Wall Street Pesta Pora, RI Masih Cemas Tunggu Data Pertumbuhan Ekonomi

17 hours ago 5
  • Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam, bursa saham menguat sementara rupiah melemah
  • Wall Street mencetak rekor penutupan tertinggi
  • Data pertumbuhan ekonomi dalam negeri hingga perkembangan data luar negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia  - Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam, bursa saham menguat sementara nilai tukar rupiah melemah.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan berakhir positif  pada hari ini. Selengkapnya mengena proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit dan ditutup melesat 1,37% ke 6.319,61 pada perdagangan Selasa (4/8/2026). Reli tajam saham-saham perbankan dan blue chip menjadi motor utama penguatan indeks, terutama menjelang penutupan perdagangan.

Aktivitas perdagangan juga terbilang ramai. Volume transaksi mencapai 33,48 miliar saham dengan nilai Rp12,95 triliun.

Sebanyak 399 saham menguat, 224 melemah, dan 170 stagnan. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) pun naik menjadi Rp11.054,63 triliun.

Investor asing mencatat net buy sebesar Rp 623,48 miliar.

Saham-saham bank jumbo menjadi penopang utama reli IHSG. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) memimpin penguatan dengan lonjakan 3,98% ke Rp3.660 per saham.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyusul dengan kenaikan 3,17% ke Rp6.500 per saham.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menguat 2,16%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) naik 1,32%, sementara PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) bertambah 1,24%. Saham PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) juga ditutup di zona hijau dengan kenaikan 0,24%.

Tak hanya perbankan, sejumlah saham blue chip lain ikut menopang indeks. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) naik 1,82%, PT Astra International Tbk (ASII) menguat 1,49%, sedangkan PT United Tractors Tbk (UNTR) bertambah 0,84%.

Dari sisi sentimen, pasar mendapat dorongan positif dari data ekonomi domestik.

Inflasi tahunan Indonesia melandai menjadi 2,88% pada Juli 2026 dari 3,34% pada bulan sebelumnya.

Di saat yang sama, PMI Manufaktur Indonesia kembali ekspansif ke level 50,2, melonjak dari 46,9 pada Juni dan menjadi yang tertinggi sejak Februari 2026.

Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah gagal mempertahankan tren positifnya dengan ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Mata uang Garuda pun kembali berada di atas level psikologisnya.
Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Selasa (4/8/2026), rupiah terdepresiasi 0,19% ke posisi Rp18.015/US$.

Pelemahan tersebut sekaligus memutus penguatan rupiah selama dua hari perdagangan sebelumnya.

Tekanan rupiah kemarin ini sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan. Pagi tadi, mata uang Garuda dibuka melemah 0,11% ke posisi Rp18.000/US$, kemudian sempat tertekan lebih dalam hingga menyentuh Rp18.045/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,10% dan bertahan di sekitar level 100.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melandai ke 7,36% pada perdagangan Selasa kemarin, dari 7,377% pada hari sebelumnya.

Imbal hasil yang melandai menandai adanya permintaan pembelian SBN yang meningkat sehingga harganya menguat.

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |