Jakarta -
Iran menolak tawaran rencana damai dari Amerika Serikat (AS) yang menyodorkan 15 butir perjanjian. Lalu, kenapa Iran menolak tawaran tersebut?
Pakar hubungan internasional, Teuku Rezasyah menyebut 15 butir rencana dari AS tersebut mengecilkan harga diri Iran. Selain itu, AS juga telah dinilai Iran selalu merusak perjanjiannya sendiri.
"(Isi) 15 butir pemikiran AS tersebut jelas-jelas mengerdilkan harga diri Iran sebagai sebuah bangsa yang berdaulat dan memiliki peradaban agung berusia 4.000 tahun," ujar Rezasyah kepada wartawan, Jumat (27/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari pengalaman berunding dengan AS selama ini, terbukti AS senantiasa merusak kesepakatan tersebut. Mulai dari menarik diri secara sepihak, hingga memerangi Iran yang menjunjung tinggi hukum internasional," tambahnya.
Reza juga menduga inisiatif AS tersebut hanyalah kampanye guna menaikkan kredibilitas AS di dalam dan luar negeri. Diduga tawaran damai dengan Iran itu sebagai upaya mencegah pemakzulan dan memulihkan ekonomi nasional yang sedang turun drastis.
"Sekaligus pula sebagai wahana memulihkan kepemimpinan global AS yang sedang dikritisi oleh para sekutunya sendiri," katanya.
Lalu, ia juga menilai rencana Presiden AS Donald Trump tersebut juga berpotensi memecah belah pemerintah Iran dan masyarakat Iran.
"Sehingga merusak kepaduan nasional dalam memenangkan perang melawan AS dan Israel," ujarnya.
Apa isi 15 butir rencana perdamaian yang digagas Trump?
BBC belum memperoleh akses terhadap dokumen rencana yang diklaim Trump telah dikirimkan kepada Iran. Tidak ada pula konfirmasi resmi mengenai isinya. Namun, sejumlah media internasional mulai mengungkap beberapa detail.
Menurut saluran berita Israel, Channel 12, rencana tersebut mencakup sejumlah persyaratan berikut:
Proposal tersebut meminta Iran untuk "berkomitmen untuk tidak pernah mewujudkan senjata nuklir", berjanji membongkar fasilitas nuklir, dan menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya kepada Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) badan pengawas nuklir PBB.
Menurut proposal itu, Iran harus menyetujui pembatasan program rudalnya, baik dari segi jangkauan maupun jumlah.
Selain itu, Iran harus berhenti mendanai kelompok-kelompok proksi di kawasan Timur Tengah, Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, dan Houthi di Yaman.
Iran juga akan diwajibkan membuka kembali Selat Hormuz agar dapat berfungsi sebagai "koridor maritim bebas".
Penutupan Selat Hormuz, tempat kapal-kapal pembawa sepertiga pasokan minyak dan gas dunia melintas, telah membuat harga BBM melambung dan memicu kekhawatiran resesi ekonomi global.
Iran gempur pangkalan militer AS sampai menimbulkan kerusakan senilai Rp 13,5 triliun, menurut analisis terbaru
Sebagai balasannya, AS akan membantu mengembangkan proyek nuklir di Bushehr untuk memasok keperluan listrik bagi warga sipil.
Lalu, menurut rencana tersebut, semua sanksi internasional terhadap Iran akan dicabut.
Sanksi penuh diberlakukan kembali pada November lalu setelah Iran menangguhkan inspeksi fasilitas nuklirnya menyusul pengeboman beberapa lokasi nuklir dan pangkalan militer oleh AS dan Israel.
Saksikan Live DetikPagi :
(azh/jbr)


















































