ESG Jadi Fondasi, InJourney Dorong Pariwisata Hijau Bernilai Ekonomi

3 hours ago 2

ESG SUSTAINABILITY FORUM 2026

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

06 February 2026 16:50

Jakarta, CNBC Indonesia - Pariwisata Indonesia tidak lagi berdiri sebagai sektor pelengkap.

Dalam struktur ekonomi nasional, aviasi dan pariwisata bergerak sebagai sistem yang saling terkait antara mobilitas manusia, perputaran modal, dan pengembangan wilayah.

Pada titik ini, kehadiran PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney relevan dibaca sebagai entitas ekonomi, bukan sekadar pengelola aset negara. Sejak dibentuk pada Januari 2022 dan berada di bawah Danantara Indonesia sovereign wealth fund, InJourney memegang mandat sebagai holding BUMN pertama di sektor aviasi dan pariwisata dengan cakupan lintas industri..

InJourney terus memperkuat posisinya sebagai "value creator" serta operator pariwisata yang berkelanjutan dan berorientasi hijau di Indonesia.

InJourney terus mengimplementasikan berbagai inisiatif strategis lintas portofolio serta berkomitmen mengembangkan pariwisata berkelanjutan

Atas upaya InJourney dalam penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai fondasi transformasi layanan air minum di DKI Jakarta, CNBC Indonesia menganugerahkan ESG Award kepada InJourney.

Acara penghargaan sudah digelar dalam ESG Sustainability Forum 2026 CNBC Indonesia di Jakarta, Selasa (3/2/2026).

InJourney meraih anugerah ESG 2026 dalam acara ESG Sutainability Forum 2026 di Jakarta, Selasa (3/2/2026). (CNBC Indonesia Tri Susilo)Foto: InJourney meraih anugerah ESG 2026 dalam acara ESG Sutainability Forum 2026 di Jakarta, Selasa (3/2/2026). (CNBC Indonesia Tri Susilo)
InJourney meraih anugerah ESG 2026 dalam acara ESG Sutainability Forum 2026 di Jakarta, Selasa (3/2/2026). (CNBC Indonesia Tri Susilo)

Skala operasional InJourney memberi gambaran konkret atas mandat tersebut. Pergerakan pesawat mencapai 1,2 juta kali, dengan total penumpang 156 juta orang dan pergerakan kargo 1,5 juta ton.

Aktivitas destinasi mencatat 9,2 juta wisatawan, ditopang oleh 540 penyelenggaraan event dan kapasitas 4.600 kamar hotel. Seluruh aktivitas ini dijalankan oleh sekitar 49 ribu karyawan. Dari keseluruhan rantai ini, InJourney memperkirakan dampak ekonomi mencapai Rp5,3 triliun. Angka tersebut menempatkan InJourney sebagai salah satu pengungkit ekonomi berbasis pariwisata dengan daya sebar nasional.

Direktur Utama InJourney, Maya Watono.Foto: Dok: InJourney
Direktur Utama InJourney, Maya Watono.

Posisi InJourney dibentuk melalui perannya sebagai penghubung ekosistem. Holding ini mengintegrasikan bandara, layanan aviasi, destinasi wisata, perhotelan, dan ritel dalam satu arsitektur bisnis.

Integrasi tersebut diarahkan untuk mengatasi fragmentasi pengelolaan pariwisata nasional yang selama bertahun-tahun berjalan terpisah.

Bandara beroperasi sebagai simpul transportasi, destinasi berkembang dengan logika masing-masing, dan kawasan wisata sering kehilangan kesinambungan layanan. InJourney mengatur alur dari titik kedatangan hingga pengalaman wisata, dengan tujuan membangun keterkaitan operasional antarsektor.

Pendekatan ini berpengaruh pada pembentukan nilai ekonomi. Dalam empat tahun perjalanannya, InJourney memusatkan transformasi pada penguatan fundamental anak usaha melalui integrasi aset, tata kelola operasional, dan standar manajerial.

Proses ini berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas layanan dan pengalaman pelanggan. Hasilnya tercermin pada tercapainya profitabilitas grup secara menyeluruh, yang dibangun melalui kolaborasi internal dan sinergi dengan pemerintah serta pemangku kepentingan.

InJourneyFoto: dok InJourney Destination Management
InJourney

Struktur holding memungkinkan pelaksanaan strategi lintas portofolio secara simultan.

Transformasi bandara dan peningkatan konektivitas udara menjadi fondasi awal. Bandara diposisikan sebagai gerbang ekonomi dan wajah destinasi. Perbaikan fasilitas, alur penumpang, serta integrasi layanan diarahkan untuk mendukung pergerakan wisatawan secara efisien. Mekanisme ini memengaruhi lama tinggal, pola belanja, dan distribusi wisatawan ke wilayah tujuan.

Di sisi destinasi, InJourney mengembangkan pendekatan berbasis karakter kawasan. Borobudur dan Taman Mini Indonesia Indah diarahkan sebagai destinasi budaya dan edukasi dengan pengelolaan yang menempatkan nilai sejarah dan pembelajaran sebagai inti pengalaman. Mandalika dan Golo Mori dikembangkan sebagai kawasan pariwisata terpadu dengan orientasi event dan leisure.

Di Sanur, InJourney membangun International Medical Tourism di kawasan ekonomi khusus, yang mengaitkan pariwisata dengan layanan kesehatan berstandar internasional. Sarinah berfungsi sebagai kanal ritel untuk membawa karya Indonesia ke pasar global.

Hadirkan Layanan Terbaik, Bandara InJourney Airports Borong 34 Penghargaan DuniaFoto: Infografis/ Angkasa Pura 2/ Edward Ricardo
Hadirkan Layanan Terbaik, Bandara InJourney Airports Borong 34 Penghargaan Dunia

Rangkaian inisiatif ini dirangkai dalam kerangka penciptaan nilai. InJourney memproyeksikan kontribusi terhadap produk domestik bruto sebesar 4,1% hingga 6% pada 2029. Proyeksi ini bertumpu pada kemampuan holding dalam menciptakan efek berganda di daerah.

Aktivitas bandara mendorong pergerakan logistik dan jasa, destinasi wisata membuka lapangan kerja lokal, dan pengembangan kawasan menciptakan permintaan berkelanjutan bagi pelaku usaha setempat. Mekanisme tersebut menempatkan pariwisata sebagai instrumen pembangunan wilayah.

Peran tersebut diperkuat oleh posisi InJourney sebagai perusahaan ke-43 terbesar di Indonesia.

Skala ini memberi ruang bagi holding untuk menjalankan fungsi ganda sebagai pencipta nilai ekonomi dan agen pembangunan. Transformasi internal diarahkan untuk menghasilkan dampak keluar, dengan sasaran memperkuat sektor aviasi dan pariwisata serta kesejahteraan masyarakat.

KEK SanurFoto: Dok: InJourney
KEK Sanur

Memasuki tahun keempat, InJourney menempatkan keberlanjutan sebagai arah utama transformasi. Tema "InJourney 4 Tahun Bersama Berkarya, Lestarikan Indonesia" dijadikan kerangka kerja jangka panjang.

Keberlanjutan diperlakukan sebagai panduan kebijakan dan operasional dalam pengelolaan destinasi. Pendekatan ini menempatkan pariwisata sebagai investasi lintas generasi, dengan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan penguatan sosial.

Komitmen keberlanjutan InJourney berangkat dari asumsi bisnis jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi yang tidak disertai pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat berisiko melemahkan daya saing destinasi.

Oleh karena itu, visi "Sustainable Tourism Economy and Creating Impact for Communities" dijalankan sebagai kerangka pembangunan ekosistem aviasi dan pariwisata. Dalam kerangka ini, lingkungan dan sosial-ekonomi ditempatkan sebagai dua pilar utama.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta. (Dok. InJourney)Foto: Bandara Internasional Soekarno-Hatta. (Dok. InJourney)
Bandara Internasional Soekarno-Hatta. (Dok. InJourney)

Pada pilar lingkungan, InJourney memusatkan kebijakan pada pengelolaan air dan limbah, strategi iklim, serta perlindungan keanekaragaman hayati. Setiap inisiatif dirancang untuk mengurangi jejak lingkungan dari aktivitas aviasi dan pariwisata, serta diterjemahkan ke dalam proyek operasional yang terukur.

Sebagai bagian dari penerapan ESG, InJourney menetapkan target penurunan emisi sebesar 4.000 ton CO₂e. Target ini menjadi pijakan awal menuju operasional yang lebih hijau dan sejalan dengan agenda Net Zero Emission pemerintah. Untuk mencapai sasaran tersebut, InJourney menjalankan green initiative program di seluruh grup dengan indikator dampak yang dapat diukur dan konsisten.

Pemanfaatan energi terbarukan menjadi instrumen utama. Pembangkit listrik tenaga surya telah dipasang di sembilan bandara utama, menghasilkan 10.760 MWh energi terbarukan per tahun. Dari sisi emisi, kapasitas ini berpotensi menghindari 9.860 ton CO₂e per tahun, setara dengan penyerapan karbon sekitar 272 ribu pohon. Implementasi ini menjadi fondasi transisi energi di sektor aviasi dan pariwisata yang dikelola InJourney.

Elektrifikasi operasional dijalankan secara bertahap. Hingga kini, InJourney mengoperasikan 716 unit kendaraan dan peralatan listrik, termasuk ground support equipment, buggy car, mini bus, dan golf cart di berbagai destinasi. Peralihan ini menurunkan ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mengurangi emisi operasional harian.

Pengelolaan sumber daya dan limbah dilakukan melalui pendekatan ekonomi sirkular.

Sepanjang implementasi program, pengelolaan limbah padat mencapai 7.000 meter kubik. Pemanfaatan air daur ulang tercatat sebesar 1.728.304 meter kubik. Efisiensi ini berperan dalam menjaga ketersediaan sumber daya di kawasan wisata yang rentan terhadap tekanan lingkungan.

InJourney. (Dok. InJourney)Foto: InJourney. (Dok. InJourney)
InJourney. (Dok. InJourney)

Upaya mitigasi perubahan iklim dilengkapi dengan rehabilitasi ekosistem. InJourney menjalankan program penanaman 40.000 pohon mangrove di wilayah operasional. Program ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan ekosistem pesisir dan menjaga keberlanjutan destinasi yang bergantung pada lingkungan laut.

Ketahanan air menjadi isu strategis dalam pengelolaan destinasi. Di kawasan The Nusa Dua, Bali, InJourney melalui ITDC mengoperasikan fasilitas Sea Water Reverse Osmosis. Dalam tiga bulan operasi, fasilitas ini menghasilkan 331.382 meter kubik air bersih.

Pada kapasitas penuh, produksi dapat mencapai 1.314.000 meter kubik per tahun. Teknologi ini memanfaatkan air laut sebagai sumber alternatif dan mengurangi tekanan terhadap air tanah.

InJourney. (Dok. InJourney)Foto: InJourney. (Dok. InJourney)
InJourney. (Dok. InJourney)

Penerapan SWRO membawa implikasi struktural. Kawasan wisata memperoleh pasokan air yang stabil tanpa mengorbankan daya dukung lingkungan. Risiko kelangkaan air akibat perubahan iklim dapat ditekan, dan operasional pariwisata berjalan dengan kepastian pasokan. ITDC Nusantara Utilitas menjadi entitas pertama di Indonesia yang memperoleh izin resmi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mengolah air laut menjadi air layak konsumsi melalui teknologi ini.

Pada pilar sosial-ekonomi, InJourney memusatkan kebijakan pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Program kesehatan, kesejahteraan, pengentasan kemiskinan, dan perluasan akses pendidikan dijalankan bersamaan dengan penguatan kemitraan dengan pelaku usaha lokal dan UMKM. Pendekatan ini diarahkan agar manfaat ekonomi pariwisata tersebar di sekitar destinasi.

Pengembangan manusia ditempatkan sebagai prasyarat keberlanjutan. InJourney menjalankan berbagai program pengembangan sumber daya manusia, mulai dari Leadership Development Program, Professional Development Program, Talent Exchange Program, Officer Development Program, hingga Management Development Program. Program-program ini dirancang untuk memperkuat kompetensi, pemahaman ekosistem bisnis, dan kesiapan kepemimpinan lintas entitas.

Dalam konteks nasional, strategi InJourney mencerminkan pergeseran cara pengelolaan pariwisata. Aviasi dan destinasi diperlakukan sebagai satu sistem ekonomi. Keberlanjutan dijalankan melalui proyek konkret yang terukur. Dampak ekonomi dibaca melalui kontribusi wilayah dan rantai nilai.

Implikasi jangka panjang dari pendekatan ini terletak pada ketahanan industri. Destinasi yang dikelola dengan prinsip lingkungan memiliki daya saing yang lebih stabil. Infrastruktur yang terintegrasi memperkuat konektivitas dan efisiensi. Pengembangan manusia menjaga kesinambungan pengelolaan.

 CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(emb/emb)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |