Bukan Soal Fundamental, Ini Penyebab Pasar Kripto Koreksi di Februari

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam analisis pasar finansial, ada perbedaan tajam antara "Harga" (Price) dan "Nilai" (Value). Pada 5 Februari 2026, harga aset digital mengalami dislokasi ekstrem. Namun apakah nilai fundamentalnya berubah?

Data menunjukkan tidak. Apa yang kita saksikan bukanlah kegagalan teknologi blockchain atau penolakan adopsi, melainkan sebuah peristiwa Deleveraging Institusional klasik.

Sebagai analis pasar, narasi politik (seperti janji kampanye pro-crypto di AS) sering kali "berisik", sementara data likuiditas selalu "jujur". Koreksi tajam di Februari ini adalah bukti nyata dari tesis tersebut.

Sebuah laporan analisis pasar yang mendalam, "Anatomi Flash Crash Crypto Februari 2026" (via Pluang Research), memberikan rincian forensik mengenai struktur mikro pasar yang menyebabkan kejatuhan ini. Mari kita bedah datanya secara objektif.

Dekonstruksi "The Hong Kong Blow-Up"

Pemicu utama volatilitas ini bukanlah berita utama di Washington, melainkan neraca keuangan di Hong Kong.

Analisis aliran dana (fund flow) mendeteksi anomali likuidasi pada beberapa Hedge Funds berbasis di Asia. Dana-dana ini diketahui memiliki eksposur Long dengan leverage (daya ungkit) yang berlebihan pada aset crypto.

Dalam manajemen risiko kuantitatif, leverage adalah pedang bermata dua. Ketika harga Bitcoin terkoreksi wajar akibat data makroekonomi AS yang kuat (menunjukkan The Fed mungkin tidak akan memangkas bunga secepat dugaan), posisi leverage ini mencapai titik pemicu (trigger point).

Akibatnya, terjadilah Likuidasi Paksa (Forced Liquidation). Algoritma manajemen risiko broker secara otomatis menjual aset jaminan ke pasar terbuka untuk menutup kerugian. Penjualan ini tidak peduli harga; ia memukul bid (penawaran beli) apa pun yang tersedia, menyebabkan slippage harga yang masif dalam hitungan milidetik.

Mekanisme "Liquidation Cascade" di Pasar Futures

Mengapa penurunan harga begitu cepat dan dalam? Jawabannya terletak pada pasar derivatif (Futures Market).

Laporan analisis tersebut menyoroti fenomena "Liquidation Cascade" (Runtuhan Likuidasi).

  1. Tahap 1: Likuidasi dana Hong Kong mendorong harga spot turun 5%.
  2. Tahap 2: Penurunan 5% ini memicuStop Lossdan likuidasi posisiLongmilik trader ritel di pasar Futures yang menggunakan leverage 10x-20x.
  3. Tahap 3: Likuidasi ritel ini menciptakan tekanan jual tambahan, mendorong harga turun lebih jauh, yang kemudian memicu likuidasi posisiLonglainnya di harga yang lebih rendah.

Ini adalah efek bola salju (snowball effect). Analisis dari Bitwise yang dikutip dalam laporan tersebut mengonfirmasi bahwa Open Interest (kontrak terbuka) di pasar Futures anjlok drastis, menandakan "pembersihan" spekulan dari pasar.

Jason Gozali, Head of Investment Research di Pluang, menyebut fase ini sebagai "Structural Reset". Bagi analis teknikal, ini adalah kabar baik: Pasar telah membuang "tangan lemah" (weak hands) dan leverage beracun, menciptakan dasar yang lebih sehat untuk akumulasi ulang.

Strategi Derivatif: Mengubah Volatilitas Menjadi Alpha

Bagi investor institusional dan trader profesional, volatilitas bukanlah risiko, melainkan sumber Alpha (keuntungan di atas rata-rata pasar). Masalahnya, sebagian besar investor ritel hanya tahu satu arah: Beli dan Tahan (Long-Only).

Laporan Anatomi Flash Crash membedah strategi derivatif yang dapat digunakan untuk memitigasi risiko ini menggunakan infrastruktur modern seperti Pluang.

1. Short Selling Melalui Crypto Futures

Ketika data on-chain menunjukkan indikasi Liquidation Cascade, strategi yang rasional adalah mengambil posisi Short (Jual).

  • Analisis Teknis: Jika harga menembus level Support kritikal dengan volume tinggi, tren Bearish terkonfirmasi.
  • Eksekusi: Menggunakan fitur Crypto Futures di Pluang, trader dapat membuka posisi Short pada BTC atau ETH. Keuntungan dari posisi ini berfungsi sebagai lindung nilai (hedge) terhadap penurunan nilai portofolio aset fisik yang disimpan di Cold Storage.

2. Hedging Menggunakan GLD Options

Korelasi aset sering kali mendekati angka 1 saat terjadi krisis likuiditas (semua aset turun bersamaan). Namun, Emas sering kali menjadi pengecualian (uncorrelated asset). Bagi pengelola dana besar, laporan tersebut menyarankan penggunaan Options pada ETF Emas (GLD) yang tersedia di pasar AS via Pluang.

  • Strategi: Membeli Call Options pada GLD. Ini memberikan eksposur positif terhadap kenaikan harga emas (akibat flight to safety) dengan modal (premi) yang sangat efisien, tanpa perlu mengalokasikan modal besar untuk membeli aset dasarnya.

Manajemen Likuiditas: The Opportunity Cost of Cash

Dalam analisis portofolio, memegang uang tunai (Cash) memiliki biaya peluang (Opportunity Cost). Namun, di era suku bunga tinggi ini, biaya tersebut bisa diminimalisir.

Laporan analisis pasar menyoroti fitur USD Yield di Pluang sebagai instrumen manajemen likuiditas yang efisien.

  • Data: Dengan imbal hasil ~3,38% p.a. (net), instrumen ini memberikanRisk-Free Rateyang superior dibandingkan memegang Stablecoin tanpa bunga atau fiat di rekening bank.
  • Utilitas: Bagi analis, ini adalah tempat parkir dana taktis. Likuiditas tetap terjaga untuk melakukanBuy the Dipsaat indikator RSI menunjukkanOversold, namun modal tetap produktif selama masa tunggu.

Kesimpulan: Data Lebih Penting daripada Opini

Koreksi pasar Februari 2026 adalah pengingat keras bahwa struktur pasar (Market Structure) sering kali lebih mendikte harga jangka pendek daripada fundamental teknologi.

Investor yang hanya mengandalkan berita utama atau janji politik akan selalu terlambat bereaksi. Sebaliknya, investor yang memantau data likuiditas, posisi Open Interest, dan arus dana institusional akan melihat pola ini sebelum terjadi.

Pelaku pasar pun diimbau untuk serius membaca analisis lengkap mengenai korelasi antara kebijakan makro The Fed dan likuiditas pasar crypto dalam laporan:Pluang Blog: Anatomi "Flash Crash" Crypto Februari 2026.

Disclaimer: Segala analisis atau rekomendasi dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual aset tertentu. Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi.

(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |