Fenomena Jelang Lebaran: Warga Pilih Beli Baju Baru, Bukan Daging

7 hours ago 6
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Menjelang Lebaran, suasana belanja di Indonesia selalu terasa semakin ramai. Masyarakat berbondong-bondong ke pasar dan pusat perbelanjaan, bukan hanya untuk membeli kebutuhan makanan, tetapi juga untuk mencari pakaian baru.

Tradisi ini ternyata bukan fenomena baru, melainkan sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu, bahkan sejak masa kolonial Belanda.

Hal ini pernah dicatat oleh Christiaan Snouck Hurgronje, seorang pengamat kolonial yang banyak meneliti kehidupan masyarakat Muslim di Hindia Belanda lewat memoar berjudul Aceh di Mata Kolonialis (1906). Dalam pengamatannya di Aceh dan Batavia, dia melihat bagaimana geliat ekonomi meningkat drastis saat Ramadhan memasuki paruh kedua.

Menurut Snouck, pasar yang sebelumnya relatif sepi mulai hidup kembali dan berubah menjadi sangat ramai menjelang Lebaran. Puncaknya terjadi dalam tiga hari terakhir sebelum hari raya, yang di Aceh dikenal sebagai tradisi uroë meugang. Pada masa ini, masyarakat memadati pasar hingga suasananya menyerupai pesta besar.

Menariknya, meskipun penyembelihan hewan juga meningkat, perhatian utama masyarakat justru tertuju pada pembelian pakaian baru. Snouck mencatatpenjualan baju dan barang sejenis jauh lebih ramai dibandingkan kebutuhan lainnya. Ini menunjukkan bahwa sejak dulu, Lebaran tidak hanya soal makanan, tetapi juga soal penampilan dan simbol kebahagiaan.

"Jumlah hewan yang disembelih pada akhir puasa sama banyak dengan sewaktu puasa dimulai, tetapi penjualan baju-baju dan barang-barang yang sejenis jauh lebih ramai," ungkap Snouck.

Fenomena serupa juga terlihat di Batavia. Dalam catatan lain berjudul Nasihat-Nasihat Snouck Hurgronje Jilid IV (1991), Snouck menggambarkan Lebaran sebagai momen paling penting dalam setahun bagi masyarakat. Perayaan ini diisi dengan berbagai aktivitas, mulai dari silaturahmi, pesta, hiburan, hingga belanja besar-besaran. Bahkan, pengeluaran masyarakat untuk pakaian dan kebutuhan perayaan sering kali melonjak jauh dibandingkan hari biasa.

Dari catatan tersebut, terlihat jelas bahwa tradisi membeli baju baru saat Lebaran sudah mengakar kuat sejak masa kolonial. Lebaran menjadi momen spesial yang dirayakan bukan hanya dengan makanan, tetapi juga dengan simbol kebaruan-termasuk pakaian-sebagai wujud kebahagiaan dan perayaan bersama keluarga.

Hingga kini, kebiasaan itu tetap bertahan. Setiap menjelang Lebaran, pusat perbelanjaan kembali dipadati, dan satu hal yang hampir selalu ada dalam daftar belanja masyarakat adalah baju baru.

(mfa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |