- Pasar keuangan RI ditutup kompak melemah baik Rupiah, IHSG, maupun SBN.
- Wall Street ambruk beramaah
- Inflasi AS, pembatasan Pertalite dan rebalancing MSCI Agustus menjadi penggerak utama pasar hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup kompak di zona pelemahan. Bursa saham, surat berharga negara (SBN) dan rupiah melemah di tengah sentimen rebalancing MSCI dan ketidakpastian geopolitik masih menjadi ancam terbesar bagi pasar keuangan Indonesia.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan sedikit lebih lega walaupun masih akan menghadapi tantangan pada hari ini terutama karena perang yang belum menemukan titik terangnya.
Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di zona merah pada perdagangan kemarin, Selasa (11/8/2026). IHSG tertekan dan sempat turun lebih dari 2% pada perdagangan intraday sesi kedua.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia pada penutupan sesi II, IHSG turun 97,49 poin atau 1,53% ke posisi 6.267,88. IHSG dibuka di level 6.383,81. Sepanjang perdagangan kemarin, indeks bergerak di rentang 6.230 hingga 6.388.
Tekanan terhadap IHSG tercermin dari mayoritas saham yang bergerak turun. Sebanyak 148 saham menguat, 567 saham melemah, dan 248 saham stagnan.
Total volume perdagangan mencapai 34,01 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp 14,48 triliun. Sementara frekuensi transaksi tercatat sebanyak 2,16 juta kali.
Pada perdagangan kemarin, terpantau asing membukukan net foreign outflow sebesar Rp 687,84 miliar di all market dan mencatatkan net foreign sell di pasar reguler sebesar Rp 279,98 miliar.
Sehingga apabila data ditarik secara year-to-date bursa saham mengalami net foreign outflow sebesar Rp 71,15 triliun di all market dan Rp 95,65 triliun di reguler market.
Nyaris seluruh sektor saham tercatat berada di zona merah, kecuali sektor kesehatan yang menguat tipis.
Dari jajaran saham berkapitalisasi besar, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menjadi salah satu penekan utama IHSG.
DCII berada di level Rp196.500 per saham, turun 4,66%. Pergerakan saham ini memberikan tekanan terbesar terhadap IHSG, dengan kontribusi penurunan sekitar 11 poin. Adapun total transaksi di saham DCII kemarin hanya Rp 242 juta dari total 12 lot transaksi.
Selain DCII, saham Bank Central Asia (BBCA), Amman Mineral Internasional (AMMN), Bank Mandiri (BMRI) dan VKTR Teknologi Mobilitas (VKTR) ikut membebani kinerja IHSG kemarin.
Di sisi lain, sejumlah saham masih mampu memberikan kontribusi positif terhadap IHSG. Indosat (ISAT) menjadi penyumbang kenaikan terbesar dengan kontribusi sekitar 0,96 poin, diikuti Kalbe Farma (KLBF) 0,93 poin, dan Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) 0,86 poin.
Pergerakan IHSG kemarin masih dibayangi sejumlah sentimen yang datang dari domestik maupun global.
Lanjut ke mata uang Garuda, Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (11/8/2026), sekaligus mematahkan tren penguatan selama empat hari perdagangan sebelumnya.
Merujuk data Refinitiv, rupiah terdepresiasi 0,45% ke posisi Rp17.830/US$ pada perdagangan Selasa kemarin. Setelah di perdagangan sebelumnya, Senin (10/8/2026), mata uang Garuda ditutup menguat 0,75% ke level Rp17.750/US$.
Tekanan terhadap rupiah telah terlihat sejak awal perdagangan. Rupiah dibuka melemah 0,17% di posisi Rp17.780/US$, kemudian bergerak dalam rentang Rp17.770-Rp17.850/US$ sepanjang hari.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,07% ke posisi 99,883.
DXY berbalik menguat setelah pada pagi hari sempat melemah 0,06%. Pergerakan tersebut melanjutkan kenaikan sebesar 0,27% yang dibukukan indeks dolar pada perdagangan sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah berlangsung ketika pelaku pasar menantikan pengumuman inflasi konsumen AS periode Juli pada Rabu (12/8/2026) waktu setempat. Data tersebut akan menjadi petunjuk terbaru dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).
Dolar AS sebelumnya mendapat dukungan dari harga minyak yang naik lebih dari 4% kemarin. Harga energi meningkat setelah Iran dan AS saling mengajukan tuntutan kompensasi, yang memperkecil harapan tercapainya kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat.
Kenaikan harga minyak kembali memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi AS. Meski demikian, ruang penguatan dolar masih dibatasi oleh data ketenagakerjaan yang jauh lebih lemah dari perkiraan.
Pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sebesar 52%, turun dari 67% sepekan sebelumnya.
Sementara dari sisi Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil obligasi 10 tahun Indonesia mengalami kenaikan. Hal ini mengindikasikan investor lebih cenderung melakukan penjualan dibandingkan pembelian di pasar obligasi.
SBN bergerak ke level 7.226% pada perdagangan kemarin, di mana pada hari sebelumnya imbal hasil SBN 10 tahun terpantau ditutup pada level 7.188%


















































