Jakarta, CNBC Indonesia - Peringatan soal potensi kemunculan El Nino kuat atau yang dijuluki "Godzilla" di Indonesia mulai ramai diperbincangkan. Namun, di tengah kekhawatiran tersebut, Pengamat Pertanian Khudori justru mengingatkan agar publik tidak buru-buru menyimpulkan kondisi terburuk akan terjadi.
Ia menilai, informasi terkait El Nino "Godzilla" masih belum sepenuhnya pasti dan perlu disikapi secara hati-hati, agar tidak menimbulkan kepanikan yang justru kontraproduktif.
"Soal El Nino 'Godzila' ini masih sumir. Saya tak hendak mengecilkan maksud periset BRIN. Mungkin agar publik aware (sadar akan bahanya) dan pemerintah ambil langkah sigap," kata Khudori kepada CNBC Indonesia, Rabu (25/3/2026).
"Tapi kalau tidak hati-hati bisa kontraproduktif. Karena itu, saya tanya kolega di BMKG terkait bagaimana duduk perkaranya. Penjelasan mereka gak se-'ngeri' perkiraan periset BRIN," sambungnya.
Khudori menekankan, peluang terjadinya El Nino ekstrem saat ini masih relatif kecil berdasarkan informasi yang ia terima dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
"Menurut kolega saya di BMKG, kondisinya saat ini sebetulnya peluang untuk sampai level super kuat, atau disebut godzila, itu hanya 15-20%. Berdasarkan hasil perhitungan saat ini, peluang terbesarnya hanya sampai level moderate," terang dia.
Ia juga mengingatkan prediksi El Nino memiliki keterbatasan dalam jangka waktu tertentu, sehingga interpretasinya harus dilakukan secara hati-hati.
"Prediksi ENSO, yang dikeluarkan di bulan Februari-Maret-April itu memiliki akurasi yang baik hanya sampai 3 bulan. Artinya, prediksi kekuatan El Nino untuk bulan ke 4 dan seterusnya itu harus hati-hati menerjemahkan," jelasnya.
Dengan demikian, menurutnya, peluang El Nino "Godzilla" saat ini masih tergolong kecil dan belum bisa dipastikan akan terjadi.
"Penjelasan kolega BMKG sudah jelas, bahwa peluangnya (El Nino 'Godzila') saat ini masih kecil. Saya bukan ahlinya. Maka saya tanya pada yang kompeten," ucap Khudori.
Sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi Indonesia akan menghadapi fenomena El Nino dengan intensitas kuat atau yang kerap dijuluki "Godzilla" pada tahun ini. Kondisi ini berpotensi membuat musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering, terutama di wilayah barat dan selatan Indonesia.
El Nino sendiri merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator yang berdampak pada penurunan curah hujan di Indonesia. Dalam fase kuat, fenomena ini disebut "Godzilla" karena mampu memicu anomali iklim yang signifikan.
"El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator. Fenomena El Nino, termasuk potensi variasi kuat 'Godzilla', menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering," tulis Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin, dikutip dari unggahan Instagaram resmi @/brin_indonesia, Sabtu (21/3/2026).
Sejumlah model global menunjukkan El Nino mulai berkembang sejak April 2026. Pada saat yang sama, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif juga diperkirakan terjadi dan memperkuat dampak kekeringan di Indonesia.
Dampak dari dua fenomena ini terlihat dari pergeseran pola pembentukan awan. Aktivitas hujan diperkirakan lebih banyak terjadi di Samudra Pasifik, sementara wilayah Indonesia justru mengalami kekurangan awan dan hujan.
"Pembentukan awan dan hujan terkonsentrasi di atas Samudra Pasifik. Sebaliknya, wilayah Indonesia mengalami minim awan dan hujan," tulisnya.
Selain itu, IOD positif yang ditandai dengan pendinginan suhu permukaan laut di sekitar Sumatra dan Jawa turut memperparah penurunan curah hujan, khususnya di wilayah barat Indonesia.
Siaga 1 Ancaman Kekeringan dan Banjir
BRIN memperkirakan kombinasi El Nino dan IOD positif ini akan berlangsung sepanjang musim kemarau, yakni dari April hingga Oktober 2026.
Namun, BRIN menegaskan, kondisi ini diprediksi tidak akan merata di seluruh wilayah Indonesia.
"Dampak super El Nino dan IOD Positif tidak seragam di wilayah Indonesia. Hal ini pernah terjadi pada El Nino dan IOD Positif 2023," tulis BRIN.
Dari sisi wilayah, model prediksi BRIN menunjukkan sebagian besar Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT) akan mengalami kemarau kering lebih dulu. Kondisi ini berpotensi mengganggu sektor pertanian, terutama di wilayah lumbung padi nasional.
Sebaliknya, wilayah timur Indonesia seperti Sulawesi, Maluku, dan Halmahera justru diperkirakan masih akan mengalami curah hujan tinggi meski dalam periode musim kemarau.
(dce)
Addsource on Google


















































