The Fed Makin 'Galak', Harga Perak Merana

4 hours ago 4

Review Sepekan

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia

30 August 2026 08:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga perak merana sepanjang pekan ini, setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) menunjukkan sikap hawkish untuk pertama kalinya pada periode kepemimpinan Kevin Warsh pada pidatonya di Jackson Hole.

Merujuk Refinitiv, harga perak di perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (28/8/2026) ditutup di posisi US$66,35 per troy ons, ambruk 4,19% dari perdagangan sehari sebelumnya. Sepanjang pekan ini, harga perak merosot 3,79% secara point-to-point (ptp).

Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) kembali mengejutkan pasar global, setelah Ketua The Fed Kevin Warsh mulai bersikap hawkish. Warsh masih melihat risiko inflasi sebagai persoalan serius.

Melansir The Wall Street Journal (WSJ), Warsh mengatakan The Fed mungkin masih perlu "berusaha lebih keras" untuk mengendalikan inflasi. Pernyataan ini membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed September mendatang.

Para pelaku pasar memproyeksikan kenaikan suku bunga bulan September setelah Warsh mengatakan bahwa The Fed akan " memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan " jika para pembuat kebijakan tidak yakin bahwa inflasi inti kembali ke target 2%, yang menandai pernyataan terdekatnya untuk mengakui bahwa kenaikan suku bunga mungkin diperlukan untuk meredakan tekanan harga.

Para pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada bulan September sebesar 58%, dibandingkan dengan 36% sebelum komentar Warsh, dan peluang kenaikan pada bulan Desember sebesar 89%, menurut alat CME FedWatch.

Seperti halnya emas, perak juga cenderung kehilangan daya tariknya dalam lingkungan suku bunga tinggi karena tidak menawarkan imbal hasil.

CNBC INDONESIA RESEARCH

(chd/chd)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |