Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara terbang ke level US$ 150 per ton untuk pertama kalinya sejak 8 Juni 2026 atau dua bulan lebih.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Kamis (3/9/2026) ditutup di posisi US$ 150, 35 per ton. Harganya menguat 0,97%.
Kenaikan ini memperpanjang reli batu bara dengan menguat tujuh hari beruntun dengan total penguatan 8,63%.
Kenaikan ini juga membawa harga batu bara menyamai harga pada 8 Juni 2026. Bila dihitung harga lebih tinggi maka harga kemarin adalah rekor terbaik sejak 14 Oktober 2024 atau 23 bulan terakhir atau hampir dua tahun.
Yang menarik, sejak 2024 hingga Agustus 2026, hanya enam kali batu bara menyenyuh level US$ 150 per ton.
Harga Batu Bara Melonjak, RI Jadi Salah Satu Penyebabnya
Pasar impor batu bara termal China kembali menguat. Dilaporkan Sxcoal, kenaikan didorong semakin ketatnya pasokan dari Indonesia, meningkatnya biaya pengadaan ulang, serta efek positif dari penguatan pasar domestik China.
Ketersediaan batu bara Indonesia untuk pasar ekspor disebut semakin terbatas. Kondisi ini membuat pembeli China harus menghadapi biaya pengadaan yang lebih tinggi.
Penguatan juga mendapat dorongan dari sentimen bullish di pasar batu bara domestik China. Sementara itu, gangguan cuaca di Indonesia, termasuk dampak El Niño terhadap jalur pengangkutan batu bara, berpotensi semakin memperketat pasokan melalui jalur laut.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor batu bara naik 4,75% menjadi US$14,47 miliar pada Januari-Juli 2026, dari US$13,81 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, kenaikan nilai tersebut berbanding terbalik dengan volume ekspor. Pengiriman batu bara Indonesia turun 6,17% menjadi 201,47 juta ton, dari sebelumnya 214,71 juta ton.
Kondisi tersebut menjadi katalis bagi harga batu bara Asia, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan pembangkit China menjelang periode permintaan listrik yang tinggi.
Harga coking coal China juga terus menguat, tetapi kenaikan mulai menghadapi resistensi dari pembeli, terutama perusahaan baja di hilir.
Kenaikan harga bahan baku membuat biaya produksi kokas meningkat, sehingga produsen kokas kembali menaikkan harga.
Namun, pasar mulai khawatir pembeli baja tidak mampu menerima kenaikan harga bahan baku lebih lanjut, terutama setelah harga kokas sudah naik beberapa kali.
Dengan demikian, pasar menghadapi tarik-menarik antara pasokan coking coal yang ketat dan biaya produksi yang meningkat dengan kemampuan industri baja menyerap kenaikan harga.
Di China, lonjakan harga di tambang membuat pengiriman ke pelabuhan menjadi kurang menguntungkan. Volume pengiriman melalui Kereta Api Daqin turun di bawah 800.000 ton per hari, sehingga pasokan masuk berkurang dan stok pelabuhan terus menyusut.
Di pelabuhan Gants Mod yang merupakan salah satu jalur utama impor batu bara dari Mongolia juga berkurang pasokannya. Sejak 14 Agustus, Mongolia mengalami kekurangan pasokan solar. Sebagian besar solar Mongolia diimpor dari Rusia, yang memperpanjang larangan ekspor solar hingga akhir September.
Keterbatasan bahan bakar membuat kapasitas angkutan jarak pendek dari lokasi tambang berkurang. Jumlah truk yang keluar-masuk pelabuhan turun hampir setengahnya. Hingga awal September, lalu lintas truk hanya sekitar 600-700 unit per hari.
Ditambah penurunan produksi domestik, berkurangnya impor batu bara Mongolia menjadi salah satu faktor utama yang membuat pasar batu bara China semakin ketat.
Secara keseluruhan, pasokan batu bara kokas di Shanxi, provinsi penghasil terbesar batu bara di China, masih ketat.
Per Rabu (2/9/2026), sebanyak 46 tambang batu bara kokas masih berhenti beroperasi dengan total kapasitas 49,30 juta ton. Meski demikian, jumlah tersebut sudah turun 73 tambang dibandingkan puncaknya pada Mei, menunjukkan adanya sedikit perbaikan pasokan.
Stok batu bara di sembilan pelabuhan utama utara China turun menjadi sekitar 24 juta ton, atau sekitar 11% di bawah level tertingginya baru-baru ini. Pertumbuhan tahunan juga menyempit menjadi sekitar 8%.
Dengan pasokan tambang yang belum pulih, pengiriman ke pelabuhan diperkirakan tetap rendah dan stok berpotensi terus turun.
Lonjakan harga energi juga membuat prioritas energi global kini semakin bergeser dari fokus net-zero menuju pendekatan yang lebih mengutamakan ketahanan dan keamanan energi. Kondisi ini mendorong permintaan dan mengerek harga batu bara, sekaligus menguntungkan perusahaan-perusahaan di sektor tersebut.
Indeks acuan COAL, yakni VettaFi Global Coal Index, melonjak 23,4% pada Agustus. Kenaikan ini menunjukkan masih pentingnya bahan bakar fosil dalam memenuhi kebutuhan energi saat permintaan mencapai puncaknya.
Meski agenda net-zero dalam beberapa tahun terakhir membatasi investasi pada fasilitas tambang baru, produsen batu bara yang sudah beroperasi kini menikmati manfaat dari pasokan yang ketat. Arus kas perusahaan-perusahaan utama bahkan mencapai level tertinggi dalam beberapa kuartal terakhir.
(mae/mae)


















































