Jakarta, CNBC Indonesia - Sedikitnya 20 orang tewas dan lebih dari 80 orang mengalami luka-luka akibat banjir bandang yang melanda Provinsi Nuristan, Afghanistan. Sebanyak 105 orang lainnya masih dilaporkan hilang, sementara banjir menghancurkan permukiman serta pusat kegiatan ekonomi di wilayah pegunungan terpencil tersebut.
Juru bicara Gubernur Nuristan, Feraidon Samim, mengatakan 105 warga yang masih belum diketahui keberadaannya mencakup Wali Kota Parun, ibu kota Provinsi Nuristan.
"Sebanyak 105 orang, termasuk wali kota, dilaporkan hilang," ujarnya pada Senin (21/7/2026), seperti dikutip The Guardian.
Badan Penanggulangan Bencana Nasional Afghanistan menyatakan banjir tersebut telah menimbulkan "kerugian finansial dan korban jiwa yang parah" di Parun. Otoritas setempat saat ini masih berupaya mengevakuasi korban luka serta mencari jasad korban yang meninggal akibat derasnya arus banjir.
Menurut sejumlah jurnalis yang mengenal wilayah tersebut, kawasan pasar, pertokoan, dan berbagai bangunan di Parun memang berada di sepanjang tepian Sungai Parun sehingga sangat rentan diterjang luapan air saat hujan ekstrem.
Sementara itu, Kepala LSM yang berbasis di Parun, Ashiqullah Safi, menggambarkan skala kerusakan yang sangat besar. Ia mengatakan banjir telah "menghancurkan seluruh kota", termasuk hotel dan puluhan toko yang menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat.
Safi menambahkan, banjir juga menyeret bebatuan berukuran besar ke kawasan permukiman sehingga memperumit proses pencarian korban.
"Air bah meninggalkan bebatuan besar di kota, sementara warga mencari orang-orang yang hilang tanpa peralatan," katanya.
Juru bicara utama pemerintah Afghanistan, Zabihullah Mujahid, turut mengonfirmasi laporan mengenai korban jiwa dan kerusakan properti di Nuristan melalui unggahan di platform X.
Bencana ini terjadi hanya beberapa pekan setelah Kepala Badan Perlindungan Lingkungan Afghanistan, Matiul Haq Khalis, memperingatkan bahwa frekuensi banjir di negara tersebut terus meningkat. Menurutnya, persoalan lingkungan "telah sangat memengaruhi rakyat Afghanistan dan telah berkontribusi pada krisis kemanusiaan di negara tersebut."
Dalam beberapa tahun terakhir, hujan dengan intensitas ekstrem makin sering terjadi di berbagai belahan dunia seiring memburuknya krisis iklim. Suhu udara yang lebih hangat membuat atmosfer mampu menampung lebih banyak uap air, sehingga meningkatkan risiko hujan lebat yang memicu banjir dengan dampak lebih dahsyat.
(luc/luc)
Addsource on Google


















































