Jakarta, CNBC Indonesia - Perbankan di Indonesia yang ditunjuk untuk melaksanakan transaksi mata uang (ACCD) kini sudah bisa memberikan pelayanan penyelesaian transaksi renminbi China, setelah terbitnya Peraturan Anggota Dewan Gubernur (PADG) 24 Tahun 2026 sejak 14 Agustus 2026.
Peraturan itu turut menetapkan mekanisme pemberian rekomendasi bank ACCD Indonesia sebagai Renminbi Clearing Bank, yang memfasilitasi transaksi renminbi ataupun yuan China langsung dengan rupiah. Bank ACCD Indonesia ini nantinya akan ditunjuk langusng oleh Bank Sentral China (PBOC).
Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono menjelaskan, kebijakan itu ditempuh untuk memperdalam pasar uang dan pasar valas (PUVA) di Indonesia, sekaligus memperkuat kebijakan dalam menjaga stabilitas nilai rupiah melalui penguatan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral.
"Intinya ini suatu kebijakan untuk pendalaman pasar uang dan valas," kata Thomas dalam konferensi pers hasil rapat dewan gubernur BI, Rabu (19/8/2026).
Thomas mengatakan, kebijakan itu juga mempertimbangkan tingginya permintaan renminbi di dalam negeri. Menurutnya, permintaan renminbi di Indonesia kini bahkan telah hampir menyentung proyeksi internal BI yang senilai US$ 40 miliar per tahun atau setara Rp 713,34 triliun.
"Juli aktual permintaan renminbi di pasar domestik setara US$ 38,9 miliar. Proyeksi kami secara internal di BI per tahun US$ 40 miliar, jadi ini per Juli saja sudah hampir 100%, kita masih ada sekitar 5 bulan lagi," tutur Thomas.
Oleh sebab itu, Thomas mengatakan, keberadaan Renminbi Clearing Bank yang kini telah diatur dalam PADG ditujukan untuk memastikan ketersediaan likuiditas renminbi di dalam negeri.
"Kliring Bank ini fungsinya adalah memastikan kesediaan likuiditas renminbi tersebut dan mendorong transaksi rupiah dengan renminbi," ucap Thomas.
Menurut Thomas, secara operasional Renminbi Clearing Bank paling lambat terlaksana pada kuartal IV-2026. Bank Sentral China, yakni People's Bank of China (PBoC) kata Thomas pun telah menunjuk pada tahap awal Clearing Bank yang menjadi tonggak awal operasi di tanah air.
"PBoC sudah memastikan bahwa kliring bank yang pertama adalah Bank of China, tapi kami di BI juga mendorong suatu bank nasional dalam hal ini Bank Himbara, saat ini sedang dalam proses administrasi, sehingga nanti ada dua kliring bank di Indonesia," paparnya.
(arj/arj)
[Gambas:Video CNBC]

















































