Jakarta, CNBC Indonesia- Direktur Utama PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI), Anton Hermawan memastikan daya tahan bank digital menghadapi gejolak ekonomi dan geopolitik global.
Di tengah ancaman kenaikan inflasi dan ditahannya suku bunga acuan bank sentral global termasuk Bank Indonesia, perbankan dituntut untuk dapat menjaga likuiditas dan memperluas sumber pertumbuhan kredit.
Bank Digital seperti Krom Bank membutuhkan likuiditas yang cukup besar dan dalam waktu besar sehingga penawaran suku bunga yang tinggi menjadi strategi bank digital untuk menarik investasi maupun dana pihak ketiga (DPK). Dimana Krom Bank menyasar nasabah pada generasi muda yang cukup memahami dan membutuhkan imbal hasil dari interest rate yang optimal.
Di sisi lain, bank digital dituntut untuk mendorong penyaluran kredit dengan performa kredit yang terjaga. Dalam menjaga daya saing bank digital dengan bank konvensional hingga fintech, Bank digital dituntut untuk dapat memiliki produk yang tidak bertentangan dengan bisnis digital dan segmen nasabah yang tepat.
Dari sisi pemerintah dan otoritas, perbankan menghadapkan keselarasan regulasi antara pemerintah dan regulator agar dapat menjaga kepercayaan terhadap perbankan sekaligus disesuaikan dengan kebutuhan industri.
Seperti apa tantangan dan strategi bank hadapi ketidakpastian 2026? Selengkapnya simak dialog Andi Shalini dengan Direktur Utama PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI), Anton Hermawan dalam Power Lunch, CNBC Indonesia (Senin, 04/05/2026)
Add
source on Google
















































