Heboh Gerakan Partai Kecoa di India, Punya 22 Juta Pengikut

5 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Gerakan politik baru muncul di kalangan anak muda di India. Gerakan yang menjadikan kecoa sebagai maskotnya tersebut mendadak viral di beragam media sosial.

Baru diluncurkan pada pertengahan Mei, Cockroach Janta Party (CJP) sudah berhasil mengumpulkan lebih dari 22 juta pengikut di Instagram.

Gerakan satir ini diluncurkan pada 16 Mei oleh ahli strategi komunikasi politik sekaligus mahasiswa Boston University, Abhjeet Dipke. Gerakan itu muncul sebagai respons terhadap komentar Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, dalam sebuah sidang yang menyebut sebagian anak muda pengangguran sebagai parasit dan kecoa.

Tidak tersinggung dengan julukan itu, para pendukung justru mengadopsi kecoa sebagai simbol perlawanan. CJP juga mengkalim memiliki lebih dari satu juta anggota dan menggambarkan dirinya sebagai "suara bagi mereka yang malas dan menganggur".

Tapi ahli menilai masih sedikit bukti yang menunjukkan dukungan nyata di lapangan terhadap partai tersebut. Mereka mengatakan skala demonstrasi akhir pekan ini menjadi penentu apakah gerakan itu hanya fenomena media sosial atau berkembang menjadi peristiwa yang dapat mempengaruhi pasar dan politik.

Kepala Riset Asia di Verisk Maplecroft, Reema Bhattacharya, menilai pemerintah wajib menjaga kepercayaan investor untuk dapat menikmati proses ekonomi lebih baik dari sebelumnya. Tapi menurutnya, di berbagai negara Asia, keyakinan tersebut semakin sulit dipertahankan. Gerakan ini mencerminkan meningkatnya frustasi generasi muda terhadap janji yang belum terwujud.

"Ada frustrasi yang meningkat karena bonus demografi yang selama ini banyak dibicarakan tampaknya menghasilkan efek tidak merata setelah lebih dari satu dekade janji dan harapan politik," ujar Bhattacharya, mengutip CNBC International, Minggu (7/6/2026).

Perekonomian India sendiri berada di bawah tekanan sejak dimulainya perang Iran, karena gangguan pasokan energi menyebabkan nilai tukar rupee melemah terhadap dolar AS. Selain itu, muncul kekhawatiran terkait perlambatan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya inflasi.

Di tengah kondisi tersebut, para ahli menilai penciptaan lapangan kerja masih menjadi tantangan terbesar bagi negara dengan populasi anak muda terbesar di dunia itu.

Dalam surat terbuka pada April lalu, perusahaan riset ekuitas global Bernstein memperingatkan Perdana Menteri Narendra Modi mengenai krisis ketenagakerjaan yang semakin dalam di India. Kehadiran AI generatif juga diperkirakan memperlambat perekrutan tenaga kerja di sektor teknologi informasi India, sementara lapangan kerja manufaktur belum menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Dalam konferensi pers, CJP tidak hanya menyoroti isu pengangguran. Gerakan ini juga menuntut pertanggungjawaban pemerintah terkait dugaan kejanggalan dalam sejumlah ujian nasional dan masuk perguruan tinggi yang dilaporkan mempengaruhi jutaan siswa.

(hsy/hsy)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |