- Pasar keuangan Tanah Air ditutup cerah, IHSG menguat tajam, rupiah menguat, meski pasar obligasi masih tertekan.
- Wall Street bangkiti ditopang saham teknologi
- Pasar hari ini akan mencermati keputusan suku bunga BI hingga data ekonomi Jepang dan Inggris.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia ditutup cukup cerah pada perdagangan kemarin, Selasa (21/7/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat tajam, rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun kembali naik tipis.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan bergerak dinamis pada perdagangan hari ini, Rabu (22/7/2026).
Perhatian pelaku pasar akan tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang diumumkan siang nanti.Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG ditutup melesat 1,74% ke level 6.340,02 pada perdagangan Selasa (21/7/2026).
Penguatan tersebut menunjukkan momentum IHSG masih cukup kuat. Indeks saham domestik bahkan berhasil memperpanjang reli menjadi sembilan hari perdagangan beruntun.
Sepanjang perdagangan, sebanyak 421 saham menguat, 205 saham stagnan, dan hanya 169 saham melemah.
Aktivitas transaksi juga terlihat ramai. Volume perdagangan mencapai 51,06 miliar lembar saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp21,50 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 2,94 juta kali.
Investor asing pun tercatat kembali melakukan net buy dengan total Rp31,36 miliar.
Dari sisi sektoral, mayoritas sektor kompak bergerak di zona hijau. Sektor utilitas memimpin penguatan dengan kenaikan 4,68%, disusul properti 3,97%, barang baku 3,53%, dan energi 2,95%.
Sektor kesehatan menjadi satu-satunya sektor yang melemah pada perdagangan kemarin.
Adapun emiten penggerak utama IHSG adalah Amman Mineral Internasional (AMMN) dengan kontribusi 11,82 indeks poin, disusul Dian Swastatika Sentosa (DSSA) sebesar 10,74 indeks poin, dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar 7,31 indeks poin.
Beralih ke pasar valuta asing, nilai tukar rupiah juga berhasil ditutup perkasa terhadap dolar AS pada perdagangan kemarin.
Melansir Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di posisi Rp17.875/US$, menguat 0,28% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.930/US$.
Penguatan rupiah sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan. Mata uang Garuda dibuka menguat tipis 0,06% ke level Rp17.920/US$.
Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di rentang Rp17.860-Rp17.945/US$.
Pergerakan rupiah masih dipengaruhi dinamika dolar AS. Indeks dolar AS melemah tipis pada sore hari, meskipun posisinya masih berada dekat level 101.
Meski begitu, harapan meredanya konflik masih terbuka setelah Teheran menerima proposal gencatan senjata selama 10 hari dari para mediator. Kabar tersebut ikut meredakan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman dan memberi ruang bagi rupiah untuk menguat.
Sementara itu, imbal hasil SBN tenor 10 tahun kembali bergerak naik pada perdagangan Selasa kemarin.
Yield SBN 10 tahun naik 0,10% ke level 7,297%.Kenaikan yield menunjukkan harga SBN sedang mengalami tekanan. Di pasar obligasi, yield bergerak berlawanan arah dengan harga. Saat yield naik, harga obligasi cenderung turun.
Addsource on Google

















































