Jakarta, CNBC Indonesia - Para negosiator dari Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat (AS) berkumpul di Abu Dhab, Uni Emirat Arab (UEA), pada Rabu (4/2/2026). Pertemuan ini guna memajukan pembicaraan yang sulit mengenai cara mengakhiri perang yang telah berlangsung selama empat tahun.
Dalam diskusi ini, delegasi Ukraina dipimpin oleh Kepala Dewan Keamanan Rustem Umerov. Ia adalah negosiatoryang dipuji oleh rekan-rekannya sebagai pembuat "keajaiban" diplomatik.
Lalu, negosiator utama Rusia adalah Direktur Intelijen Militernya Igor Kostyukov. Ia adalah seorang perwira angkatan laut karir yang dijatuhi sanksi oleh Barat atas perannya dalam invasi Ukraina.
Titik buntu utama adalah nasib jangka panjang wilayah di Ukraina timur. Moskow menuntut agar Kyiv menarik pasukannya dari sebagian besar wilayah Donbas, termasuk kota-kota berbenteng kuat yang berada di atas sumber daya alam yang luas, sebagai prasyarat kesepakatan apapun.
Dalam pertemuan tersebut, Moskow kembali menuntut Kyiv menerima syarat-syaratnya untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung 4 tahun dan bersumpah akan melanjutkan invasinya jika tidak dipenuhi, ketika perundingan antara kedua pihak dibuka di Abu Dhabi.
"Posisi kami sudah sangat jelas," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, dilansir AFP. "Sampai rezim Kyiv membuat keputusan yang tepat, operasi militer khusus akan terus berlanjut."
Rusia juga menginginkan pengakuan internasional bahwa tanah yang disita dalam invasi adalah milik Rusia. Sebaliknya, Kyiv menyatakan bahwa konflik harus dibekukan di sepanjang garis depan saat ini dan menolak penarikan pasukan secara sepihak.
Rusia, yang menduduki sekitar 20% wilayah tetangganya, telah mengancam akan merebut sisa wilayah Donetsk jika pembicaraan gagal. Ukraina telah memperingatkan bahwa menyerahkan wilayah akan membuat Moskow semakin berani dan tidak akan menandatangani kesepakatan yang gagal mencegah Rusia untuk menyerang lagi.
Kyiv masih menguasai sekitar seperlima wilayah Donetsk. Dengan kecepatan kemajuan Rusia saat ini, dibutuhkan waktu 18 bulan lagi bagi tentara Moskow untuk menaklukkan semuanya, menurut analisis AFP, namun area yang tersisa di bawah kendali Ukraina mencakup pusat-pusat kota yang dibentengi dengan sangat kuat.
Rusia juga mengeklaim wilayah Lugansk, Kherson, dan Zaporizhzhia sebagai miliknya, serta menguasai kantong-kantong wilayah di setidaknya tiga wilayah Ukraina lainnya di timur. Mayoritas publik Ukraina menentang kesepakatan yang menyerahkan tanah kepada Moskow demi perdamaian, menurut jajak pendapat.
Banyak warga Ukraina menganggap ide penyerahan wilayah yang telah dipertahankan tentara mereka selama bertahun-tahun sebagai hal yang tidak masuk akal. Di medan perang, Rusia terus mencatatkan kemajuan dengan biaya manusia yang sangat besar, berharap dapat bertahan lebih lama dan mengalahkan tentara Kyiv yang mulai kelelahan.
Di sisi lain, pembicaraan dilakukan saat Rusia melancarkan serangan besar-besaran drone dan rudal yang menghantam jaringan energi Ukraina serta memutus aliran listrik dan pemanas di tengah suhu jauh di bawah titik beku. Hal ini mengancam prospek kemajuan di ibu kota Emirat tersebut.
"Setiap serangan Rusia seperti itu mengonfirmasi bahwa sikap di Moskow tidak berubah: mereka terus bertaruh pada perang dan penghancuran Ukraina, dan mereka tidak menganggap serius diplomasi," kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada hari Selasa.
"Pekerjaan tim negosiasi kami akan disesuaikan sebagaimana mestinya," tambahnya tanpa merinci lebih lanjut.
Zelensky terus mendesak sekutu Barat untuk meningkatkan pasokan senjata mereka serta memberikan tekanan ekonomi dan politik pada Kremlin untuk menghentikan invasi. Ratusan ribu orang kehilangan pemanas dan listrik di ibu kota Ukraina tahun ini setelah serangan besar-besaran Rusia merusak parah jaringan energi Kyiv.
Sementara itu, dari warga Ukraina, masih ada yang pesimis pertemuan Abu Dhabi ini akan menghasilkan poin konkret menuju penghentian perang. Beberapa mengatakan. semua hanya pertunjukan untuk publik.
"Kita harus bersiap untuk yang terburuk dan berharap yang terbaik," kata Petro, seorang penduduk Kyiv.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]
















































