Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak fasilitas energi di kawasan Timur Tengah terdampak dari perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang sudah memasuki waktu 24 hari, di mana secara rata-rata merupakan ladang minyak dan gas (migas) yang mengalami kerusakan.
Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA), Fatih Birol melaporkan setidaknya ada 40 fasilitas energi di sembilan negara Timur Tengah mengalami kerusakan parah sejak perang Iran vs AS-Israel dimulai, menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan.
Dalam National Press Club di Australia, Birol mengatakan bahwa kerusakan pada ladang minyak dan gas, kilang, dan jalur pipa di seluruh Timur Tengah akan membutuhkan waktu lama untuk diperbaiki.
"Perang Iran telah sangat mengganggu arus perdagangan energi melalui Selat Hormuz yang sangat penting dan strategis, menciptakan apa yang menurut kami merupakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Pasokan gas alam cair (LNG) global juga telah berkurang sekitar 20% sejak konflik dimulai pada 28 Februari lalu," kata Birol, dikutip dari CNBC International, Senin (23/3/2026).
Birol menambahkan dampak dari perang tersebut setara dengan dua krisis minyak besar pada 1970-an dan krisis gas 2022 lalu.
"Jika boleh saya katakan, bukan hanya minyak dan gas. Beberapa jalur vital ekonomi global, seperti petrokimia, pupuk, belerang, dan helium. Perdagangan mereka semua terganggu, yang akan berdampak serius bagi ekonomi global," lanjutnya.
Apalagi, adanya ancaman Presiden AS Donald Trump yang akan menghancurkan pusat pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tak kunjung dibuka, membuat banyak pihak semakin khawatir.
"Jalur air yang sempit ini merupakan koridor maritim utama yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. Sekitar 20% dari produksi minyak dan gas global biasanya melewati jalur ini," jelasnya.
Secara terpisah, Juru Bicara Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan infrastruktur penting dan fasilitas energi di wilayah Teluk dapat hancur permanen jika pembangkit listrik Iran diserang.
"Kalau fasilitas listrik diserang, maka fasilitas energi lainnya di kawasan Teluk dapat hancur permanen, ini bahaya sekali," kata Baqer.
Mengingat bahwa pengiriman cepat terhenti di Selat Hormuz sejak konflik dimulai, Birol mengatakan bahwa pembukaan kembali jalur air tersebut menjadi solusi terpenting untuk mencegah terjadinya krisis energi global.
Ia menyebut Asia sebagai wilayah yang paling terdampak pertama krisis energi akibat perang Iran. Oleh karena itu, pihaknya telah melakukan pelepasan sebanyak 400 juta barel minyak ke pasar pada 11 Maret lalu.
"Jika memang perlu, tentu saja kami akan melakukannya," katanya.
(hoi/hoi)
Addsource on Google


















































