Jakarta -
Ramadan kali ini terasa berbeda bagi Anisa Saharia (16). Setelah tahun sebelumnya dijalani di rumah kontrakan sederhana di Desa Oeteta, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini, untuk pertama kalinya Anisa menjalani ibadah puasa di Sekolah Rakyat.
Anisa adalah satu-satunya siswa muslim di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang. Meski demikian, menjadi satu-satunya bukan berarti tersisihkan. Siswa ini justru menunjukkan sikap toleransi dan peduli.
Hal tersebut tampak dari inisiatif beberapa siswa non-muslim yang bangun lebih awal untuk membangunkan Anisa dan membersamainya saat makan sahur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anisa bangun, sudah waktunya sahur," begitulah Anisa menirukan suara teman-teman yang membangunkannya saat sahur, dikutip dalam keterangan tertulis, Senin (16/3/2026).
Anisa bercerita selama Ramadan ia biasa bangun jam 03.00 hingga 03.30 WITA untuk sahur. Makanan untuk sahur biasanya telah tersedia di ruang makan atau juga dibawakan ke asrama.
"Kalau sahur, kadang terlambat dibangunkan teman-teman. Terus kadang juga ditemani makan sahur oleh teman-teman," kata Anisa.
"Setelah itu saya salat subuh," sambungnya.
Untuk mengisi kegiatan selama Ramadan, Anisa didampingi salah satu wali asuh juga mengikuti kegiatan di luar sekolah yaitu pesantren kilat di salah satu sekolah di Kupang.
Di sana, Anisa belajar banyak hal, seperti cara ibadah salat, belajar berdoa, dan berwudu.
Di samping itu, Anisa juga tetap mengikuti kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler di Sekolah Rakyat seperti biasa. Padatnya kegiatan di tengah berpuasa, tidak membuat Anisa lemas dan tetap semangat.
Berkat dukungan dari teman-temannya, Anisa tidak mengalami kendala sama sekali dalam berpuasa.
"Bisa berpuasa, karena didukung teman. Mereka juga menghargai saya puasa," kata Anisa.
"Mereka tidak pernah makan di depan saya, Pak," imbuhnya.
Selain menjalani sahur ditemani teman-temannya yang non-muslim. Anisa juga terkadang berbuka bersama siswa lainnya. Momen terakhir adalah saat teman-temannya dari OSIS SRMP 19 Kupang menyiapkan kegiatan buka bersama untuk Anisa.
Keindahan toleransi di Sekolah Rakyat tergambar dalam momen buka bersama ini, Anisa berkesampatan berbagi cerita pengalamannya selama ibadah puasa Ramadan serta memimpin doa, tidak ada sekat, yang ada hanya kebersamaan.
"Teman-teman kasih dukungan bilang semangat puasa Anisa," ujar Anisa.
Salah satu guru SRMP 19 Kupang, Maria Cindayani Rosari Limun (25), membagikan kesaksiannya bagaimana toleransi yang ditunjukkan siswa membuat Anisa merasa tidak tersisih.
"Teman-teman yang satu asrama dengan Anisa itu berinisiatif. Ada memang satu-dua anak yang bangun yang lebih pagi, sehingga berinisiatif membangunkan Anisa saat sahur," kata Maria.
Lebih lanjut, Maria menambahkan saat bulan Ramadan ini, dibandingkan teman-temannya, justru Anisa yang paling semangat mengikuti kegiatan di sekolah.
"Masih ikut kegiatan, malah lebih semangat lagi. Teman-temannya sangat semangat, dia juga ikut semangat," kata Maria.
"Semua kegiatan kokurikuler, pembelajaran, bahkan sampai ekstrakurikuler, dia ikuti semua," pungkasnya.
(prf/ega)


















































