Dedi Mulyadi Soroti Dampak El Nino Godzilla dan Penumpukan Sampah di Jabar

1 week ago 7

Jakarta -

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti masalah penumpukan sampah dan El Nino ekstrem atau El Nino Godzilla yang mengancam wilayah Jawa Barat

Terkait sampah, Dedi menyebut kapasitas TPA Sarimukti maksimal hanya akan mampu menampung sampah dalam waktu 6 bulan lagi.

Sementara soal dampak El Nino, Dedi mengungkapkan musim kemarau pada tahun ini akan cukup panjang karena munculnya El Nino. Adapun Jabar merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang akan terdampak oleh fenomena El Nino Godzilla.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita harus antisipasi dampak kemarau panjang ini, kekeringan bahkan kebakaran. Informasi dari BMKG, puncak kemarau di Jabar akan terjadi Agustus dan September. Saya meminta masukan dan informasi dari bupati walikota, memetakan penanganan masalah," ujar Dedi dalam keterangan tertulis, Senin (8/6/20206).

Hal ini disampaikannya saat memimpin Rakor Penanganan Persampahan Serta Mitigasi Dampak Kemarau Panjang di Wilayah Jabar Tahun 2026. Berlangsung di Markas Besar TNI Angkatan Darat (Mabes AD) pada Kamis (4/6), rakor dihadiri bupati/wali kota di 27 kabupaten dan kota di Jabar, serta Dandim di wilayah Jabar.

Dalam arahannya, Dedi menegaskan langkah antisipasi harus sudah dilakukan secepatnya tanpa menunggu bencana muncul terlebih dulu.

Oleh karena itu, ia mengajak TNI dan juga masyarakat lainnya yang peduli untuk bersama-sama mengantisipasi kemarau panjang dan permasalahan sampah.

Ia juga meminta agar pemerintah daerah mendata wilayah yang selalu kesulitan air saat kemarau agar kebutuhan harian dan pertanian terpenuhi.

"Siapkan mobilisasi air dari sumber air menggunakan mobil tangki. Ini perlu dukungan dan kerjasama dengan TNI dan pengusaha air kemasan. Percepat pembangunan jaringan air bersih dan siapkan toren penampung air di setiap desa langganan kekeringan, harus sudah dimulai agar tidak ada rebutan air," tambahnya.

Sementara terkait penanganan sampah, Dedi mendukung rencana TNI untuk membangun pengolahan sampah berbasis waste to fuel. Melalui metode Pirolisis, sampah plastik akan diolah menjadi bahan bakar (BBM).

"Kota dan Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat terancam tidak dapat membuang sampah ke Sarimukti yang bakal penuh 6 bulan kedepan. Sehingga perlu berbagai upaya pengurangan pembuangan sampah dan pengurangan sampah eksisting yang menumpuk di TPA. Salah satunya melalui teknologi yang dipakai TNI," ungkapnya.

Upaya yang sama juga perlu dilakukan untuk wilayah Cirebon Raya, Bogor Raya dan Tasikmalaya. Dedi pun menegaskan upaya jangka pendek dengan sosialisasikan pengurangan sampah sejak dari rumah tangga dan jangka panjang dengan memanfaatkan teknologi, seperti waste to energy dan waste to fuel.

"Provinsi fokus di tiga hal pada APBD perubahan yakni jalan desa, PJU desa dan air bersih serta pengelolaan sampah," tuturnya.

Sementara itu, KASAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengapresiasi gerak cepat Pemprov Jabar dalam mengantisipasi potensi yang ditimbulkan akibat permasalahan sampah dan kemarau panjang.

"Gubernur yang paling serius melakukan mitigasi masalah sampah dan ancaman kemarau. Kami laporkan jika TNI sudah membangun sedikitnya 500 titik distribusi air bersih, namun memang belum terdata dengan baik, kami akan segera lakukan pendataan untuk antisipasi kemarau khususnya di Jabar," katanya.

Ia mengungkapkan keterlibatan TNI dalam penanganan sampah tampak dari pembangunan waste to fuel di beberapa lokasi di Jabar, seperti di TPA Bantar Gebang dan TPA Sumur Batu Bekasi, TPA Galuga Bogor dan di TPA Sarimukti KBB. Menurutnya, waste to fuel di Sarimukti siap mengolah sampah saat ini sebanyak 10 juta ton atau hampir separuh dari kapasitas yang ada saat ini sebanyak 25 juta ton.

Maruli menambahkan, pengolahan dengan insinerator bersuhu di atas 800 derajat celcius juga sudah mulai beroperasi di Ciwastra Kota Bandung pada bulan Mei lalu. Insinerator tersebut memiliki kapasitas pembakaran sebesar 800 ton per hari.

"Mau di Bogor, Tasik, Bandung, Karawang kita siap bangun waste to fuel. Tinggal kesiapan lahannya, pembangunan perlu waktu sekitar satu tahun," tuturnya.

Di sisi lain, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani membenarkan kemarau panjang yang bakal terjadi di Jabar. Bahkan musim kemarau sudah mulai terjadi di wilayah pesisir pantai utara Jabar.

Menurutnya, secara umum musim kemarau di Jabar akan berlangsung 3 sampai 7 bulan sehingga tentunya diperlukan antisipasi kemungkinan bencana kekeringan

"Tahun ini kemarau datang lebih cepat, lebih panjang dan lebih kering karena fenomena El Nino. Bulan Juni ini di Pantura sudah terasa, dan bulan Juli hingga Oktober akan merata di Jabar, dimana puncaknya di bulan Agustus dan September," pungkasnya.

Tonton juga video "Dedi Mulyadi Salat Idul Adha di Kampung Banjar Perbatasan Jabar-Jateng"

(akd/ega)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |