Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) resmi melakukan perombakan struktur bisnis pada PT Pertamina (Persero), yakni dengan menggabungkan tiga anak usaha di bisnis hilir ke dalam satu entitas yakni Subholding Downstream.
Pertamina resmi menggabungkan tiga anak usaha di bisnis hilir, yaitu PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS), pada 1 Februari 2026 lalu.
PT Pertamina Patra Niaga (PPN) saat ini menjadi entitas penerima penggabungan tiga perusahaan tersebut.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mengungkapkan bahwa penggabungan tersebut dilakukan karena adanya inefisiensi antarperusahaan. Dengan merger ini, diharapkan adanya efisiensi hingga puluhan triliun per tahunnya.
"Kami baru selesai melakukan merger bulan Februari, 1 Februari merger di downstream (bisnis hilir). Kita konsolidasikan kembali antara Patra Niaga, PIS, dan juga Kilang. Kenapa? Karena ini kan satu perusahaannya harusnya, tidak bisa dicacah yang menyebabkan inefficiency," ungkap Dony dalam acara Economic Outlook 2026 CNBC Indonesia, dikutip Kamis (12/2/2026).
Alasan finansial menjadi salah satu pendorong utama aksi korporasi tersebut, terutama terkait pajak yang muncul akibat transaksi antar-anak usaha. Dony menyoroti adanya pemborosan hingga Rp 20 triliun setiap tahunnya hanya untuk membayar Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari transaksi internal antara unit bisnis pengolahan, pengapalan, dan niaga.
"Dan juga Anda tahu berapa PPN kita yang over akibat dari para bisnis itu setiap tahun itu Rp 20 triliun. Dari transaksi intercompany, kenapa Patra Niaga bertransaksi dengan PIS, bertransaksi dengan kilang. Sekarang dengan penyatuan itu PPN-nya itu berkurang Rp 20 triliun setiap tahun," imbuhnya.
Selain efisiensi pajak, penggabungan tiga anak usaha itu juga bertujuan untuk menata ulang model bisnis Pertamina agar kembali fokus pada bisnis inti minyak dan gas bumi (migas). Pihaknya memastikan bahwa perusahaan-perusahaan yang tidak terkait dengan sektor tersebut akan dilepas atau dipisahkan dari induk usaha.
"Pertamina tidak akan punya lagi perusahaan yang non-related kepada oil and gas. Seluruh perusahaan Pertamina yang non-oil and gas itu akan di spin-off, dia akan keluar dari Pertamina. Jadi makanya satu per satu kita mesti memang melihat kembali bisnis model daripada perusahaan-perusahaan kita," tandasnya.
Asal tahu saja, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) saat ini menjadi entitas penerima penggabungan tiga perusahaan tersebut. Adapun integrasi bisnis hilir ini berlaku per 1 Februari 2026.
Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengungkapkan, integrasi ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat kepastian pasokan energi nasional, serta meningkatkan daya saing perusahaan. Dengan sistem yang terintegrasi, koordinasi antar fungsi berjalan lebih cepat, pengambilan keputusan lebih efektif, dan investasi yang lebih optimal.
"Di tengah perubahan geopolitik, tuntutan transisi energi, dan persaingan global yang semakin ketat. Indonesia membutuhkan Pertamina yang lincah, kuat, dan terintegrasi. Ketika kilang, distribusi, dan logistik serta pemasaran bekerja sebagai satu sistem, kita dapat menghilangkan redundansi, mempercepat layanan, dan menghadirkan pasokan energi yang andal dari Sabang sampai Merauke," ungkap Simon, dikutip Senin (9/2/2026).
Melalui Subholding Downstream, Pertamina menargetkan transformasi dalam lini bisnisnya, khususnya yang terkait dengan peningkatan pelayanan ke masyarakat. Integrasi yang dilakukan tidak akan mengganggu pelayanan terhadap masyarakat maupun terhadap mitra bisnis dan pekerja, sebaliknya menargetkan penyediaan energi yang semakin handal untuk masyarakat melalui peningkatan kolaborasi lintas divisi serta memberikan dampak yang lebih besar bagi bangsa dan generasi mendatang dengan semangat Energizing Indonesia.
(wia)
[Gambas:Video CNBC]

















































