China Ciptakan Senjata Super Pembunuh Starlink, Amerika Bisa Tamat

3 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Tim peneliti di China mengklaim telah mengembangkan 'senjata' super canggih untuk 'membunuh' satelit Starlink milik Elon Musk. Sebelumnya, Musk pernah mengatakan bahwa upaya memberantas Starlink dari antariksa adalah hal yang tidak mungkin.

Pasalnya, menurut argumentasi Musk, ada 2.000 satelit Starlink yang mengorbit di luar angkasa. Untuk menumpasnya, dibutuhkan rudal anti-satelit dalam jumlah banyak.

Musk menyebut peluncuran satelit-satelit baru akan lebih cepat dari upaya rudal anti-satelit untuk mematikan Starlink. Namun, temuan peneliti China tampaknya harus membuat Musk waspada.

Sekelompok ilmuwan dari Northweast Institute of Nuclear Technology di Xian, provinsi Shaanxi, menemukan alat yang dinamai 'TPG1000Cs'. Alat tersebut digadang-gadang sebagai senjata gelombang mikro bertenaga tinggi (HPM) pertama di dunia berukuran kecil.

Media China mengklaim alat tersebut mampu menghantarkan daya sebesar 20 gigawatt selama hampir 1 menit, dikutip dari Eurasian Times, Rabu (11/2/2026).

Para ilmuwan China mengatakan satelit Starlink di orbit Bumi rendah (LEO) dapat terganggu secara serius atau bahkan rusak oleh senjata gelombang mikro berbasis darat dengan daya keluaran lebih dari 1 gigawatt.

Namun, hingga baru-baru ini, perangkat sejenis dengan ukuran jauh lebih besar hanya dapat beroperasi terus menerus selama 3 detik. Misalnya, penggerak Sinus-7 Rusia memiliki berat sekitar 10 ton, dapat beroperasi selama sekitar satu detik, dan memancarkan sekitar 100 denyut energi per sesi.

TPG1000Cs, di sisi lain, hanya berukuran 4 meter. Beratnya hanya 5 ton dan dilaporkan cukup kecil untuk dipasang di truk, kapal perang, pesawat terbang, atau bahkan satelit. Menurut teori China, perangkat ini jauh lebih kuat daripada perangkat serupa dan dapat menghasilkan hingga 3.000 denyut energi tinggi per sesi.

Upaya China Membunuh Starlink

Pengembangan senjat ini adalah bagian dari upaya panjang China untuk membangun senjata 'pembunuh' Starlink. Pasalnya, Beijing menilai jaringan Starlink sebagai ancaman bagi keamanan nasional.

Para ahli di Beijing khawatir satelit Starlink bisa digunakan untuk upaya-upaya melawan China. Misalnya untuk menargetkan aset-aset kritis China di tengah konflik geopolitik yang memanas dengan Amerika Serikat (AS), terlebih ketika China berusaha menginvasi Taiwan.

China telah mengamati peningkatan penggunaan Starlink dalam pertempuran dan merasa terancam oleh konstelasi tersebut. Sekelompok ilmuwan China memperingatkan pada Mei 2024 bahwa China akan menghadapi "ujian berat" sebagai respons terhadap jaringan Starlink, yang mungkin digunakan untuk memberikan bantuan militer AS kepada Taiwan jika terjadi krisis di Selat Taiwan.

Oleh karena itu, China telah berupaya mengembangkan senjata untuk menetralisir satelit Starlink. Bahkan, para peneliti China telah menerbitkan puluhan makalah di jurnal ilmiah yang telah ditinjau oleh rekan sejawat.

Mereka ingin mengembangkan metode terbaik untuk menghancurkan ribuan satelit Starlink di LEO, seperti yang dilaporkan sebelumnya oleh EurAsian Times.

Sekelompok ilmuwan China mensimulasikan operasi luar angkasa terhadap konstelasi satelit dan mengklaim telah menemukan bahwa hanya 99 satelit China yang bisa mendekati 1.400 satelit Starlink dalam waktu sekitar 12 jam. Satelit-satelit ini mungkin dilengkapi dengan laser, gelombang mikro, dan alat-alat lain untuk melakukan pelacakan, pengintaian, dan operasi lainnya.

Namun, senjata energi terarah seperti senjata gelombang mikro dan laser, telah muncul sebagai cara yang lebih disukai untuk melawan Starlink.

Sebelum TPG1000C, para ilmuwan China mengembangkan sumber daya kompak pada tahun 2023 yang dapat secara drastis mengurangi ukuran senjata gelombang mikro berdaya tinggi yang mampu menjatuhkan satelit Starlink. Pada saat itu, laporan mengklaim perangkat tersebut dapat menghasilkan daya hingga 10 gigawatt pada frekuensi 10 denyit energi per detik.

Pada Januari 2025, laporan menunjukkan bahwa para ilmuwan China telah mengembangkan senjata HPM yang mampu menghasilkan pulsa elektromagnetik dengan intensitas yang mirip dengan ledakan nuklir.

Senjata tersebut dilaporkan menggunakan teknologi transmisi phased-array canggih untuk memfokuskan energi secara tepat, yang memperluas jangkauannya. Selain itu, desain tersebut konon meningkatkan daya hancurnya dan memungkinkannya menyerang banyak target secara bersamaan.

(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |