Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara akhirnya menanjak setelah ambruk lima hari beruntun.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Kamis (26/2/2026) ada di posisi US$ 117,6 atau naik 0,3%.
Penguatan ini memutus tren negatif harga batu bara yang ambruk 4% dalam lima hari beruntun sebelumnya.
Harga batu bara termal di pelabuhan utara China menguat karena biaya impor yang meningkat dan pasokan impor yang lebih ketat. Kenaikan harga impor membuat batu bara domestik menjadi lebih kompetitif dan mendorong harga pelabuhan tetap bertahan atau naik.
Kenaikan juga disebabkan makin terbatasnya pasokan impor. Ketersediaan batu bara impor menurun, termasuk akibat kendala ekspor dan kebijakan produksi di negara pemasok.
Stok batu bara di pelabuhan utama kawasan Bohai seperti Qinhuangdao, Caofeidian, Jingtang, Huanghua lebih rendah dibanding tahun lalu.
Namun, kenaikan harga tertahan karena aktivitas perdagangan masih lambat karena pembeli menilai harga terlalu tinggi. Banyak pengguna akhir mengambil sikap wait-and-see sehingga harga tidak melonjak.
Selain itu, stok batu bara di pembangkit listrik relatif tinggi setelah periode libur, sehingga kebutuhan pembelian belum mendesak.
Sebagian pelaku pasar memperkirakan harga masih bisa naik jika kendala impor berlanjut. Namun ada risiko kenaikan terbatas jika produksi domestik meningkat atau permintaan memasuki musim sepi.
Sementara itu di pasar batu bara kokas, setelah libur panjang Spring Festival di China, pasokan batu bara kokas kembali lebih cepat dibanding permintaan. Kondisi ini menciptakan ketidakseimbangan di pasar batu bara kokas domestik.
Pasokan dari tambang yang dilanjutkan pasca liburan segera kembali normal, bahkan meningkat, sementara permintaan dari pabrik kokas dan produsen baja masih lambat pulih karena mereka cenderung menggunakan stok lama dan belum agresif membeli kembali.
Kondisi ini menyebabkan aktivitas perdagangan tetap lesu dan tekanan pada negosiasi harga karena pembeli berhati-hati dan sentimen pasar tetap lemah.
Di sisi permintaan, pabrik kokas dan baja memilih menguras stok yang ada dan tidak segera restock, karena permintaan industri steel masih pada fase off-season dan sektor real estat yang melemah turut membatasi pembelian.
(mae/mae)
Addsource on Google


















































