Jakarta, CNBC Indonesia — Harga minyak dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Selasa pagi (3/2/2026), setelah tekanan tajam di awal pekan mulai mereda. Pelaku pasar kini menimbang ulang arah pasar, di tengah sinyal de-eskalasi geopolitik global dan penguatan dolar AS yang masih membatasi ruang penguatan.
Berdasarkan Refinitv hingga pukul 10.30 WIB, minyak mentah Brent berada di level US$65,81 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) tercatat di US$61,74 per barel.
Harga masih berusaha bertahan setelah anjlok lebih dari 4% pada perdagangan sebelumnya.
Secara historis, tekanan jual terlihat cukup tajam dalam sepekan terakhir.
Brent sempat berada di atas US$70 per barel pada 29-30 Januari 2026 sebelum terkoreksi ke area US$65-66.
Pola serupa juga terjadi pada WTI yang turun dari kisaran US$65 menuju US$61-62 dalam periode yang sama. Pergerakan ini mencerminkan perubahan sentimen pasar yang cepat dari risk premium ke risk-off.
Salah satu faktor utama yang meredam volatilitas harga adalah meredanya kekhawatiran geopolitik di Timur Tengah. Pasar merespons sinyal terbukanya kembali jalur dialog antara Amerika Serikat dan Iran, yang memicu ekspektasi berkurangnya risiko gangguan pasokan dari kawasan produsen utama minyak dunia.
Namun di sisi lain, penguatan dolar AS menjadi penahan laju kenaikan harga minyak. Dolar yang berada di level tinggi membuat minyak mentah berdenominasi dolar menjadi lebih mahal bagi negara importir, sehingga permintaan cenderung tertahan, terutama dari negara-negara berkembang.
Dari sisi perdagangan global, dinamika pasokan juga ikut membentuk sentimen. Pergeseran pola impor minyak oleh negara konsumen besar, khususnya di Asia, menambah ketidakpastian jangka pendek. Penurunan pembelian dari satu sumber pasokan dan diversifikasi ke pemasok lain membuat pasar masih mencari keseimbangan baru.
Sementara itu, kebijakan OPEC+ yang memilih mempertahankan tingkat produksi pada Maret memberi sinyal bahwa kelompok produsen belum melihat urgensi untuk menambah pasokan dalam waktu dekat. Dengan tambahan kuota produksi yang sudah cukup signifikan sepanjang 2025, pasar menilai suplai global masih relatif terjaga.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(emb/emb)
[Gambas:Video CNBC]


















































