen sampai hampir 10 persen," ujarnya

(rdp/rdp)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |