Akhir Pekan Penuh Ketidakpastian, 9 Kabar Ini Bikin Pasar Tegang

3 hours ago 4
  • Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam, bursa saham melemah sementara rupiah menguat
  • Wall Street ambruk
  • Data ekonomi dalam dan luar negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam pada perdagangan kemarin. Bursa saham menguat sementara rupiah melemah.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak menguat pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan penguatan dan ditutup melemah tipis pada perdagangan Kamis (6/8/2026). Meski dibayangi sederet sentimen positif dari dalam dan luar negeri, tekanan jual masih membatasi laju pasar saham domestik.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup turun 0,12% ke level 6.343,71. Sepanjang hari kemarin, indeks bergerak fluktuatif di rentang 6.324 hingga sempat menyentuh level tertinggi 6.388.

Aktivitas perdagangan terbilang ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp18,18 triliun. Sebanyak 265 saham menguat, 337 saham melemah, dan 192 saham stagnan.

Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 273,47 miliar pada perdagangan kemarin.

Dari sisi sektoral, utilitas, industri, dan konsumer primer menjadi penopang utama indeks. Sebaliknya, saham-saham kesehatan, teknologi, properti, dan keuangan berada di zona merah dan menekan pergerakan IHSG.

Dari pasar mata uang, rupiah ditutup menguat 0,08% ke level Rp17.910/US$ pada Kamis (6/8/2026). Penguatan ini melanjutkan reli sehari sebelumnya ketika rupiah melesat 0,50% setelah data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 melampaui ekspektasi pasar.

Sepanjang hari, pergerakan rupiah relatif stabil di kisaran Rp17.890-Rp17.922 per dolar AS.

Menariknya, penguatan rupiah terjadi saat indeks dolar AS berbalik naik. Pada pukul 15.00 WIB, DXY tercatat menguat tipis 0,07% ke posisi 99,749.

Sentimen utama yang menopang rupiah berasal dari optimisme pelaku pasar terhadap ekonomi domestik setelah pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tercatat lebih kuat dari perkiraan. Kondisi ini memperkuat keyakinan investor terhadap prospek ekonomi nasional dan menjaga aliran modal ke pasar keuangan Indonesia.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun stagnan di 7,270%.

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |