Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan rupiah yang dibarengi kebijakan pembatasan pembelian dolar AS oleh Bank Indonesia mulai menjadi perhatian pelaku industri. Meski demikian, pelaku usaha menilai dampaknya tidak sepenuhnya negatif, terutama bagi sektor yang memiliki orientasi ekspor.
Commercial Director PT Beka Wire Indonesia Sandy Suryadi menilai kenaikan dolar AS bukan menjadi ancaman utama di pasar domestik. Ia menyebut kondisi ini justru dirasakan merata oleh seluruh pelaku industri.
"Buat market Indonesia bukan tantangan karena pada saat kami mengalami kenaikan bahan baku pasti kompetitor yang lain juga mengalami kenaikan bahan baku. Namun memang at the end end consumer atau downstream yang akan merasakan lebih berat untuk biaya yang lebih tinggi ini. Tapi untuk ekspor dengan naiknya US itu malah membantu kami," kata Sandy di pabrik PT Beka Wire Indonesia Subang, Rabu (6/5/2026).
Di sisi lain, kebijakan Bank Indonesia yang membatasi pembelian dolar tanpa underlying hingga maksimal US$50.000 per bulan, dan berpotensi diturunkan menjadi US$25.000, turut menjadi perhatian dunia usaha. Kebijakan ini merupakan bagian dari tujuh langkah BI untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global.
Sandy mengakui kebijakan tersebut menjadi bahan diskusi internal perusahaan. Namun, ia tetap optimistis pemerintah akan memberikan solusi jika muncul kendala di lapangan.
"Iya itu memang dalam salah satu agenda kami untuk pembahasan dan kami juga yakin bilamana ada kendala atau keterbatasan, namun tujuannya untuk bangsa Indonesia pastikan ada jalan keluar dari pemerintah," ujarnya.
Foto: Warga melakukan penukaran mata uang rupiah ke dolar AS di Money Changer Valuta Artha Mas, Jakarta, Rabu (6/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Bank Indonesia sendiri menegaskan pembatasan ini dilakukan untuk memperkuat rupiah, sekaligus mendorong diversifikasi transaksi valas, termasuk penggunaan mata uang lokal seperti yuan. Selain itu, intervensi pasar hingga penguatan likuiditas juga terus dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Meski terdapat sejumlah penyesuaian kebijakan, pelaku industri seperti Beka Wire memastikan operasional perusahaan tetap berjalan normal. Dukungan pemerintah dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan industri dalam negeri.
"Pasti pemerintah juga suportif karena kita betul-betul murni tujuannya untuk mengembangkan produk Indonesia," sebut Sandy.
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengaku telah melaporkan 7 langkah yang akan diambil untuk membuat rupiah kuat.
Termasuk pembatasan pembelian dolar. Hal itu disampaikan usai pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Selasa malam (5/5/2026).
"Yang kami sudah keluarkan adalah pembatasan pembelian dolar di pasar domestik tanpa underlying. Yang dulunya 100.000 dolar per orang
per bulan, kita turunkan 50.000 dolar per orang per bulan. Itu yang kami langsung koordinasi dengan KSSK untuk penguatan-penguatan," katanya menjelaskan langkah kelima yang diambil Bank Indonesia.
(fys/wur)
Addsource on Google


















































