Aksi Sosial Iptu Nyarna di Bengkulu: Gerakan Sedekah hingga Bedah Rumah

5 days ago 3
Jakarta -

Iptu Nyarna hadir sebagai polisi yang tak hanya menjaga keamanan, tapi juga terlibat dalam aksi kemanusiaan membantu warga. Prinsip menjadi manusia yang bermanfaat menjadi motivasi Kapolsek Kampung Melayu, Bengkulu itu terus melayani masyarakat.

Atas dedikasinya, Iptu Nyarna diusulkan dalam program Hoegeng Awards 2026 oleh Karimullah selaku Lurah Kandang Mas, Kampung Melayu, Bengkulu. Iptu Nyarna dinilai sebagai sosok polisi yang inovatif dan produktif dalam menjalankan kegiatan kemasyarakatan.

"Pak Nyarna saya nilai adalah sosok anggota Polri yang sangat peduli, sangat peduli dengan masyarakat. Dan yang terpenting adalah beliau sangat men-support program-program dari Pemerintah Pusat, apalagi terkait dengan ketahanan pangan gitu," kata Karimullah saat dihubungi beberapa waktu lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam melaksanakan kegiatan tersebut, Iptu Nyarna kerap berkomunikasi dengan sejumlah pihak. Menurut Karimullah, Iptu Nyarna merupakan penggerak bagi program ketahanan pangan di wilayahnya.

"Jadi sosok Pak Nyarna ini beliau menggandeng kelompok tani di wilayah kerja beliau di Kampung Melayu dalam rangka untuk meningkatkan ketahanan pangan," ujar Karimullah.

Selama berinteraksi, Karimullah mengenal Iptu Nyarna sebagai sosok polisi yang humanis dan dekat dengan warga. Bagi Karimullah, Iptu Nyarna benar-benar menjalankan visi 'Polri untuk masyarakat'.

"Alhamdulillah banyak masyarakat saya yang sangat bersimpati dengan beliau, yang sangat menyukai," tutur dia.

Kesaksian mengenai sosok Iptu Nyarna juga disampaikan oleh Kepala UPTD Panti Sosial Bengkulu, Timor Diyanto. Dia mengenal Iptu Nyarna saat bekerja sama melaksanakan program lansia Perjaka (perkebunan, rohani, jangkrik, kambing dan ayam).

"Kenapa saya memang betul-betul tahu dengan Iptu Nyarna dalam artian karena saya sudah berkolaborasi bersama, termasuk yang program terutama yang program saya tadi, apa namanya itu Lansia Perjaka itu sampai saat ini itu terus berjalan gitu," kata Timor saat dihubungi terpisah.

Timor menjelaskan Perjaka merupakan program pemberdayaan bagi lansia di panti agar mereka tidak merasa bosan selama di tempat tersebut. Sebanyak 85% penghuni panti lansia mengikuti program tersebut.

"Jumlah kita 75 (orang) waktu itu. Kalau untuk detik ini 65 orang," kata dia.

Program ini memanfaatkan lahan kosong yang ada di UPTD. Para lansia bisa memanfaatkan waktunya untuk berkebun hingga terlibat mengurus ternak.

"Jadi ada lahan-lahan yang sekitaran wisma mereka tempat tinggal, udah itu juga ada yang di belakang, itu dimanfaatkan gitu dengan kakek-nenek yang ingin minatnya berkebun. Yang minatnya berkebun itu ya, misal kakek ini, salah seorang kakek misalnya dia mau nanam apa misalnya, nanam kacang panjang misalnya kan. Jadi kita kasih bibit kacangnya, kita kasih cangkulnya gitu," kata dia.

Timor mengatakan program Perjaka masih berjalan sampai saat ini. Perihal urusan pembiayaan, program ini murni tidak menggunakan dana APBD.

"Memang sumbernya dari Mas Nyarna gitu. Dan saya lihat itu juga kayaknya Mas Nyarna ini karena dia memang, kayak kambing itu, kambing ternak, dia kasih gitu awalnya dulu empat ekor," imbuh Timor.

Cerita Iptu Nyarna

Pada program Hoegeng Corner 2025, Iptu Nyarna menceritakan awal mula dirinya terlibat dalam sejumlah aksi sosial di Bengkulu. Program pertama yang digagasnya yaitu bedah rumah warga, ketika dia masih menjadi bintara.

Program itu dijalankan oleh Nyarna di mana pun dia bertugas. Bahkan sejak 2010 sampai saat ini, ada sekitar 100 rumah yang sudah direnovasi oleh Nyarna dan tim.

"Setiap saya dinas di manapun, itu andalan saya, karena wujud syukur. Di manapun saya dinas, saya gerak," ujar Nyarna.

Mekanisme program bantuan bedah rumah itu berawal dari usulan masyarakat. Kemudian Iptu Nyarna dan tim melakukan survei dan menghubungi tokoh masyarakat setempat untuk menanyakan layak atau tidaknya rumah itu direnovasi.

"Kadang kita terjun ke lapangan menemui lurah, nanti minta orang yang layak kita bedah, nanti kita survei dulu, kalau layak baru kita laporkan. Kalau di Polres Kapolres, kalau Polda Pak Irwasda," ujar Nyarna.

Adapun dana yang digunakan yaitu berasal dari para donatur. Selain itu, Nyarna juga sempat menggerakkan hari sedekah saat bertugas di Polres.

"Dari hari sedekah, terus donatur, sebagian uang saya, sebagian kecil. Baznas kota, Baznas provinsi. Terus ketemu developer, syaratnya pelaksananya saya, kalau pelaksanaannya saya, percaya," imbuh Nyarna.

Tim yang bertugas membantu Nyarna dalam melaksanakan program bedah rumah merupakan tim informal. Namun dia tetap melaporkan setiap perkembangan apa pun kepada atasannya.

"Kita laporan ke pimpinan, ada pertanggungjawabannnya, ada laporan," kata dia.

Sedangkan bentuk pertanggungjawaban kepada para donatur yang telah menyumbang, Nyarna biasanya selalu mengundang mereka di peletakan batu pertama. Bahkan beberapa di antara mereka kaget dengan hasil perbaikan rumah tersebut.

"Ada tim, bukan saya, yang terima bukan saya, itu ada bendaharanya. Masyarakat itu saya ajak membantu barang, ada masyarakat yang satu sak semen, kadang masyarakat bilang 'Nggak usah disebutkan, yok antar ke lokasi, saya bantu dua mobil', akhirnya jadi. Itu spontan," ujar dia.

Untuk menentukan pihak yang akan menggarap pembangunan, Nyarna bekerja sama dengan pihak lain. Proses renovasi pun melibatkan tenaga handal agar hasilnya berkualitas.

"Kita pakai kepala tukang, yang sudah profesional. Kan kita kerja sama dengan developer," kata Nyarna.

Atas dedikasinya tersebut, Nyarna mendapatkan apresiasi dari Kapolda Bengkulu dan mengikuti sekolah perwira pada 2017. Masa pendidikannya di Setukpa Polri pun juga dimanfaatkan oleh dia untuk mengabdi kepada masyarakat.

"Saya mencari orang-orang miskin. Setelah saya dapat dari dinas, sembako-sembako, itu saya ke pesantren-pesantren, ke orang-orang itu ngasih bantuan kepada tim. Akhirnya saya bisa membangun empat rumah, waktu di SIP itu. Dana dari sumbangan sukarela itu," kata Nyarna.

Alasan utama Nyarna menjalankan program bedah rumah karena pengalamannya dulu tinggal di rumah bambu. Membantu masyarakat kini menjadi wujud rasa syukurnya.

"Dulu rumah saya bambu, lantainya lantai dari tanah, terus dindindingnya dari bambu, terus kalau hujan tuh bocor. Ya alhamdulilah mulus, rasa syukur saya jadi polisi. karena Bapa/Ibu saya nggak lulus SD, baca tulis nggak bisa. Itu wujud rasa syukur," imbuh dia.

Aksi Sosial Iptu Nyarna

Tak hanya program bedah rumah, banyak juga aksi sosial lainnya yang dijalankan oleh Iptu Nyarna. Dia pernah memberikan peralatan bengkel, peralatan salon perempuan hingga membuat sumur bor di rutan dan lapas Bengkulu.

"Kalau itu panggilan hati, waktu saya main ke rutan setiap ada rutan, kita buat untuk mereka bekal ketika mereka nanti keluar. Saya buatkan salon perempuan, sama sumur bor, karena di situ nggak ada air sumur bor," ujar Nyarna.

Nyarna juga membuat program Perjaka (perkebunan, rohani, jangkrik, kambing dan ayam) di panti lansia. Menurut dia, para lansia di panti itu memerlukan sentuhan bantuan.

"Kalau di panti jompo itu saya membuat program Perjaka, perkebunan yang orang-orang jompo di panti itu saya buatkan, itu saya kasih kambing, terus kasih jangkrik, pengembangan jangkrik, saya kasih ayam, itu sekarang berhasil," ujar dia.

Hal lain yang dilakukan Iptu Nyarna yaitu membantu masyarakat untuk membangun jembatan. Saat menjabat sebagai Kapolsek, dia menerima laporan soal jembatan darurat yang roboh.

"Saya langsung terjun ke lampung ternyata di wilayah saya ada salah satu jembatan yang itu nggak layak, orang itu bahaya, maka saya perbaiki secara gotong royong, semuanya ikut akhirnya bisa dilewati sampai sekarang," tutur dia.

Nyarna menjelaskan alasan dirinya selalu terlibat dalam aksi-aksi sosial. Dia ingin menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat.

"Ini kan panggilan hati, kan manusia yang bermanfaat adalah manusia yang berguna bagi orang lain, dan kita membantu orang itu kepuasan batin. Itu panggilan hati, saya keliling orang miskin, kita bersyukur," imbuhnya.

(knv/lir)


Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |