Bakal Ada Serangan Baru, Israel Minta Warga Iran Jauhi Rel Kereta

6 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat setelah Israel memperingatkan warga Iran untuk menjauhi kereta api dan jalur rel. Peringatan ini muncul seiring indikasi potensi serangan terhadap infrastruktur sipil menjelang berakhirnya tenggat yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Dalam pernyataan resmi di platform X, militer Israel meminta warga Iran untuk tidak menggunakan layanan kereta api hingga pukul 21.00 waktu setempat.

"Demi keamanan Anda, kami mohon agar mulai saat ini hingga pukul 21.00 waktu Iran, Anda menahan diri untuk tidak menggunakan dan bepergian dengan kereta api di seluruh Iran," tulis militer Israel, seperti dikutip Al Jazeera, Selasa (7/4/2026).

Mereka menambahkan, "Kehadiran Anda di kereta api dan di dekat jalur kereta api membahayakan nyawa Anda."

Ancaman ini muncul seiring ultimatum Trump yang menyatakan akan menyerang infrastruktur penting Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik, jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz sesuai tenggat waktu yang ditentukan.

Sebagai respons, Iran memperingatkan akan melancarkan serangan balasan "dahsyat" apabila infrastruktur sipilnya menjadi target.

Sebelumnya, militer Israel mengklaim telah menyelesaikan gelombang serangan udara terbaru yang menyasar sejumlah titik strategis di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Kantor berita semi-resmi Mehr melaporkan, salah satu serangan menghantam bangunan permukiman di pusat kota dan turut menghancurkan sebuah sinagoge di sekitarnya.

Serangan juga dilaporkan menyasar fasilitas petrokimia di ladang gas South Pars, yang dikelola bersama oleh Iran dan Qatar. Konflik yang telah berlangsung lebih dari lima pekan ini dilaporkan menewaskan sedikitnya 2.076 orang di Iran, menurut Kementerian Kesehatan setempat.

Di sisi lain, dampak konflik mulai meluas ke kawasan Teluk. Otoritas Arab Saudi sempat menutup sementara Jembatan King Fahd, penghubung utama antara Arab Saudi dan Bahrain, sebagai langkah antisipasi terhadap potensi serangan Iran. Jembatan sepanjang 25 km tersebut kemudian dibuka kembali setelah situasi dinilai lebih aman.

Sejak konflik pecah pada akhir Februari, Iran dilaporkan telah melancarkan serangan drone dan rudal ke sejumlah target, termasuk Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS.

Sementara itu, Dewan Keamanan PBB dijadwalkan melakukan pemungutan suara terkait resolusi pembukaan blokade Selat Hormuz. Namun, draf terbaru resolusi tersebut tidak lagi mencantumkan opsi penggunaan kekuatan militer, dan berpotensi diveto oleh Rusia maupun China.

Penutupan Selat Hormuz sendiri telah memicu gangguan signifikan pada pasar energi global, mendorong lonjakan harga minyak dan gas serta memaksa sejumlah negara mengambil langkah penghematan energi.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |