Petite Bourgeoisie: Bayangan Masa Depan

4 hours ago 4

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Pengantar Serial Matinya Ilmu Ekonomi: Di tengah dunia yang terus bergerak cepat namun terasa semakin kosong, kami mengajak anda untuk berhenti sejenak, untuk menoleh ke belakang, menatap ke dalam, dan melihat ke depan.

Serial Matinya Ilmu Ekonomi bukan sekadar kumpulan kritik. Ia adalah upaya jujur untuk memandang ilmu ekonomi dari sudut yang jarang diterangi: dari sisi yang tidak selalu efisien, tidak selalu rasional, tapi sepenuhnya manusiawi.

Di sini, kami ingin menyegarkan kembali ingatan kita akan mengapa ekonomi ada, bukan hanya sebagai alat hitung, tetapi sebagai cermin kegembiraan, pencapaian, penderitaan, ketimpangan, dan harapan zaman.

Rafli pertama kali menemukan istilah itu bukan di pasar, bukan di rumah, bukan pula dari cerita ayahnya, melainkan di sebuah ruang kuliah di Sciences Po. Di kelas Sosiologi Ekonomi, istilah itu muncul sebagai bagian dari kerangka besar tentang bagaimana kelas sosial terbentuk dan bertahan.

Petite Bourgeoisie, Dosen Prancis itu menjelaskannya tanpa emosi, seperti menjelaskan hukum fisika. Ia adalah sebuah kelas yang berada di tengah. Tidak cukup besar untuk dilindungi oleh sistem kapital yang mapan. Tidak cukup kecil untuk sepenuhnya menjadi pekerja yang tunduk pada upah. Mereka memiliki sesuatu, usaha kecil dan keterampilan, tapi tidak cukup untuk merasa aman.

Mereka hidup dari keputusan sehari-hari. Dari kemampuan membaca pasar yang berubah-ubah, dan dari keberanian mengambil risiko tanpa jaring pengaman. Jika mereka salah, mereka jatuh sendiri. Jika mereka benar, mereka hanya bertahan. Mereka adalah penyangga perekonomian di masa lalu, ketika kita belum begitu mengenal formalitas.

Dan, kata dosen itu, dalam banyak teori klasik, terutama yang dipengaruhi oleh pemikiran Marx, kelas ini dianggap tidak stabil. Akan terserap oleh kapital besar, atau jatuh menjadi kelas pekerja, akan hilang.

Rafli mencatat kalimat itu. Seperti semua mahasiswa lain di ruangan itu. Tapi entah kenapa, ia tidak bisa melanjutkan menulis. Kata itu tidak terasa seperti teori. Ia terasa... seperti sesuatu yang pernah ia lihat di masa kecilnya.

Dan tanpa diminta, sebuah gambar muncul di kepalanya, foto seorang laki-laki tua berdiri di depan toko kain di Bukittinggi. Gulungan-gulungan warna tergantung di belakangnya, merah, biru, kuning yang mulai pudar dimakan waktu. Wajahnya tenang, tidak besar, dan tidak dicatat di dalam buku sejarah. Tapi ia berdiri tegak, seolah seluruh hidupnya, dengan segala ketidakpastiannya, ia pegang sendiri di tangannya.

Dia adalah Said Rahman, kakeknya Rafli, yang entah kenapa kehidupannya seperti dijelaskan di kelas Sciences Po siang itu. Ia tidak lagi mendengar suara dosen. Kelas masih berjalan, slide berganti, istilah baru muncul, tangan-tangan lain terus menulis. Tapi bagi Rafli, sesuatu sudah terlepas dari tempatnya. Ia menatap catatannya sendiri. Petite bourgeoisie: kelas yang akan hilang. Kalimat itu terasa terlalu sederhana, terlalu bersih. Kalau itu benar, bagaimana ia bisa sampai di sini?

Ia membayang menelusuri ulang hidupnya. Ia lahir di rumah yang tidak pernah kekurangan. Bukan kaya, tapi cukup. Cukup untuk tidak khawatir tentang besok, dan cukup untuk percaya bahwa dunia bisa diandalkan dan cukup untuk bisa bermimpi kuliah, ya sampai ke Sciences Po, Paris.

Ayahnya, Pak Adit, tidak pernah banyak bicara. Tapi hidupnya sendiri adalah penjelasan. Bangun pagi, berangkat ke kantor, pulang dengan ritme yang sama. Di ruang kerjanya di Bank Indonesia, dunia disusun dalam angka. Risiko dihitung. Ketidakpastian diberi nama. Semua bergerak dalam batas yang bisa dipahami. Dan bagi Rafli kecil, itu terasa seperti kebenaran. Bahwa hidup memang seharusnya seperti itu. Terukur, terjaga, terkendali.

Ia tidak pernah benar-benar bertanya tentang itu sebelumnya. Tentang bagaimana ayahnya bisa sampai di sana. Tentang apa yang harus ditinggalkan untuk membuat semua itu mungkin. Cerita tentang kakeknya selalu singkat. Pedagang kain, hidup sederhana, kerja keras.

Sampai sekarang. Duduk di Paris, dengan istilah yang bahkan tidak berasal dari dunianya sendiri, tapi seperti menjelaskan asal-usulnya, Rafli mulai melihat bahwa hidupnya bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Ia adalah hasil dari sebuah keputusan dan struktur. Rafli teringiang-ngiang kisah tentang kakeknya dulu.

Said Rahman dulu tentunya tidak pernah membaca Marx, Ia tidak pernah menyebut dirinya bagian dari kelas apa pun. Tapi ia tahu satu hal: bahwa dunia yang ia jalani, tidak akan cukup untuk anaknya. Dan dengan keyakinan itu, ia memilih sesuatu yang tidak pernah ia jalani sendiri: menyerahkan anaknya kepada sistem.
Ia memaksa Pak Adit kecil (ayah Rafli) untuk belajar. Tidak ada kompromi, Kalau terlalu lama membantu di toko, ia berkata pendek: "Sudah, Pulang, Belajar!"

Lapau pun menjadi tempat yang teramat dilarang. Kalau Pak Adit kecil terlihat duduk di sana, tertawa bersama yang lain, Said Rahman akan datang dan berkata tanpa ruang tawar: *"Kamu bukan untuk di sini."* Lalu kalimat yang terus diingat, bahkan tanpa pernah benar-benar dipahami: *"Kamu itu orang sekolah."*, kelak engkau akan jadi *orang berseragam*, ujarnya.

Tidak ada pujian, Tidak ada kelembutan, Yang ada hanya tekanan yang konsisten. Belajar, masuk kelas, jangan ikut-ikutan pasar. Seolah-olah ia sedang menutup jalan dan menarik anaknya keluar dari dunia yang ia kenal terlalu baik dan tidak ingin diwariskan.

Dan dari situlah sesuatu lahir. Pak Adit tidak lagi menjadi anak pasar, Ia menjadi anak sekolah. Buku menggantikan lapau, ruang kelas menggantikan toko, kelak ia bukan lagi Petite Bourgeoisie seperti ayahnya. Ia menjadi orang berseragam, orang berdasi, orang yang hidup dari sistem. Said Rahman tidak pernah menyebutnya sebagai transformasi sosial. Tapi setiap langkah anaknya terasa seperti kemenangan. Dan mereka tidak sendiri.

Di Jakarta, cerita itu berulang. Ada kisah teman kuliah Pak Adit, Marten namanya, asli Tarutung, keluarga besarnya satu kampung urunan, sampai menggadaikan hasil panen yang belum jadi untuk mengirim dia ke Jakarta.

Lalu ada pula Raden Mas Slamet yang sangat lucu, anak petani tembakau paling kaya di kampungnya dan Najib yang bapaknya menjual tanah warisan demi najib jadi "Tukang Insinyur". Pertaruhan besar itu dilakukan mereka semua dengan satu tujuan sederhana: *"menjadi orang berseragam"*.

Dari ribuan keputusan kecil seperti itu, selama puluhan tahun lahirlah kelas sosial baru. Kelas yang tidak lagi berdiri sendiri dan menanggung dunia tanpa bantuan, tapi kelas yang berdiri di dalam sistem, *Kelas menengah modern*, yang tahu tentang rencana hidup, pensiun, tabungan, asuransi dan hal-hal formal lainnya.

Rafli duduk kembali setelah lamunan. Dosen kini berbicara tentang sesuatu yang semakin dekat. Tentang AI, dan tentang bagaimana cara dunia memproduksi nilai sedang berubah. Ia menulis di papan: mode of production shapes class (German: Produktionsweise). Ia menyebut bahwa struktur kelas sosial bukan sesuatu yang tetap (given). Ia lahir dari cara dunia bekerja.

Abad ke-20 menciptakan kelas menengah karena sistem membutuhkannya. Manajer, analis, teknokrat, tenaga administrasi, semua adalah produk dari cara dunia saat itu berproduksi. "Sekarang," kata dosen itu pelan, "kita mulai melihat kemungkinan bahwa banyak dari itu... tidak lagi diperlukan dalam bentuk yang sama." Ruangan hening. "Jika itu terjadi," lanjutnya, "kita tidak hanya kehilangan pekerjaan."Ia berhenti. "kita mungkin kehilangan... kelas."

Rafli mengangkat tangan. Ia tidak bisa diam. "Kelas bisa hilang?" Rafli berhenti. "Lalu... apakah yang diajarkan kakek saya masih relevan?" Kakek dan Ayah saya percaya pada stabilitas. Dan itu benar untuk hidupnya." Ia menatap dosennya. "Tapi apakah itu masih benar untuk masa depan?"

Dosen itu tersenyum tipis. "Ayahmu tidak salah." Ia berhenti. "Ia hanya hidup di dunia yang berbeda." "Apa yang sebenarnya berubah, Prof?" tanya Rafli pelan.
Dosen itu, Prof. Delorme, tidak langsung menjawab. Ia berdiri diam sejenak, seperti biasa. Seolah setiap jawaban membutuhkan jeda, bukan karena ia tidak tahu, tapi karena ia tahu bahwa kata-kata bisa terlalu cepat untuk sesuatu yang sebenarnya bergerak pelan dalam sejarah.

Katanya, "Yang berubah... adalah cara dunia bekerja." Ia berjalan ke papan, lalu menulis dua kata: forces of production dan relations of production. "Ini kerangka lama," katanya ringan, "Tapi masih sangat berguna."

Ia menunjuk baris pertama. "Forces of production adalah bagaimana kita menciptakan sesuatu. Teknologi, alat, dan tenaga kerja. Lalu ke baris kedua. "Relations of production... adalah bagaimana kita mengatur manusia di dalam proses itu. Siapa bekerja untuk siapa, siapa memiliki, siapa mengendalikan dan bagaimana ini semua disalurkan"

Rafli memperhatikan. Untuk pertama kalinya, istilah itu terasa... hidup. *"Ketika forces of production berubah,"* lanjut Prof. Delorme, "relations of production tidak bisa diam." Ia berhenti sejenak. "Dan ketika keduanya berubah... seluruh dunia sosial ikut bergeser, dan kelas sosial bisa hilang. Dalam dunia eropa pra-revolusi industri, peasant adalah sebuah kelas sosial, tapi kelas itu saat ini sudah tidak ada lagi, ujarnya."

Lalu prof. Delorme menambahkan satu kata lagi di papan: superstructure. "Hukum, Pendidikan, Budaya. Bahkan... cara kita memandang kehormatan dan apa yang dihargai." Ia menoleh ke kelas. "Semua itu bukan berdiri sendiri. Ia mengikuti perubahan di sekitarnya." Singkatnya, Superstructure adalah cara sebuah zaman membenarkan dan mengatur cara hidupnya.

Rafli tetiba langsung teringat frasa itu, *"Orang berseragam".*, ia adalah ejawantahan dari superstructure. Prof. Delorme melanjutkan, kini lebih seperti bercerita daripada mengajar: "Abad ke-19 sampai awal abad 20 dunia didominasi oleh produksi yang terfragmentasi. Banyak usaha kecil. Banyak petite bourgeoisie yang belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem. Dunia belum memiliki mesin yang cukup kuat untuk menyatukan semuanya."

Ia menatap Rafli sejenak, seolah tahu ke mana pikirannya pergi. "Itu dunia kakekmu." "Lalu abad ke-20 datang." Nada suaranya berubah sedikit lebih berat. "Pabrik, Industri massal, Negara modern, Perusahaan besar,Forces of production menjadi terpusat." Ia mengetuk papan pelan. "Dan dunia membutuhkan sesuatu yang baru untuk mengelolanya."

Rafli tahu jawabannya: "Kelas menengah," katanya pelan. Prof. Delorme mengangguk. "Manajer, birokrat, teknokrat, insinyur". Mereka bukan pemilik, tapi juga bukan pekerja biasa. Ia tersenyum tipis. "Mereka adalah... jembatan."

Rafli menelan pelan. Profesor ini sedang menjelaskan secara ringkas kenapa bapaknya Adit memiliki karier yang rapi di Bank Indonesia. "Dan karena mereka dibutuhkan," lanjut Prof. Delorme, "dunia membangun segalanya untuk mereka, dari sistem pensiun, department store yang nyaman, sistem pendidikan, keamanan pekerjaan, dan banyak hal." Ia menunjuk kata superstructure. *"Pendidikan, karier, seragam, kehormatan."*

Kisah ini membuat Rafli tidak lagi melihat papan. Ia melihat masa kecilnya, dan belajar bahwa kakek dan ayahnya sebagai produk dari zamannya, dan mereka berdua adalah benar dalam konteksnya masing-masing.

Prof. Delorme berhenti lagi, Kali ini lebih lama. "Tapi sekarang..." dengan sedikit jeda, ia lanjut berkata, "Forces of production berubah lagi." Ia tidak perlu menjelaskan panjang. Semua orang di ruangan itu tahu. AI. Otomasi. Platform. Jaringan digital.

"Dan jika cara kita memproduksi berubah..." katanya pelan,"apakah kita benar-benar berpikir bahwa struktur kelas akan tetap sama?" Kelas hening dan tidak ada yang menjawab.
Rafli merasakan sesuatu yang tidak nyaman. Bukan karena ia tidak mengerti, tapi karena ia mulai mengerti terlalu banyak. Ia melihat tiga dunia sekaligus: dunia kakeknya yang berdiri sendiri, dunia ayahnya yang dilindungi sistem dan dunia yang sedang datang, sesuatu yang belum sepenuhnya punya nama.

Dan untuk pertama kalinya, ia mengerti bahwa pertanyaannya terhadap fenomena jaman now selama ini salah. *Bukan: "Kenapa kelas menengah melemah?", tetapi: "Apa yang menggantikan peran mereka di masa depan?"*

Prof. Delorme menutup spidolnya. "Sejarah tidak bergerak lurus," katanya pelan. "Ia bergerak mengikuti bagaimana manusia menciptakan hidupnya." Ia menatap Rafli. "Dan setiap kali cara itu berubah... penanggung dunia... ikut berubah."

Ruangan kembali sunyi. Dan di dalam diam itu, Rafli merasa seperti melihat sesuatu yang pernah ia kenal, tapi kali ini... datang dari masa depan. Ia masih memandang papan tulis itu, forces of production, relations of production, superstructure, seolah tiga kata itu bukan konsep, tapi... peta.

"Kalau begitu..." katanya pelan, "apa yang terjadi di abad ke-21?". Prof. Delorme tersenyum tipis. Kali ini, ia tidak kembali ke papan. Ia justru duduk di tepi meja, seperti seseorang yang akan bercerita, bukan mengajar.

"Fragmentasi," katanya singkat. Ia melanjutkan, lebih pelan: Lewat AI dan teknologi baru, "Produksi tidak lagi terpusat seperti abad ke-20. Ia menyebar, Ke-individu, Ke-jaringan, Ke perusahaan dan sistem yang tidak selalu terlihat."

Rafli mengangguk pelan. Ia sudah melihatnya di jalan, di kafe, di layar. "Dan ketika produksi menyebar..." lanjutnya, "dunia tidak lagi membutuhkan struktur sebesar sebelumnya." Ia berhenti. "Setidaknya... tidak untuk semua orang." Rafli merasakan sesuatu yang tidak nyaman. "Apakah itu berarti..." ia ragu sejenak,*"kelas menengah menyusut dan kita kembali ke petite bourgeoisie?"*

Prof. Delorme tidak langsung menjawab. Ia tersenyum, bukan karena setuju, tapi karena pertanyaan itu... terlalu cepat. "Kita tidak kembali," katanya pelan."Kita... dipindahkan."

Ruangan kembali sunyi. "Kakekmu hidup seperti itu karena dunia belum punya sistem," lanjutnya. "Ayahmu percaya pada sistem, karena pada zamannya, itu cukup. Generasimu... mungkin hidup ketika itu tidak lagi cukup."

Rafli menahan napas. "Tapi ada perbedaan besar," kata Prof. Delorme. Ia menatap kelas. "Kakekmu benar-benar mandiri. Kamu... hanya merasa mandiri."
Kalimat itu menggantung. "Kamu bergantung pada platform.Pada jaringan. Pada sesuatu yang tidak kamu kendalikan."

Rafli menunduk. Untuk pertama kalinya, ia melihat kemandirian yang muncul dari gig economy dan berbagai kemajuan masa kini sebagai sesuatu yang... ambigu.
"Dan karena itu," lanjutnya, "dunia ini membutuhkan superstructure baru."

Ia tidak menulis kali ini. Ia hanya menyebutkan, satu per satu: "Hak atas karya, Hak untuk memperbaiki apa yang kamu miliki, dan Hak atas data yang kamu hasilkan." Ia berhenti, "Karena tanpa hak-hak itu...", "kamu bukan petite bourgeoisie." Ia menatap langsung ke arah Rafli.

"kamu hanya pekerja, bahkan tanpa perlindungan ala kelas menengah lama dan tidak akan sanggup untuk menanggung apapun di dunia ini." Kalimat itu jatuh pelan. Tapi terasa lebih berat dari semua teori sebelumnya. Rafli tidak lagi melihat ini sebagai diskusi kelas. Ia melihat ini sebagai... masa depan. "Lalu..." ia berkata pelan, "apa yang akan terjadi dengan kita?"

Prof. Delorme tidak menjawab langsung. Ia berdiri, berjalan ke jendela, melihat keluar. "Personne n'a encore la réponse", Belum ada yang tahu jawabannya. Sejarah menunjukkan pada akhirnya masyarakat akan selalu membuat superstructure baru.

Ia menoleh kembali. "Tapi satu hal pasti, Setiap kali dunia berubah seperti ini, selalu ada yang harus belajar... memikulnya kembali." Ruangan itu kembali hening. Dan untuk pertama kalinya, Rafli tidak merasa sedang mempelajari masa lalu. Ia merasa sedang dipanggil.

Ia menatap tangannya sendiri. Tangan yang tidak pernah benar-benar harus bertaruh, tangan yang dibesarkan oleh stabilitas. Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya: apakah ia siap jika hidupnya kembali ditentukan oleh keputusannya sendiri?

Prof. Delorme lanjut membahas bahwa, "Setiap perubahan dalam mode of production," katanya pelan, "tidak pernah datang sendirian, " Ia selalu diikuti oleh ketegangan. "Abad ke-19 melahirkan konflik antara buruh dan kapital.Abad ke-20 membangun kompromi negara, kelas menengah, stabilitas."

Ia berhenti. "Dan abad ke-21, belum menemukan bentuknya." Ruangan itu sunyi. "Kamu bertanya apakah perlu superstructure baru?" Ia menatap Rafli. "Jawabannya sederhana, Selalu!."

"Hak tidak pernah muncul dari teori. Ia muncul dari kebutuhan... dan dari mereka yang bersedia memperjuangkannya." Hak yang mungkin muncul di masa depan seperti "Right to repair, hak atas karya, kepemilikan data.", semua itu bukan hadiah. Itu adalah hasil dari resolusi yang belum terjadi yang sampai sekarang mungkin belum dibahas terlalu serius.

"Kalian adalah generasi yang tumbuh dalam stabilitas ala kelas menengah,tapi kemungkinan besar... tidak akan melanjutkan hidup di dalamnya."

"Dan ketika sistem tidak lagi cukup, kalian punya dua pilihan, Beradaptasi... secara individual, Atau... ikut membentuk aturan baru."

"Sejarah tidak membutuhkan persetujuan kalian. Ia hanya bergerak."

Ia mengambil tasnya. "Pertanyaannya hanya satu, Apakah kalian ingin menjadi bagian dari perubahan itu... atau hanya... menanggungnya?"

Lalu Prof. Delorme menutup kelas. "C'est tout pour aujourd'hui". Pintu tertutup, Tidak ada tepuk tangan, Tidak ada diskusi. Siangpun berlalu di Sciences Po.
Rafli duduk diam. Ia tidak lagi memikirkan teori, Ia tidak lagi memikirkan kelas. Ia memikirkan sesuatu yang lebih sederhana,dan lebih dekat.

Rafli menatap tangannya. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihatnya sebagai tangan yang kehilangan sesuatu. Ia melihatnya sebagai... tangan yang harus belajar kembali, namun Bukan kembali ke masa lalu. Tapi menjadi sesuatu yang pernah ada dalam bentuk yang berbeda.

Ia membayangkan dirinya sendiri. Bukan di kantor seperti ayahnya,Bukan di sistem yang rapi. Tapi di dunia yang lebih terbuka nantinya .Lebih tidak pasti. Lebih... miliknya sendiri.

Bukan sebagai kakeknya, Tapi sebagai versi baru darinya yang lebih modern sesuai zaman. Seseorang yang: berdiri sendiri, memahami sistem, tapi tidak sepenuhnya bergantung padanya, menciptakan nilai dari tangannya sendiri dan suatu hari ikut menentukan bagaimana hak itu didefinisikan.

Dan untuk pertama kalinya, Rafli tersenyum kecil. Mungkin dunia tidak sedang kehilangan sesuatu. Ia berhenti, Mungkin dunia sedang mengembalikan sesuatu yang lama, kepada generasi yang belum pernah benar-benar memilikinya.

Di luar, Paris tetap berjalan. Tapi di dalam dirinya, sesuatu telah berubah. Dan kali ini, ia tidak lagi takut.


(miq/miq)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |